2014

Puisi: Penari Tayub (Karya Weni Suryandari)

Penari Tayub Senja itu lampu taman bercahaya benderang pesta belum usai, seorang tayub melambai Sepasang kaki indah melantai, suara gending terdengar…

Puisi: Telur Asin (Karya Mardi Luhung)

Telur Asin Aku memakan telur asin. Dengan kuning yang berminyak. Dan aku teringat padamu. Yang pernah berseloroh: "Kau tahu, waktu lahi…

Puisi: Sandekala (Karya Abdul Wachid B. S.)

Sandekala tidak ada cinta tidak ada kata tidak ada sayang tidak ada bayi-bayi tidak ada gelak-tawa tidak ada kepolosan tidak ada ket…

Puisi: Dari Nami Island ke Everland (Karya Kinanthi Anggraini)

Dari Nami Island ke Everland ( : Lasinta Ari Nendra Wibawa ) Sindorim Station menyapaku, Annyonghaseyo ber…

Puisi: Air Mata (Karya Abinaya Ghina Jamela)

Air Mata Air mata menetes. Ibu berkata, menangislah. Air mata pun berjalan dari pipi ke leher. Ibu melelehkan air mata. Mukanya tertusuk jarum ketika…

Puisi: Sajak Terakhir (Karya Mario F. Lawi)

Sajak Terakhir Surga adalah gelembung sabun Yang penuh udara Karena dijejali keluh-kesah orang-orang Pasrah yang malas berusaha. Di sebuah taman, eng…

Puisi: Memandangmu (Karya Mario F. Lawi)

Memandangmu Suaramu yang berderak akhirnya patah ketika Daun-daun zaitun ditiup angin ke pinggang bukit. Takdir tidak ditancapkan pada tembok seperti…

Puisi: Sepasang Hikayat (Karya Mario F. Lawi)

Sepasang Hikayat Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penua…

Puisi: Seperti Dawat pada Kertas (Karya Acep Zamzam Noor)

Seperti Dawat pada Kertas Buih-buih mengalir dari tengah ke tepi Dan kembali ke tengah. Putih melapisi biru Biru menghamparkan keluasan rindu 2014 Su…

Puisi: Awal Kata (Karya Acep Zamzam Noor)

Awal Kata Lentik sunyi di ujung alismu Detak rindu di palung jantungku 2014 Sumber: Berguru kepada Rindu (2017) Analisis Puisi: Puisi “Awal Kata” mer…

Puisi: Bukan Milik Kita Lagi (Karya Acep Zamzam Noor)

Bukan Milik Kita Lagi Ekayandri, rasakan geliat akar rumput pada telapak kakimu Pohon trembesi yang senantiasa menyerap udara buruk Dengan tulus akan…

Puisi: Kemerdekaan (Karya Aspar Paturusi)

Kemerdekaan Kemerdekaan menitikkan air mata terduduk lemah di atap rumah ketika amuk air menenggelamkan rumah warga Kemerdekaan menggelengkan kepala …

Puisi: Guru yang Selamat dari Perang (Karya Acep Syahril)

Guru yang Selamat dari Perang Kamu sendiri tidak tau bentuk dahimu guru, dahi yang pernah kau tawarkan pada kami yang kemarin dipermainkan a…
© Sepenuhnya. All rights reserved.