Puisi: Semalam di Astana Saptarengga Imogiri (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Semalam di Astana Saptarengga Imogiri” karya Iman Budhi Santosa mengingatkan bahwa kekuasaan dan kemegahan duniawi pada akhirnya akan berakhir.
Semalam di Astana Saptarengga Imogiri

Tinggal cungkup setia memayungi
masih saja mendaki bila mendekat
telanjang kaki, sembunyi
di balik seragam abdi kerabat

Tak adakah yang lebih tinggi
dari hamba sahaya
lebih bersahaja dari tahta
menyambut anak-anak zaman yang berbeda?
Padahal Sunan dan Sultan telah bersalaman
dengan jengkerik, dengan burung-burung malam
bersahabat dengan ulat tanah
yang menghabiskan jasad dari sejarah

Aku termenung menyaksikan agathis alba
tirus melengkung, mengepung
Saptarengga, dan warung
menjajakan tikar pelita
semalaman berjaga
menunggu tuah itu menetes
serupa es
membasahi
kerongkongannya

1979

Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Semalam di Astana Saptarengga Imogiri” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi reflektif yang mengangkat suasana spiritual dan historis di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Melalui penggambaran suasana malam, makam leluhur, serta aktivitas para peziarah, penyair mengajak pembaca merenungkan makna kekuasaan, kematian, dan pencarian berkah dalam kehidupan manusia.

Dengan bahasa yang simbolis dan kaya nuansa budaya Jawa, puisi ini menghadirkan perenungan mendalam tentang bagaimana manusia memandang sejarah, warisan leluhur, dan kedudukannya di hadapan waktu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan tentang kekuasaan, kematian, dan nilai kerendahan hati di hadapan sejarah dan Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritualitas, tradisi ziarah, penghormatan terhadap leluhur, serta pencarian makna hidup di tengah perubahan zaman.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman penyair saat berada di Astana Saptarengga Imogiri, sebuah kawasan pemakaman para raja dan sultan. Di tempat tersebut, penyair menyaksikan suasana yang penuh ketenangan sekaligus perenungan.

Melalui pengamatannya, ia melihat bagaimana makam-makam yang dahulu dihuni oleh tokoh-tokoh besar kini hanya dinaungi cungkup dan dikelilingi alam. Para raja yang pernah memiliki kekuasaan besar pada akhirnya bersatu dengan tanah dan menjadi bagian dari sejarah.

Di sisi lain, penyair juga menggambarkan orang-orang yang datang untuk berziarah dan berharap memperoleh keberkahan atau "tuah" dari tempat tersebut. Fenomena ini membuat penyair merenungkan hubungan antara manusia, kekuasaan, sejarah, dan keyakinan spiritual.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang di dunia, pada akhirnya semua manusia akan kembali menjadi bagian dari alam dan sejarah.

Larik:

"Padahal Sunan dan Sultan telah bersalaman
dengan jengkerik, dengan burung-burung malam"

menunjukkan bahwa para penguasa yang dahulu dihormati kini telah menyatu dengan alam setelah kematian.

Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap manusia yang terlalu mengagungkan simbol-simbol kekuasaan atau mencari keberuntungan dari tempat-tempat tertentu tanpa memahami nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur.

Selain itu, penyair mengingatkan bahwa kerendahan hati jauh lebih bernilai daripada kedudukan atau tahta yang bersifat sementara.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat yang terkandung dalam puisi ini antara lain:
  • Jangan menyombongkan kedudukan, jabatan, atau kekuasaan karena semuanya bersifat sementara.
  • Hormatilah sejarah dan jasa para leluhur dengan mengambil hikmah dari kehidupan mereka.
  • Kematian adalah pengingat bahwa semua manusia memiliki akhir yang sama.
  • Kerendahan hati lebih berharga daripada kemegahan duniawi.
  • Carilah kebijaksanaan hidup, bukan sekadar keberuntungan atau keuntungan pribadi.
Puisi “Semalam di Astana Saptarengga Imogiri” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi yang sarat dengan refleksi sejarah, spiritualitas, dan filosofi kehidupan. Melalui suasana malam di kompleks makam para raja, penyair mengingatkan bahwa kekuasaan dan kemegahan duniawi pada akhirnya akan berakhir. Yang tersisa bukanlah tahta atau kebesaran, melainkan nilai-nilai kebijaksanaan, kerendahan hati, dan pelajaran hidup yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Semalam di Astana Saptarengga Imogiri
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.