Sajak tentang Burung
setelah pemilik rumah itu mati
burung-burung lepas dari sarangnya. kau pun
terbang siang malam bersama mereka
mengitari bumi, juga hamparan hari yang kering
karena bertahun-tahun dihisap mesin
angkasa kini menjadi tempat berpesta pora
lupa dalam cuaca di negeri ini cepat berganti
maka ketika suatu pagi kabut turun
dan matamu ngantuk karena begadang semalaman
tubuhmu terperangkap dalam jaring-jaring
yang sengaja dipasang tiran
kawan-kawanmu memang protes
ramai berkicau tentang keadilan. Tapi mereka lupa
bahwa di rumah itu telah lahir penghuni baru
siap menembaki siapa saja yang terbang sebebasnya
dan ketika kau terbangun dari pingsan
sebagian kawanmu riang berkicau di dalam sangkar
seragam menyanyikan lagu-lagu pengkhianatan
Jakarta, 2001
Sumber: Sebelum Senja Selesai (2002)
Analisis Puisi:
Puisi “Sajak tentang Burung” karya Moh. Wan Anwar merupakan puisi yang sarat dengan kritik sosial dan politik. Melalui simbol burung, sangkar, jaring, dan tiran, penyair menggambarkan persoalan kebebasan, kekuasaan, perlawanan, serta pengkhianatan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Puisi ini tidak sekadar berkisah tentang burung dalam arti harfiah. Burung menjadi lambang manusia yang mendambakan kebebasan, sedangkan jaring dan sangkar melambangkan berbagai bentuk pengekangan yang dilakukan oleh pihak yang berkuasa. Dengan bahasa simbolik, penyair mengajak pembaca merenungkan bagaimana kebebasan dapat terancam oleh lahirnya kekuasaan baru yang lebih represif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan mempertahankan kebebasan di tengah penindasan dan pengkhianatan.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kekuasaan, perlawanan, ketidakadilan, perubahan sosial, dan hilangnya idealisme.
Puisi ini bercerita tentang burung-burung yang memperoleh kebebasan setelah pemilik rumah tempat mereka berada meninggal dunia. Mereka kemudian terbang bebas mengelilingi dunia dan menikmati kebebasan yang selama ini tidak dimiliki.
Namun kebebasan itu tidak berlangsung lama. Dalam situasi yang tampak aman, muncul ancaman baru berupa jaring yang dipasang oleh seorang tiran. Salah satu burung akhirnya terperangkap dan kehilangan kebebasannya.
Kawan-kawannya sempat memprotes dan menuntut keadilan. Akan tetapi, seiring waktu mereka lupa bahwa telah muncul penghuni baru yang memiliki kekuasaan dan siap menindak siapa saja yang ingin hidup bebas.
Yang lebih menyedihkan, sebagian burung yang dahulu bebas akhirnya memilih hidup di dalam sangkar. Mereka bahkan menyanyikan lagu-lagu yang mendukung kekuasaan dan melupakan perjuangan kebebasan yang pernah mereka perjuangkan bersama.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Kebebasan yang telah diperoleh dapat kembali hilang jika tidak dijaga.
- Kekuasaan yang baru tidak selalu lebih baik daripada kekuasaan sebelumnya.
- Penindasan sering kali muncul dalam bentuk yang berbeda setelah pergantian kekuasaan.
- Sebagian orang dapat mengkhianati idealisme demi kenyamanan atau keuntungan pribadi.
- Perlawanan terhadap ketidakadilan akan melemah jika solidaritas mulai hilang.
Puisi ini menjadi refleksi tentang bagaimana perjuangan kebebasan sering menghadapi ancaman, bukan hanya dari penguasa, tetapi juga dari sesama yang memilih berkompromi dengan kekuasaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang dominan dalam puisi ini adalah:
- Kritis dan reflektif.
- Tegang.
- Prihatin.
- Sinis terhadap pengkhianatan.
- Penuh keprihatinan terhadap hilangnya kebebasan.
Pada bagian awal, suasana terasa bebas dan optimistis. Namun, suasana berubah menjadi mencekam ketika muncul tiran dan burung-burung mulai kehilangan kemerdekaannya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Kebebasan harus dijaga dan diperjuangkan secara terus-menerus.
- Jangan mudah terlena oleh keadaan yang tampak aman.
- Kekuasaan perlu diawasi agar tidak berubah menjadi alat penindasan.
- Solidaritas dan keberanian sangat penting dalam menghadapi ketidakadilan.
- Jangan mengkhianati nilai-nilai yang pernah diperjuangkan demi kepentingan sesaat.
Puisi ini mengingatkan bahwa kebebasan dapat hilang ketika masyarakat berhenti kritis dan membiarkan kekuasaan bertindak tanpa batas.
Puisi “Sajak tentang Burung” karya Moh. Wan Anwar merupakan puisi kritik sosial-politik yang mengangkat tema kebebasan, kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap idealisme. Melalui simbol burung, jaring, sangkar, dan tiran, penyair menggambarkan bagaimana kebebasan yang telah diraih dapat kembali terancam oleh munculnya kekuasaan baru yang represif. Dengan suasana yang kritis dan penuh keprihatinan, puisi ini mengajak pembaca untuk tetap menjaga kebebasan, mempertahankan solidaritas, dan tidak mudah menyerahkan nilai-nilai perjuangan demi kenyamanan atau kepentingan pribadi.
Karya: Moh. Wan Anwar
Biodata Moh. Wan Anwar:
- Moh. Wan Anwar lahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Cianjur, Jawa Barat.
- Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 (pada usia 39 tahun) di Serang, Banten.
