Belajar Peduli Pada Orang Asing dari Cerpen Neighbour Rosicky

Bagaimana kebaikan kepada orang asing dapat mengubah hidup seseorang? Yuk simak kisah Anton Rosicky dalam cerpen Neighbour Rosicky karya Willa Cather.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kita sering bertemu banyak orang tanpa benar-benar mengenal mereka. Di halte, kampus, bazar, atau media sosial, kita bisa berada di tengah keramaian tetapi tetap merasa sendiri. Tidak jarang pula kita melihat seseorang kebingungan, kelelahan, atau mengalami kesulitan, lalu memilih abai karena merasa hal itu bukan urusan kita.

Neighbour Rosicky

Sikap menjaga jarak memang benar. Setiap orang memiliki ruang pribadi yang perlu dihargai. Namun, menjaga jarak tidak seharusnya membuat kita kehilangan kepekaan. Ketika seseorang sedang membutuhkan bantuan, kepedulian kecil dapat menjadi hal besar dalam hidup mereka.

Gagasan inilah yang terdapat dalam cerpen Neighbour Rosicky karya Willa Cather. Melalui tokoh Anton Rosicky, Cather mengajak pembaca melihat bahwa kebaikan kepada orang asing bukan sekadar tindakan spontan. Kebaikan dapat menjadi nilai hidup yang diteruskan dari satu orang kepada orang lain.

Anton Rosicky adalah seorang imigran asal Ceko yang kemudian menetap sebagai petani di Nebraska, Amerika Serikat. Akan tetapi, sebelum memiliki kehidupan keluarga yang tenang, Rosicky pernah mengalami masa sulit ketika hidup di London saat masih muda.

Ia datang ke kota London dalam keadaan miskin, jauh dari rumah, dan tidak memiliki kepastian hidup. Dalam kondisi rentan tersebut, Rosicky ditampung oleh keluarga Lifschnitz, seorang penjahit miskin yang hidup bersama istri dan anak-anaknya di tempat yang sederhana.

Hal yang membuat peristiwa ini menyentuh adalah keluarga Lifschnitz sendiri bukan keluarga berkecukupan. Mereka tidak memiliki banyak harta untuk dibagikan. Namun, mereka tetap memberi Rosicky tempat tinggal dan makanan. Bahkan, istri Lifschnitz rela mengurangi bagian makannya demi memberikan makanan tambahan kepada Rosicky.

Tindakan itu menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu bergantung pada kemampuan ekonomi. Seseorang tidak harus kaya untuk membantu orang lain. Kadang, bantuan justru menjadi berharga karena diberikan oleh seseorang yang juga memahami rasanya kekurangan.

Berdasarkan wawancara dengan narasumber, Farroh Keyzar (mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Bengkulu) menyebut tindakan keluarga Lifschnitz sebagai bentuk “kebaikan tanpa hitung-hitungan”. Menurutnya, mereka membantu Rosicky bukan karena hubungan keluarga atau karena mengharapkan balasan, melainkan karena melihat seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Salah satu bagian paling membekas dalam Neighbour Rosicky terjadi pada adegan malam Natal. Rosicky yang kelaparan tanpa sengaja memakan sebagian angsa panggang milik keluarga Lifschnitz. Ia merasa sangat bersalah karena makanan itu merupakan sesuatu yang berharga bagi keluarga miskin tersebut.

Rosicky kemudian pergi ke jalanan London yang dingin. Dalam keadaan bingung dan putus asa, ia melihat sekelompok orang Ceko keluar dari restoran. Mereka adalah orang-orang asing baginya, tetapi Rosicky memberanikan diri meminta bantuan menggunakan bahasa ibunya.

Kemudian yang terjadi setelahnya justru menjadi titik penting dalam hidup Rosicky. Kelompok orang Ceko tersebut tidak mengusir, merendahkan, atau menyalahkannya. Mereka mengajak Rosicky makan, memberinya uang untuk mengganti angsa milik keluarga Lifschnitz, dan kemudian membantu biaya perjalanannya ke Amerika.

Peristiwa adegan itu mengajarkan bahwa orang asing tidak selalu hadir sebagai ancaman. Dalam kondisi tertentu, orang asing bisa menjadi pihak yang menolong kita ketika keluarga atau sahabat tidak berada di dekat kita.

Alfahri yang juga mahasiswa Pendidikan Bahasa inggris Universitas Bengkulu, narasumber dalam diskusi mengenai cerpen tersebut, memaknai bantuan kepada Rosicky sebagai bentuk gift economy atau sistem pay it forward. Ia mengatakan, “Kebaikan yang diterima Rosicky dari orang asing di London menciptakan semacam utang moral.”

Utang moral ini bukan berarti Rosicky harus mencari orang-orang yang pernah menolongnya untuk membayar mereka kembali. Kebaikan itu justru diteruskan kepada orang lain dalam bentuk yang berbeda.

Setelah dewasa, Rosicky hidup sebagai petani bersama istrinya, Mary, dan anak-anaknya di Nebraska. Ia memiliki kehidupan yang sederhana, tetapi hangat. Pengalaman hidupnya sebagai imigran miskin membuat Rosicky memahami arti menerima orang lain tanpa menghakimi.

