Puisi: Orang Kota (Karya Aris Setiyanto)

Puisi || Orang Kota || Karya || Aris Setiyanto ||
Orang Kota
untuk Supardi

jika kau tak ingin datang, Pak
tak payah menyebutku 'orang kota'
permata yang menjelma dari peluhmu kini,
menjadi seragam yang memelukku
aku kini pasti bintang
mereka memandangiku dengan takjub
menungguku jatuh
permata yang menjelma dari peluhmu kini,
menjadi istri yang memelukku dengan cinta
dan kasih sayang seorang wanita
tidak ada lelaki di kepalaku
semua dada telah udara.

Temanggung, 5 Juli 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Orang Kota” karya Aris Setiyanto merupakan puisi yang berbicara tentang identitas, keberhasilan, hubungan keluarga, dan perubahan status sosial. Melalui sudut pandang penyair yang berbicara kepada sosok "Pak"—yang dapat ditafsirkan sebagai ayah atau figur yang berjasa dalam hidupnya—penyair mengungkapkan pergulatan batin seseorang yang telah meraih kehidupan yang lebih baik di kota, tetapi tetap menyadari akar perjuangan yang membawanya sampai ke titik tersebut.

Puisi ini memadukan rasa bangga, kerinduan, dan kesadaran akan asal-usul. Di balik kesuksesan yang diraih, tersimpan pengakuan bahwa semua itu lahir dari kerja keras dan pengorbanan orang-orang yang lebih dahulu berjuang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perubahan status sosial dan keberhasilan seseorang yang tidak terlepas dari pengorbanan keluarga serta asal-usulnya.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas diri, hubungan antara anak dan orang tua, penghargaan terhadap perjuangan keluarga, dan dinamika kehidupan di kota.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang dianggap sebagai "orang kota" setelah memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun, penyair dalam puisi seolah menolak label tersebut jika hanya digunakan untuk menciptakan jarak antara dirinya dan sosok yang disebut "Pak".

Ia menyadari bahwa keberhasilannya bukan semata-mata hasil usahanya sendiri. Semua yang dimilikinya sekarang berasal dari "permata yang menjelma dari peluhmu", yakni hasil kerja keras dan pengorbanan orang tua atau keluarga.

Keberhasilan itu membuat dirinya menjadi sosok yang diperhatikan banyak orang. Ia digambarkan sebagai "bintang" yang dipandang dengan takjub, meskipun ada pula yang menunggu kegagalannya.

Di sisi lain, hasil perjuangan tersebut juga menghadirkan kebahagiaan dalam bentuk keluarga dan cinta dari seorang istri. Pada bagian akhir, penyair menunjukkan keyakinan terhadap identitas dan pilihan hidupnya, sekaligus mengisyaratkan bahwa ia telah menemukan ketenangan dalam kehidupannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Kesuksesan seseorang sering kali merupakan hasil dari pengorbanan banyak pihak, terutama keluarga.
  • Perubahan status sosial tidak seharusnya membuat seseorang melupakan asal-usulnya.
  • Kehidupan di kota sering melahirkan stigma atau label yang menciptakan jarak dengan lingkungan asal.
  • Keberhasilan selalu disertai perhatian, baik berupa kekaguman maupun harapan untuk melihat kegagalan.
  • Cinta dan keluarga menjadi bentuk keberhasilan lain yang tidak kalah penting dibanding pencapaian materi.
Puisi ini mengingatkan bahwa di balik keberhasilan seseorang terdapat kerja keras dan pengorbanan yang mungkin tidak selalu terlihat.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang dominan dalam puisi ini adalah:
  • Reflektif.
  • Bangga namun tetap rendah hati.
  • Haru.
  • Penuh penghargaan terhadap perjuangan masa lalu.
  • Sedikit melankolis.
Suasana tersebut muncul melalui pengakuan penyair terhadap jasa sosok "Pak" dan kesadaran bahwa hidupnya sekarang merupakan buah dari perjuangan bersama.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan melupakan asal-usul ketika telah meraih kesuksesan.
  • Hargailah perjuangan dan pengorbanan orang tua atau keluarga.
  • Keberhasilan bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang cinta dan kebahagiaan keluarga.
  • Jangan terpengaruh oleh pandangan orang lain yang iri atau berharap melihat kegagalan kita.
  • Tetaplah rendah hati meskipun telah mencapai posisi yang lebih baik dalam kehidupan.
Puisi “Orang Kota” karya Aris Setiyanto merupakan puisi yang menggambarkan perjalanan seseorang menuju keberhasilan sekaligus kesadarannya terhadap asal-usul dan pengorbanan keluarga. Melalui simbol-simbol seperti permata, peluh, seragam, dan bintang, penyair menunjukkan bahwa kesuksesan bukanlah hasil perjuangan individu semata, melainkan buah dari kerja keras bersama. Dengan suasana reflektif dan penuh penghargaan, puisi ini menyampaikan pesan penting tentang rasa syukur, penghormatan kepada orang tua, serta pentingnya menjaga identitas diri meskipun telah mengalami perubahan status sosial.

Aris Setiyanto
Puisi: Orang Kota
Karya: Aris Setiyanto

Biodata Aris Setiyanto:
    Aris Setiyanto lahir pada tanggal 12 Juni 1996. Puisi-puisi terhimpun di dalam buku Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas (2020) dan Ketika Angin Berembus (2021).

    Karya-karyanya juga pernah dimuat di Majalah Kuntum, Koran Purworejo, Koran BMR FOX, Majalah Raden Intan News, Harian Sinar Indonesia Baru, Radar Pekalongan, Harian Bhirawa, Bangka Pos, Radar Madiun, Majalah Elipsis, Majalah Apajake, Jurnal Kopi, dan beberapa lainnya.
    © Sepenuhnya. All rights reserved.