Puisi: Bunglon (Karya M.S. Ashar)

Puisi “Bunglon” karya M.S. Ashar adalah kritik terhadap sikap manusia yang mudah berubah pendirian atau identitas demi menyesuaikan diri dengan ...

Bunglon

Melayang gagah, meluncur rampis,
menentang tenang, 'alam samadi,
Tiada sadar marabahaya:
Alam semesta memberi senjata.

Selayang terbang ke rumpun bambu,
Pindah meluncur ke padi masak,
Bermain mesra di balik dahan,
Tiada satu dapat mengganggu.

Ah, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.

Sumber: Gema Tanah Air (Balai Pustaka , 1951)

Analisis Puisi:

Puisi “Bunglon” karya M.S. Ashar merupakan puisi yang menggunakan sosok bunglon sebagai gambaran simbolis tentang kehidupan manusia. Bunglon dikenal sebagai hewan yang mampu menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan. Kemampuan tersebut dalam puisi tidak hanya dilihat sebagai keistimewaan alam, tetapi juga menjadi metafora tentang kemampuan seseorang untuk menyamar, berubah, dan menyesuaikan diri dengan keadaan.

Namun, penyair tidak serta-merta mengagumi kemampuan tersebut. Pada bagian akhir, justru muncul penolakan yang sangat tegas:

“Tidak daku sudi serupa.”

Kalimat tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan puisi. Penyair tampaknya menggunakan bunglon sebagai simbol manusia yang mudah mengubah dirinya demi menyesuaikan diri dengan lingkungan, kemudian menyatakan bahwa ia tidak ingin menjadi seperti itu meskipun kehidupan yang dijalaninya penuh penderitaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pendirian dan keaslian diri dalam menghadapi tuntutan lingkungan. Bunglon dalam puisi digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi:

“Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.”

Kemampuan tersebut secara biologis merupakan mekanisme pertahanan. Namun, ketika diterapkan sebagai gambaran kehidupan manusia, kemampuan “menyamar” dan “menjelma” dapat memiliki makna lain, yaitu mengubah identitas atau sikap demi menyesuaikan diri dengan keadaan.

Penyair kemudian mengambil posisi yang berlawanan. Ia tidak ingin memiliki sifat tersebut:

“O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.”

Dengan demikian, tema puisi bukan sekadar tentang seekor bunglon, tetapi tentang kejujuran terhadap diri sendiri, prinsip hidup, dan keberanian mempertahankan identitas meskipun harus menghadapi kesulitan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sikap manusia yang mudah berubah pendirian atau identitas demi menyesuaikan diri dengan keadaan dan memperoleh keamanan.

Secara harfiah, kemampuan bunglon berganti warna merupakan mekanisme alami untuk bertahan hidup. Akan tetapi, penyair memindahkan sifat tersebut ke ranah kehidupan manusia.

Ungkapan:

“Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.”

dapat ditafsirkan sebagai gambaran seseorang yang mudah mengubah sikap sesuai dengan lingkungan. Ia dapat menjadi berbeda-beda tergantung siapa yang dihadapi atau keadaan yang sedang berlangsung.

Sikap seperti itu mungkin memberikan keuntungan karena seseorang dapat menghindari bahaya atau konflik. Namun, dari sudut pandang penyair, kemampuan tersebut justru berpotensi menghilangkan keaslian dan integritas diri.

Hal itu terlihat jelas dalam permohonan:

“O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara”

Penyair menyatakan bahwa ia lebih memilih menghadapi penderitaan daripada menjadi seseorang yang kehilangan prinsip.

Makna yang lebih dalam dari puisi ini adalah mempertahankan jati diri terkadang membutuhkan keberanian untuk menghadapi risiko dan penderitaan. Hidup nyaman tetapi harus mengorbankan prinsip dianggap tidak lebih baik daripada hidup sulit tetapi tetap menjadi diri sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi “Bunglon” mengandung beberapa pesan penting.
  • Pertahankan jati diri. Manusia hendaknya tidak kehilangan identitas hanya karena ingin diterima oleh lingkungan.
  • Jangan mudah mengubah prinsip demi kepentingan pribadi. Kemampuan menyesuaikan diri memang penting dalam kehidupan, tetapi penyesuaian diri seharusnya tidak sampai menghilangkan prinsip dan kejujuran.
  • Berani menghadapi penderitaan. Penyair bahkan mengatakan: “Biar lahirku diancam derita.” Hal tersebut menunjukkan kesediaannya menerima kesulitan demi mempertahankan prinsip.
  • Jangan menjadi pribadi yang oportunistis. Secara simbolis, “bunglon” dapat menggambarkan orang yang mengubah sikap berdasarkan keadaan atau keuntungan yang ingin diperoleh.
Pesan puisi ini adalah lebih baik menghadapi kesulitan sebagai diri sendiri daripada memperoleh kenyamanan dengan mengorbankan prinsip dan identitas.

Namun demikian, puisi ini tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap seluruh bentuk adaptasi. Kemampuan menyesuaikan diri merupakan hal yang penting dalam kehidupan. Yang ditolak penyair adalah perubahan diri yang mengorbankan keaslian dan prinsip hanya demi mengikuti suasana.

Puisi “Bunglon” karya M.S. Ashar menggunakan sosok bunglon sebagai simbol yang sederhana tetapi memiliki makna sosial dan moral yang kuat. Bunglon digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan luar biasa untuk bergerak, menyamar, dan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan.

Akan tetapi, kemampuan tersebut justru menjadi bahan refleksi bagi penyair. Di balik kekaguman terhadap kemampuan bunglon, terdapat penolakan terhadap sikap manusia yang mudah berubah mengikuti keadaan.

Puncak pesan puisi terdapat pada tiga baris terakhir:

“O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.”

Penyair memilih keaslian diri daripada kenyamanan, dan memilih mempertahankan prinsip daripada berubah hanya demi menyesuaikan diri dengan suasana.

Dengan demikian, inti puisi ini dapat dirangkum dalam satu gagasan: manusia boleh beradaptasi dengan keadaan, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan prinsip hanya demi memperoleh keamanan atau keuntungan.

Puisi
Puisi: Bunglon
Karya: M.S. Ashar

Biodata M.S. Ashar:
  • M.S. Ashar lahir pada tanggal 19 Desember 1921 di Kutaraja.

© Sepenuhnya. All rights reserved.