Cinta Seribu Musim
Ada yang lebih puitis selain purnama semalam
Hujan yang manis, kabarkan tentang degup api
Di dada putih, angin berhembus tertatih-tatih
Ini cinta tanpa dimensi, tanpa perjalanan emosi
menanti kata tanpa tanda, tanpa rayuan
Mekarlah mekar mawar di temaram kamar
Kucandu merindu-rindu hangat kujelma bidadari
di jantung bulan kabisat, kau nyala sendiri
Kini, dapatkah ciumku sampai di kotamu
Sedang aku lungkrah di kaki senja
saat hujan yang puitis semanis cinta
beribu musim
Maret, 2014
Sumber: Suara Karya (14 Maret 2015)
Analisis Puisi:
Puisi "Cinta Seribu Musim" karya Weni Suryandari adalah sebuah karya puitis yang mempersembahkan keindahan cinta melalui imaji-imaji alam dan romantisme malam. Puisi ini menciptakan suasana yang menggoda dan menyentuh dengan pemilihan kata yang indah.
Purnama Semalam dan Hujan Manis: Penyair membuka puisi dengan merayakan keindahan purnama semalam dan hujan yang manis. Purnama semalam, simbol malam purnama, mewakili keindahan dan keanggunan, sementara hujan manis menciptakan citra romantisme yang lembut dan meresap.
Degup Api di Dada Putih: Cinta disampaikan melalui gambaran degup api di dada putih, menciptakan imaji kehangatan dan kegairahan yang tumbuh dari dalam. Angin yang berhembus tertatih-tatih memberikan nuansa getaran yang halus, seolah-olah cinta itu sendiri adalah kekuatan yang tidak bisa diukur dimensinya.
Cinta Tanpa Dimensi: Penyair menyajikan cinta sebagai sesuatu yang tanpa dimensi dan tanpa perjalanan emosi yang jelas. Tanpa kata tanpa tanda dan tanpa rayuan, cinta ini dipandang sebagai pengalaman murni, seolah-olah di luar batas realitas dan kata-kata yang dapat diungkapkan.
Mawar di Temaram Kamar: Puisi mengekspresikan keindahan cinta melalui imaji mekar mawar di temaram kamar. Mawar, sebagai simbol cinta, mekar dalam suasana temaram, menciptakan atmosfer yang romantis dan puitis.
Merindu-rindu Hangat di Jantung Bulan Kabisat: Penyair menggambarkan rasa rindu dengan kata-kata merindu-rindu hangat di jantung bulan kabisat. Ini menciptakan gambaran kelembutan dan keintiman, dengan bulan kabisat sebagai saksi dan simbol keabadian cinta.
Ciuman di Kotamu dan Lungkrah di Kaki Senja: Puisi berakhir dengan harapan dan impian tentang ciuman yang dapat sampai di kotamu, meski penyair berada di kaki senja. Ini menciptakan kontras antara realitas fisik dan keinginan yang mengalir melalui jarak dan waktu.
Hujan Puitis Semanis Cinta: Penutup puisi menciptakan gambaran puitis tentang hujan yang semanis cinta beribu musim. Hujan di sini menjadi metafora untuk berbagai nuansa emosi cinta yang bisa bertahan dan mekar seiring berjalannya waktu.
Puisi "Cinta Seribu Musim" adalah sebuah karya yang memikat dan penuh warna dalam merangkai imaji-imaji puitis. Dengan penggunaan bahasa yang indah dan simbol-simbol yang kaya, puisi ini menggambarkan keindahan cinta dalam berbagai aspeknya, mulai dari kehangatan hingga kerinduan yang melintasi waktu dan ruang.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
