Puisi: Jika Siang Amatlah Terik (Karya M. Nurgani Asyik)

Puisi "Jika Siang Amatlah Terik" karya M. Nurgani Asyik menggambarkan kelelahan eksistensial, kesepian, serta pencarian makna di tengah dunia yang ...
Jika Siang Amatlah Terik

Jika siang amatlah terik
dan kehidupan serba tidak mau tahu
Apakah sajak bisa jadi sepohon rindang
(Seorang petualang seakan telah hidup jutaan tahun
dan hari hari tiada hujan sebentar pun)
karena matahari memanggang ganas
hidup tak ubah rawa-rawa kering
adakah sajak turun sebagai rintik gerimis

“Tuhan
Akulah avonturi: kumal
wajah tertoreh luka, bernanah
DI atas kefanaan ini aku larut

walau tahu seberapa nista kemunafikan.”
Ahesveros terusir dan lepas dalam ketakpastian
Jika siang amatlah terik, Tuhan
apakah sajak bisa jado seteguk air
karena oase hanyalah fatamorgana
Mentari garang menerpa mata
Sang petualang rupanya tersesat di ketakterbatasan

“Tuhan
Hidup ini persis ayam sekarat disembelih
Nanap melingkari titik itu saja
tak lama nanti terlentang di panggangan.”

Jika siang amatlah terik
Seorang petualang lumat dimamah dunia.

Yogyakarta, 1988

Sumber: Astana Kastawa (2015)
Catatan:
Ahesveros: Seorang tokoh pengembara dalam mitos Yunani Kuno.

Analisis Puisi:

Puisi "Jika Siang Amatlah Terik" karya M. Nurgani Asyik merupakan refleksi mendalam tentang pergulatan manusia menghadapi kerasnya kehidupan. Melalui sosok seorang petualang yang tersesat dalam perjalanan panjang, penyair menggambarkan kelelahan eksistensial, kesepian, serta pencarian makna di tengah dunia yang terasa semakin gersang dan tidak peduli.

Puisi ini kaya akan simbol, metafora, dan nuansa filosofis. Kehadiran tokoh Ahesveros—yang dalam catatan disebut sebagai seorang pengembara dalam mitos Yunani Kuno—memperkuat gambaran manusia yang terus berjalan tanpa menemukan tempat berlabuh. Dalam konteks puisi, Ahesveros menjadi lambang perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian dan penderitaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan manusia menghadapi kerasnya kehidupan dan pencarian makna di tengah penderitaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesepian, keterasingan, krisis eksistensial, keputusasaan, serta harapan akan hadirnya penghiburan spiritual melalui sajak dan doa.

Puisi ini bercerita tentang seorang petualang yang menjalani perjalanan panjang dalam kehidupan yang penuh kesulitan. Ia hidup di dunia yang diibaratkan sangat terik, kering, dan tidak memberikan harapan.

Di tengah perjalanan tersebut, sang petualang mempertanyakan apakah sajak atau puisi mampu menjadi tempat berteduh, menjadi gerimis yang menyejukkan, atau seteguk air yang menyelamatkan dahaga batin. Ia kemudian berbicara kepada Tuhan, mengungkapkan luka, keletihan, dan kesadarannya akan berbagai kemunafikan yang ada di dunia.

Tokoh Ahesveros yang disebut dalam puisi menggambarkan sosok pengembara yang terus berjalan tanpa kepastian tujuan. Pada akhirnya, petualang tersebut digambarkan sebagai manusia yang perlahan-lahan dihancurkan oleh kerasnya kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan sering kali menghadirkan masa-masa sulit yang membuat manusia merasa tersesat, lelah, dan kehilangan arah.

Penyair menunjukkan bahwa dunia modern dapat menjadi tempat yang keras dan tidak peduli terhadap penderitaan individu. Dalam kondisi seperti itu, manusia mencari perlindungan melalui seni, spiritualitas, dan hubungan dengan Tuhan.

Pertanyaan berulang mengenai apakah sajak dapat menjadi pohon rindang, gerimis, atau seteguk air menunjukkan keyakinan bahwa karya sastra memiliki kekuatan untuk menghibur, menyembuhkan, dan memberi makna bagi kehidupan yang gersang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Kehidupan tidak selalu mudah dan sering kali menghadirkan berbagai ujian yang berat.
  • Manusia perlu mencari sumber kekuatan batin untuk menghadapi kesulitan hidup.
  • Seni dan sastra dapat menjadi tempat berlindung ketika dunia terasa keras dan tidak peduli.
  • Kesadaran akan keterbatasan diri dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan.
  • Jangan kehilangan harapan meskipun perjalanan hidup terasa panjang dan penuh ketidakpastian.
Puisi "Jika Siang Amatlah Terik" karya M. Nurgani Asyik merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perjalanan manusia menghadapi dunia yang keras dan penuh ketidakpastian. Melalui simbol-simbol seperti siang yang terik, fatamorgana, dan sosok pengembara Ahesveros, penyair menyampaikan kegelisahan eksistensial yang mendalam.

Di balik nuansa muram dan penuh penderitaan, puisi ini juga menghadirkan pertanyaan penting mengenai peran sastra, iman, dan harapan dalam kehidupan manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna hidup serta mencari keteduhan di tengah panasnya perjalanan dunia.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Jika Siang Amatlah Terik
Karya: M. Nurgani Asyik
© Sepenuhnya. All rights reserved.