Puisi: Credo (Karya Boejoeng Saleh)

Puisi “Credo” karya Boejoeng Saleh mengungkapkan keyakinan terhadap kehidupan, kekuatan rakyat, persatuan, cinta kemanusiaan, dan harapan akan masa ..

Credo

Ketika lemah rebah
kuletakkan kuping hatiku di tanah
terdengar segar jantung rakyat hidup berdegup
tenaga pulih
hidup begitu indah masih
harapan belum terkatup.

Masih merontak detak-detak
tenaga dalam pembuluh darah.

Aku tegak
pandangan terarah
pada hari kelak
kikis tangis ditelan gelak.

Kawan, pinta kita
hanya sebuah dunia diliputi cinta
di mana hidup penuh arti
dan hati penuh bakti.

Hati diberkati kurnia setia
pada kesatuan ummat manusia
kuat muat segala beban
tak retak dilanda cobaan.

Sumber: Zaman Baru (Juli, 1956)

Analisis Puisi:

Puisi “Credo” karya Boejoeng Saleh merupakan puisi yang mengungkapkan keyakinan terhadap kehidupan, kekuatan rakyat, persatuan, cinta kemanusiaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Judul Credo berasal dari bahasa Latin yang berarti “aku percaya” atau suatu pernyataan keyakinan. Sesuai dengan judulnya, puisi ini tidak sekadar menggambarkan keadaan batin penyair, tetapi juga menyatakan kepercayaan terhadap kekuatan manusia untuk bangkit dari penderitaan dan membangun kehidupan yang dilandasi cinta serta pengabdian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah harapan, keteguhan hidup, persatuan manusia, dan keyakinan terhadap masa depan. Penyair menggambarkan seseorang yang sempat berada dalam keadaan lemah, tetapi kembali memperoleh kekuatan setelah merasakan denyut kehidupan rakyat. Baris:

“terdengar segar jantung rakyat hidup berdegup”

menunjukkan bahwa kehidupan rakyat menjadi sumber energi dan harapan. Kelemahan tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai keadaan sementara yang dapat dilalui karena masih adanya semangat hidup.

Tema tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan tentang kehidupan bersama yang penuh cinta, arti, dan pengabdian:

“hanya sebuah dunia diliputi cinta
di mana hidup penuh arti
dan hati penuh bakti.”

Dengan demikian, puisi ini memadukan optimisme pribadi dengan cita-cita kemanusiaan yang lebih luas.

Makna Tersirat

Makna tersirat yang paling kuat dalam puisi ini adalah keyakinan bahwa kekuatan manusia tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, tetapi juga dari kehidupan bersama dan semangat rakyat.

Ungkapan:

“kuletakkan kuping hatiku di tanah”

tidak harus dimaknai secara harfiah. “Kuping hati” dapat ditafsirkan sebagai kepekaan batin terhadap keadaan di sekeliling. Penyair seolah-olah merendahkan diri dan mendengarkan suara kehidupan dari tanah tempat rakyat berpijak.

“Jantung rakyat” juga merupakan simbol penting. Jantung melambangkan kehidupan dan denyut keberadaan manusia. Ketika penyair mendengar “jantung rakyat” yang masih berdegup, ia menemukan alasan untuk kembali berdiri.

Makna tersirat lainnya adalah bahwa penderitaan bukan alasan untuk menyerah. Selama masih ada kehidupan, masih terdapat kemungkinan untuk memperbaiki keadaan.

Kalimat:

“harapan belum terkatup”

mengandung makna bahwa pintu harapan belum tertutup. Masa depan masih dapat diperjuangkan.

Pada bagian akhir, cita-cita penyair semakin luas. Dunia yang diliputi cinta, persatuan umat manusia, dan hati yang penuh bakti menunjukkan impian mengenai kehidupan sosial yang lebih manusiawi, bersatu, dan memiliki tujuan moral.

Puisi “Credo” karya Boejoeng Saleh merupakan puisi yang menyuarakan keyakinan terhadap kehidupan dan masa depan. Dimulai dari keadaan lemah, penyair kemudian menemukan kembali kekuatannya melalui kesadaran bahwa kehidupan rakyat masih berdenyut. Dari sana muncul keyakinan bahwa harapan belum berakhir.

Puisi ini kemudian berkembang menjadi sebuah cita-cita sosial dan kemanusiaan: dunia yang diliputi cinta, kehidupan yang penuh arti, hati yang penuh bakti, serta persatuan umat manusia yang kokoh menghadapi cobaan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Credo
Karya: Boejoeng Saleh

Biodata Boejoeng Saleh:
  • Saleh Iskandar Poeradisastra atau Boejoeng Saleh lahir pada tanggal 25 Desember 1923 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.