2014

Puisi: Langit dan Laut (Karya Agus Noor)

Langit dan Laut Bila aku langit dan kau laut apakah yang menjadi batasnya? bila aku laut dan kau langit b…

Puisi: Di Bangku Penumpang (Karya Fitri Yani)

Di Bangku Penumpang saat langit membiarkan pintunya terbuka dan fajar melangkah  dengan kaki-kaki yang rapuh duduklah ia di bangku penumpa…

Puisi: Lelaki (Karya Weni Suryandari)

Lelaki Siapakah engkau sesungguhnya Yang memberiku nama perempuan dan melanggengkan kenikmatan beriring kesakitan, menjadi sulur sejarah hidup kita P…

Puisi: Memeluk Guling (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Memeluk Guling Peluklah mimpimu sekuat-kuatnya sebab esok pagi masih menyimpan rahasia malam ini langit tetap menawarkan gulita tapi jangan …

Puisi: Pisau Prasangka (Karya Fahmi Wahid)

Pisau Prasangka jangan tudingkan mata pisau pada sekuntum bunga sebelum kita membedah akarnya runcingnya pisau merontokkan kuntum dan menikam penatah…

Puisi: Andabia dan Aku Terbakar (Karya Iwan Konawe)

Andabia dan Aku Terbakar Senja merah jatuh di padang ilalang Rumputan terbakar Lenguh kerbau menikam sunyi belantara Di permukaan, siluet bukit hutan…

Puisi: Sejarah, Warna, dan Suara (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Sejarah, Warna, dan Suara memperlakukan betapa ragam sejarah kita adalah bagian tak terpisahkan pada dasar kehendak awal-mula memperlakukan betapa …

Puisi: Sebatang Pohon di Rona Senja (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Sebatang Pohon di Rona Senja tepi laut tepi pantai tepi angin senyap memanggil daun telingaku aku memaksa untuk berpaham di miskin tadahku sendiri se…

Puisi: Suara dari Kalimantan (Karya John FS. Pane)

Suara dari Kalimantan Akulah suara sumbang yang lahir dari lubang-lubang sisa tambang, akulah suara risau yang lahir dari pohon-pohon tumbang, akulah…

Puisi: Patah Tangkai Bulir Padi (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Patah Tangkai Bulir Padi seharusnya kita tidak pernah melepaskan tentang apa yang telah lama sekepak burung di telapak tangan ada di dalam catatan se…

Puisi: Pulau Patah Gelombang (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Pulau Patah Gelombang di setiap sudut pulau; engkau merisaukan desing peluru, lantas pada gerak gelombang kiriman hendak kesekian adakah yang berani …

Puisi: Sesudah Tsunami (Karya Nezar Patria)

Sesudah Tsunami Dengarlah, anak. Ada pintu-pintu terlepas, seperti helai kertas origami. Bangau-bangau terlihat rapi di tanah yang memar, laut menjad…

Puisi: Sembah Hyang (Karya Abdul Wachid B. S.)

Sembah Hyang duh gusti allah menyembah panjenengan bukan sebab keterbatasan justru cinta tahu semesta tak terhingga untuk apa membutuh…
© Sepenuhnya. All rights reserved.