Dunia pendidikan keagamaan kontemporer kita sedang berada di bawah ujian historis yang tidak ringan. Di tengah kepungan arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan kompleksitas sosiologis masyarakat multikultural, Pendidikan Agama Islam (PAI) kerap dituduh terjebak dalam menara gading. Kritik paling tajam yang sering dialamatkan adalah kecenderungan riset dan praktiknya yang terlalu normatif, teologis-kaku, serta gagap ketika dihadapkan pada realitas empiris di lapangan.
Untuk mendobrak stagnasi tersebut, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menghadirkan cetak biru epistemologis yang monumental: Paradigma Twin Towers atau Menara Kembar. Konsep ini menolak keras dikotomi kaku antara ilmu-ilmu keislaman (revealed knowledge) dan sains sosial modern (acquired knowledge). Dua menara keilmuan ini diposisikan berdiri sejajar, saling menyapa, dan saling mengisi.
Namun, pertanyaan kritis yang patut diajukan oleh publik adalah: sejauh mana filosofi menara kembar ini benar-benar mengejawantah dalam ruang praksis lembaga pendidikan, tata kelola birokrasi, dan dinamika kebudayaan masyarakat kita?
Pendidikan Karakter dan Dinamika Sosial
Tantangan mendasar PAI selama ini adalah kesenjangan lebar antara tingginya narasi teoretis tentang nilai moral dan rendahnya efektivitas pembentukan karakter di lapangan. Pendidikan agama sering kali terdistorsi menjadi sebatas hafalan dogmatis.
Integrasi ilmu memberikan jawaban atas kemandekan ini. Praktik di Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum Jombang membuktikan bahwa pendidikan karakter berbasis nilai kenabian tidak lagi diajarkan sebagai materi kognitif murni, melainkan diintegrasikan ke dalam seluruh ekosistem kelembagaan. Bahkan, mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia diintegrasikan secara setara ke dalam syarat kelulusan dan praktik mengajar. Inilah bukti bahwa tatkala ilmu agama dan umum diposisikan sejajar, karakter siswa yang peduli dan berintegritas dapat terwujud secara nyata.
Sementara di tataran sosial-politik daerah, integrasi ilmu mengambil bentuk hubungan dialogis-kritis. Polemik formalisasi syariat Islam di Aceh memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana teks keagamaan berbenturan sekaligus berdialog dengan realitas sosiopolitik. Perseteruan antarapendekatan tekstual-faktual fiqh yang diusung lembaga birokrasi ulama dengan pendekatan esoteris-tasawuf kalangan tarekat menunjukkan bahwa formalisasi agama yang berwajah tunggal rentan memicu friksi. Di sinilah pendekatan interdisipliner—mengawinkan sosiologi agama dan ilmu politik—menjadi krusial agar agama dipahami sebagai wacana yang terus bernegosiasi secara sehat dengan kebudayaan lokal dan demokrasi.
Governance, Sains Data, dan Harmoni
Implementasi Twin Towers juga diuji pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Pengelolaan kampus sering kali terjebak dalam dikotomi: pendelegasian program akademik dilepaskan ke tingkat departemen, namun sentralisasi anggaran dipatok kaku. Di sini, Twin Towers ditantang menjadi etos kerja manajerial. Transparansi kurikulum dan akuntabilitas pengawasan internal merupakan perwujudan konkret nilai-nilai teologis, seperti amanah dan prinsip pengawasan (hisbah), yang diterjemahkan ke dalam Good University Governance (GUG).
Di ranah metodologi, keterisolasian riset keagamaan yang selama ini cenderung subjektif kini mulai didobrak melalui pemanfaatan sains data. Kolaborasi akademisi umum dan keagamaan dalam mengolah ribuan dokumen ilmiah Scopus menggunakan perangkat komputasi VOSviewer berhasil memetakan tren teknologi pendidikan secara presisi. Sains data berperan sebagai alat uji komputasi yang tajam, sementara keilmuan Islam menjadi ranah substansi yang diakselerasi ke kancah global.
Inklusivitas paradigma ini menemukan bentuk paling menyentuh di Madrasah Aliyah Bali Bina Insani, Tabanan. Berdiri di tengah masyarakat mayoritas Hindu, madrasah ini secara berani meleburkan filosofi kearifan lokal Bali Tri Hita Karana (harmoni manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam) ke dalam struktur kurikulum dan budaya sekolah. Pihak sekolah secara terbuka merekrut guru non-Muslim dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan lintas budaya. Melalui pendekatan dialogis, ajaran Islam diperjumpakan pada titik temu etis, mengubah kurikulum menjadi instrumen sosiologis yang ampuh merawat toleransi aktif.
Membangun Peradaban
Paradigma Twin Towers bukanlah menara gading teoretis, melainkan mesin penggerak transformasi peradaban. Integrasi keilmuan yang sejati menuntut keberanian epistemologis. Para akademisi dan praktisi PAI tidak boleh lagi alergi terhadap alat-alat analisis sains modern, sains data, maupun realitas kearifan lokal masyarakat.
Dari ruang kelas madrasah di Jombang, meja birokrasi kampus di Surabaya, hingga harmoni multikultural di Bali, semangat Twin Towers membuktikan bahwa agama dan sains, tatkala berdiri sejajar dan saling menyapa, mampu melahirkan peradaban pendidikan yang kokoh secara spiritual, rasional secara metodologis, dan inklusif bagi seluruh umat manusia.
Membedah rangkaian riset di atas membawa kita pada satu kesimpulan mendasar: Paradigma Twin Towers bukanlah menara gading teoretis, melainkan mesin penggerak transformasi peradaban.
Penerapan menara kembar ini mewujud secara elastis di berbagai lini kehidupan. Pada dimensi karakter dan pedagogi, integrasi nilai kenabian dan mata pelajaran umum diterapkan secara nyata di madrasah. Pada ranah sosial-politik, dialektika hukum fiqh, tasawuf, dan sosiologi politik saling menyapa secara terbuka dalam ruang publik. Di tingkat institusional, nilai-nilai etis Islam ditransformasikan menjadi tata kelola kampus yang transparan dan akuntabel. Sementara pada metodologi riset dan isu multikulturalisme, sains data komputasi dikawinkan dengan studi PAI, serta filosofi lokal disandingkan dengan nilai Islam untuk merawat harmoni sosial.
Integrasi keilmuan yang sejati menuntut keberanian epistemologis. Para akademisi dan praktisi pendidikan Islam tidak boleh lagi alergi terhadap alat-alat analisis sains modern, sains data, maupun realitas kearifan lokal masyarakat. Sebaliknya, instrumen-instrumen kontemporer tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk merekonstruksi, mengevaluasi, dan menyampaikan pesan-pesan profetik Islam agar senantiasa relevan dengan tuntutan zaman.
Dari ruang-ruang kelas madrasah di Jombang, meja birokrasi kampus di Surabaya, hingga harmoni multikultural di Bali, semangat Twin Towers sedang membuktikan dirinya. Agama dan sains, tatkala berdiri sejajar dan saling menyapa, mampu melahirkan peradaban pendidikan yang kokoh secara spiritual, rasional secara metodologis, dan inklusif bagi seluruh umat manusia.
Penulis:
Prof. Dr. H. Husniyatus Salamah Zainiyati, M. Ag., Agung Pratama Putra Buamona dan Hifdul adalah mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.