Kita semua tahu, sebuah teknologi baru telah hadir di tengah-tengah kehidupan, mulai dari ruang kelas, tempat kerja, hingga ruang diskusi. Setiap kali sebuah pertanyaan sulit muncul, tangan kita tidak lagi bergerak untuk membuka buku atau melakukan diskusi. Jari dengan mudah mengetikkan perintah pada kolom pencarian kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam hitungan detik, jawaban muncul di layar dengan susunan yang rapi, sistematis, dan tampak meyakinkan.
Artificial Intelligence bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan. Ancaman sesungguhnya muncul ketika manusia berhenti menggunakan kemampuan berpikirnya karena terlalu mengandalkan teknologi tersebut. Kehadirannya telah membawa banyak kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Teknologi ini dapat membantu masyarakat memperoleh informasi dengan cepat, memahami materi yang sulit, serta menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien tanpa menghabiskan banyak waktu. Namun, kemudahan tersebut tidak seharusnya membuat manusia bergantung pada AI. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar, bukan sebagai alat pengganti dalam berpikir kritis. Seseorang dapat menilai informasi lebih bijak dengan tetap mengandalkan kemampuan berpikir kritisnya.
Meskipun menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan AI yang tidak bijak juga dapat menimbulkan ancaman etis. Salah satu dampaknya adalah menurunnya kebiasaan berpikir kritis. Ketika AI digunakan secara terus-menerus untuk menyelesaikan tugas atau mencari jawaban dari berbagai persoalan, kemampuan untuk menganalisis serta mengambil keputusan secara mandiri dapat berkurang. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, ketergantungan terhadap teknologi akan semakin meningkat sehingga kemampuan berpikir kritis yang seharusnya dimiliki mahasiswa akan semakin melemah.
Penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang berlebihan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Hal ini terjadi karena banyak mahasiswa yang lebih memilih menggunakan jawaban instan dari AI daripada menganalisis masalah secara mandiri atau berdiskusi dengan teman. Pendapat tersebut didukung oleh penelitian Analisis Dampak Penggunaan Artificial Intelligence terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa (2025), penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 44,4% mahasiswa sering merasa kurang berpikir kritis dikarenakan terlalu sering menggunakan AI dalam mengerjakan tugas. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan AI memberikan pengaruh buruk lain, yaitu mengubah cara berpikir kritis mahasiswa. Dari kedua penelitian menunjukkan betapa besarnya akibat buruk yang didapatkan seseorang jika terlalu bergantung pada AI, mulai dari membuat materi, pertanyaan hingga jawaban.
Fenomena tersebut juga sering dijumpai dalam kegiatan perkuliahan. Tidak jarang dalam presentasi kelas, seluruh materi disusun menggunakan AI tanpa melalui proses membaca referensi. Saat sesi tanya jawab berlangsung, penanya kembali meminta AI membuat pertanyaan, sedangkan presenter menggunakan AI untuk menyusun jawaban. Akibatnya, diskusi yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan berubah menjadi sekadar pertukaran hasil dari mesin. Kondisi ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi mulai menggantikan proses berpikir mahasiswa. Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah dikhawatirkan akan semakin menurun.
Tidak hanya mengganggu proses pembelajaran dalam kelas, ketergantungan terhadap AI juga bisa menghambat kemampuan mahasiswa di dunia kerja nantinya. Dunia kerja memerlukan orang-orang yang dapat berpikir kritis, menyelesaikan masalah, membuat keputusan, dan berkomunikasi secara efektif. Jika mahasiswa selalu bergantung pada AI dalam menyelesaikan berbagai masalah tanpa melakukan analisis sendiri, tentunya kemampuan ini sangat sulit dikembangkan. Karena itu, mahasiswa mungkin memiliki pengetahuan yang luas, tetapi belum tentu mampu menganalisis situasi baru yang tidak dapat dijawab secara instan oleh AI.
Kemajuan teknologi tidak pernah menjadi musuh umat manusia. Hal yang seharusnya dipertanyakan adalah: bisakah manusia masih mengendalikan teknologi, atau kini mereka justru dikendalikan oleh teknologi tersebut? Namun, jika setiap persoalan selalu diselesaikan melalui respons instan dari AI tanpa melalui proses berpikir serta menganalisis secara mandiri, peluang untuk membangun kemampuan akademik juga dapat berkurang. Ketergantungan tersebut juga dapat melemahkan kemampuan intelektual mahasiswa dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.
Pada akhirnya, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi bekal yang tidak dapat digantikan oleh secanggih apa pun teknologi. AI mungkin mampu menjawab hampir semua pertanyaan, tetapi AI tidak dapat menggantikan proses manusia dalam meragukan sebuah jawaban, menguji kebenarannya, lalu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Oleh sebab itu, tantangan terbesar mahasiswa saat ini bukanlah belajar menggunakan AI, melainkan memastikan bahwa kemampuan berpikirnya tetap menjadi pengendali utama, bukan sekadar mengikuti apa yang dihasilkan oleh teknologi.
Penulis:
Nurul Jamil dan Qurratul Aini Maimunah adalah mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Ahmad Dahlan. Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana dan aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik. Tulisan ini disusun sebagai bentuk kontribusi dalam menyampaikan pandangan terhadap isu yang sedang berkembang di masyarakat.