Puisi: Biarkan Kami (Karya Fikar W. Eda)

Puisi "Biarkan Kami" karya Fikar W. Eda menggambarkan keberanian dan tekad individu atau kelompok dalam menghadapi tekanan sosial, budaya, dan ...
Biarkan Kami
(untuk Aceh dan suku lainnya di negeri ini)

Biarkan kami tegak di sini
menahan gigil angin
yang meniupkan aroma maksiat
biarkan kami tegak di sini
menahan dingin hujan
sambil menghitung hari-hari lewat

Biarkan kami tegak di sini
memaku tanah merah, tanah moyang kami
lalu menggalinya agar tetap selamat
biarkan kami tegak di sini
berdoa bagi kelangsungan hidup kami
mengharap ampunan dan taubat

Biarkan kami di sini
bersama anak dan istri
memandangi rembulan pucat
biarkan kami di sini
menunggu kezaliman berlalu

Jangan paksa kami minum anggur
yang memabukkan ruh dan raga kami
jangan paksa kami membangun tenda
di tepi-tepi jurang menganga
yang siap menelan kami lumat

Kami bukan batu keramat
kami bukan lumut laknat
kami bukan bau busuk khianat
kami bukan ranting rapuh
yang lekat pada beringin angkuh
kami bukan apa-apa

Karena itu biarkan kami
menghirup aroma tanah
tanpa syak wasangka
menjadi tangkai sekaligus bunga
memintal kasih sayang dan cinta.

Jakarta, April 1998

Sumber: Rencong (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Biarkan Kami" karya Fikar W. Eda adalah karya sastra yang menggambarkan keberanian dan tekad individu atau kelompok dalam menghadapi tekanan sosial, budaya, dan norma-norma yang mungkin bertentangan dengan keyakinan mereka. Puisi ini mengungkapkan keinginan untuk tetap setia pada nilai-nilai dan kepercayaan mereka meskipun menghadapi tekanan untuk berubah.

Tema Keberanian dan Kepatuhan: Puisi ini menyoroti tema-tema keberanian dan tekad untuk tetap setia pada nilai-nilai dan keyakinan, meskipun ada tekanan dari luar yang mendorong untuk berubah. "Biarkan kami tegak di sini" mencerminkan semangat berani untuk menahan tekanan dan mempertahankan keyakinan.

Perlawanan Terhadap Kezaliman: Penyair menekankan bahwa mereka siap berjuang dan bertahan dalam menghadapi kezaliman. "Biarkan kami di sini / menunggu kezaliman berlalu" menggambarkan semangat perlawanan terhadap tekanan atau perlakuan yang tidak adil.

Keinginan untuk Tetap Bersama Keluarga: Penyair menyoroti pentingnya keluarga dan cinta mereka terhadap keluarga. "Biarkan kami di sini / bersama anak dan istri" menciptakan gambaran tentang bagaimana cinta keluarga memberikan mereka kekuatan dan motivasi untuk bertahan.

Penolakan terhadap Kebiasaan Buruk: Penyair menentang pengaruh buruk yang mungkin mencoba memengaruhi mereka. "Jangan paksa kami minum anggur / yang memabukkan ruh dan raga kami" menyoroti penolakan terhadap penggunaan alkohol atau perilaku berbahaya lainnya.

Pencarian Kedamaian dan Kesetiaan pada Nilai-Nilai: Puisi ini mencerminkan keinginan untuk hidup dalam damai dan setia pada nilai-nilai. "menjadi tangkai sekaligus bunga / memintal kasih sayang dan cinta" menggambarkan semangat pencarian kedamaian dan kebahagiaan melalui kesetiaan terhadap nilai-nilai yang diyakini.

Kedekatan dengan Alam dan Akar Budaya: Penyair menyiratkan kedekatan mereka dengan alam dan nilai-nilai budaya mereka. "menghirup aroma tanah" menggambarkan keterhubungan dengan alam dan budaya mereka.

Puisi "Biarkan Kami" adalah karya sastra yang menyiratkan semangat berani, keinginan untuk tetap setia pada nilai-nilai, dan penolakan terhadap pengaruh negatif. Ini adalah ungkapan tekad individu atau kelompok dalam menjaga identitas mereka dan mempertahankan keyakinan dalam menghadapi tekanan sosial dan budaya.

Fikar W. Eda
Puisi: Biarkan Kami
Karya: Fikar W. Eda

Biodata Fikar W. Eda:
  • Fikar W. Eda lahir pada tanggal 8 Mei 1966 di Takengon, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.