Puisi: Pantun Laron (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Pantun Laron" karya Abdul Wachid B. S. mengajarkan bahwa kesetiaan bukan berarti terbebas dari rasa sakit, melainkan tetap bertahan meskipun ..
Pantun Laron

Laron merubung cahaya
Tenggelam mabuk nyala
Aku bersenandung bara
Mencium harum cinta

Tak begitu jauh
Jarak tak tertempuh
Tersebab terpikat tubuh
Pertemuan jadi luruh

Pernah lidah dikulum
Kini beku tak terkira
Tersebab kelelakian berdentum
Beku kini tak terkira

Kita mau setia
Pada bara cinta
Laron merubung cahaya
Tenggelam mabuk nyala

Aku terbakar cinta
Panas gemetar tak terduga.

2001

Sumber: Penyair Cinta (Jejak Pustaka, 2022)

Analisis Puisi:

Puisi "Pantun Laron" karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi liris yang mengangkat tema cinta melalui simbol laron yang tertarik pada cahaya. Penyair memanfaatkan bentuk yang menyerupai pantun dengan irama yang padat dan pengulangan larik untuk menggambarkan gejolak perasaan cinta yang begitu kuat hingga membuat seseorang rela "terbakar" oleh pesona orang yang dicintainya.

Laron menjadi simbol utama dalam puisi ini. Sebagaimana laron yang mengerumuni cahaya hingga akhirnya binasa oleh nyala lampu, manusia pun sering kali tenggelam dalam pesona cinta yang membahagiakan sekaligus menyakitkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang membara dan pengorbanan dalam mencintai. Tema-tema pendukung yang terdapat dalam puisi ini meliputi:
  • Ketertarikan yang mendalam.
  • Kerinduan.
  • Kesetiaan.
  • Gejolak perasaan.
  • Keindahan sekaligus risiko dalam cinta.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami gejolak cinta begitu kuat hingga dirinya diibaratkan seperti laron yang tertarik pada cahaya.

Pada bait pertama, penyair menggambarkan laron yang mengerubungi cahaya dan tenggelam dalam nyala api. Gambaran tersebut menjadi perumpamaan bagi penyair yang larut dalam pesona cinta.

Bait berikutnya menunjukkan bahwa sebenarnya jarak antara dua insan tidak terlalu jauh. Namun, daya tarik fisik dan perasaan membuat hubungan mereka menjadi rumit sehingga pertemuan yang diharapkan justru memudar.

Selanjutnya, penyair menghadirkan perubahan suasana. Keakraban yang dahulu pernah terjalin berubah menjadi kebekuan. Meski demikian, pada bait penutup penyair tetap menyatakan kesetiaannya kepada cinta, walaupun cinta itu membuat dirinya "terbakar" oleh perasaan yang begitu besar.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta merupakan kekuatan yang mampu menghadirkan kebahagiaan sekaligus penderitaan.

Simbol laron menggambarkan manusia yang rela mendekati sesuatu yang dicintainya, walaupun berisiko terluka. Cahaya bukan hanya melambangkan keindahan, tetapi juga godaan yang dapat menghanguskan.

Ungkapan:

"Aku terbakar cinta"

tidak bermakna secara harfiah, melainkan menunjukkan bahwa penyair merasakan gejolak cinta yang sangat mendalam hingga menguasai seluruh dirinya.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa kesetiaan bukan berarti terbebas dari rasa sakit, melainkan tetap bertahan meskipun harus menghadapi berbagai ujian.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Cinta memerlukan kesetiaan sekaligus keberanian menghadapi risikonya.
  • Ketertarikan yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan kendali.
  • Hubungan yang indah harus dijaga agar tidak berubah menjadi kebekuan.
  • Kesetiaan memiliki makna ketika tetap bertahan dalam suka maupun duka.
  • Cinta hendaknya dijalani dengan keseimbangan antara perasaan dan kebijaksanaan.
Puisi "Pantun Laron" karya Abdul Wachid B. S. menggambarkan cinta sebagai kekuatan yang memikat sekaligus menguji keteguhan hati. Melalui simbol laron yang mengerubungi cahaya, penyair memperlihatkan bahwa seseorang yang jatuh cinta sering kali rela menghadapi risiko demi mempertahankan perasaannya.

Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa cinta yang sejati bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap setia di tengah gejolak perasaan.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Pantun Laron
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.