Sikap tersebut terlihat dalam hubungannya dengan Polly, istri dari putranya, Rudolph. Polly adalah gadis kota yang pada awalnya merasa tidak nyaman dengan keluarga Rosicky. Ia merasa berbeda latar belakang dan belum sepenuhnya memahami kebiasaan keluarga imigran Ceko tersebut.

Rosicky tidak memaksa Polly agar segera menyatu dengan keluarganya. Ia tidak menuntut, mengkritik, atau menganggap Polly tidak bersyukur. Sebaliknya, ia mendekatinya dengan tindakan sederhana seperti meminjamkan mobil agar Polly dan Rudolph dapat pergi ke kota, membantu mencuci piring, dan memberi ruang bagi Polly untuk beradaptasi.

Narasumber yang berasal dari Sastra Inggris Universitas Muhammadiyah Semarang juga membahas cerpen ini dari sudut pandang sastra, yaitu Prananta Aguero, menjelaskan bahwa Polly pada awalnya “canggung dan menjaga jarak karena merasa asing dengan keluarga imigran Ceko.” Namun, Rosicky “enggak pernah menghakimi.”

Tindakan kecil itu perlahan mengubah hubungan mereka. Ketika Rosicky mengalami serangan jantung dan Polly merawatnya, ia akhirnya menyadari ketulusan sosok mertuanya. Untuk pertama kalinya, Polly memanggil Rosicky dengan sebutan “Father.”

Perubahan panggilan itu bukan sekadar detail emosional dalam cerita. Hal tersebut menunjukkan bahwa keramahan dan kepedulian mampu mengubah posisi seseorang dari “orang luar” menjadi bagian dari keluarga.

Cerita Rosicky terasa relevan dengan kehidupan modern. Di kota-kota besar, orang sering kali terlihat sibuk, terburu-buru, dan fokus pada urusannya masing-masing. Namun, seperti yang disampaikan Farroh Keyzar, sikap tersebut tidak selalu berarti masyarakat tidak peduli.

“Kalau kalian jalan di kota-kota gede sekarang, mau di mall atau pinggir jalan kesannya orang-orang tuh cuek banget,” ujar Farroh Keyzar. “Tapi menurut aku, itu bukan karena kita enggak peduli, melainkan bentuk etika your own business, lebih ke menghormati ruang pribadi orang.”

Menurut Farroh Keyzar, menghormati privasi tetap perlu diimbangi dengan kesiapan memberi bantuan dalam keadaan darurat. “Kalau ada yang tiba-tiba pingsan, kebingungan cari jalan, atau butuh bantuan darurat, refleks orang buat nolong tuh cepat banget. Kita ngasih jarak, tapi siap ngebantu kalau benar-benar dibutuhkan,” katanya.

Pandangan ini perlu dicatat. Peduli kepada orang asing tidak berarti kita harus ikut campur ke semua urusan orang lain. Etika sosial justru mengajarkan kemampuan membaca situasi, kapan kita perlu menghormati batas pribadi seseorang dan kapan kita perlu hadir sebagai sesama manusia.

Kepedulian dapat muncul dalam tindakan kecil. Menunjukkan arah kepada orang yang tersesat, membantu lansia membawa barang, memberi tempat duduk di kendaraan umum, atau sekadar bertanya apakah seseorang baik-baik saja ketika terlihat kesulitan. Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak tampak besar, tetapi dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Neighbour Rosicky juga menyampaikan kritik terhadap cara pandang yang hanya mengukur kehidupan melalui uang dan keuntungan. Dalam cerita tersebut, Rosicky tidak digambarkan sebagai orang yang mengejar kekayaan berlebihan. Ia lebih memilih keluarga yang sehat, makanan yang layak, hubungan yang hangat, dan kehidupan yang damai.

Alfahri menyebut pesan cerpen ini sebagai “penolakan terhadap materialisme yang berlebihan.” Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu dapat diukur dari banyaknya uang yang tersimpan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang membutuhkan uang, pekerjaan, dan pencapaian. Namun, cerita Rosicky mengingatkan bahwa semua itu tidak cukup apabila kita kehilangan kemampuan untuk memperlakukan orang lain dengan baik.

Kebaikan tidak selalu memberikan keuntungan langsung. Kita mungkin membantu seseorang yang tidak akan pernah kita temui lagi. Kita mungkin memberi waktu, tenaga, atau perhatian tanpa mendapatkan balasan. Namun, seperti pengalaman Rosicky, satu pertolongan dapat terus hidup melalui tindakan baik berikutnya.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan individualistis, kita mungkin tidak selalu mampu menyelesaikan masalah besar. Namun, kita masih dapat memilih untuk tidak menutup mata terhadap kesulitan orang lain. Karena bagi seseorang yang sedang merasa asing dan sendirian, kebaikan kecil dari kita bisa menjadi alasan untuk percaya bahwa dunia masih memiliki tempat bagi kemanusiaan.

Penulis: Mastrian Fakhturrahman

© Sepenuhnya. All rights reserved.