Di era digital seperti sekarang, gawai sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak sekolah dasar. Tidak sedikit anak yang menggunakan telepon genggam untuk menonton video, bermain gim, hingga mencari informasi untuk mengerjakan tugas sekolah. Kehadiran gawai memang memberikan kemudahan dalam memperoleh pengetahuan. Namun, muncul pertanyaan yang perlu diperhatikan bersama: apakah gawai benar-benar membantu anak belajar atau justru mengganggu konsentrasi mereka?
Pada dasarnya, gawai dapat menjadi media pembelajaran yang menarik bagi anak SD/MI. Melalui video edukasi, gambar interaktif, permainan berhitung, dan kuis digital, anak dapat mempelajari materi dengan cara yang lebih bervariasi. Misalnya, ketika mempelajari tata surya, anak tidak hanya membaca penjelasan dalam buku, tetapi juga dapat melihat animasi tentang pergerakan planet. Cara ini dapat membantu anak memahami materi yang sulit dibayangkan secara langsung.
Meskipun demikian, penggunaan gawai juga memiliki tantangan. Anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan mengendalikan perhatian dan mengatur perilakunya. Ketika anak terbiasa berpindah dari video pembelajaran ke permainan atau hiburan lainnya, mereka dapat mengalami kesulitan untuk tetap fokus pada satu kegiatan. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas yang tidak berkaitan dengan pelajaran.
Permasalahan ini tidak berarti bahwa gawai selalu berdampak buruk. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana anak menggunakan perangkat tersebut. Gawai yang digunakan untuk mencari informasi dengan tujuan yang jelas tentu berbeda dengan penggunaan tanpa batasan dan pendampingan. Oleh karena itu, menyalahkan teknologi sepenuhnya bukanlah solusi yang tepat. Orang tua dan guru perlu memahami bahwa teknologi dapat memberikan manfaat apabila digunakan sesuai kebutuhan anak.
Dalam lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan penggunaan gawai. Orang tua dapat membuat kesepakatan mengenai waktu penggunaan, mendampingi anak ketika mengakses konten digital, serta memastikan bahwa penggunaan gawai tidak mengganggu waktu tidur, belajar, bermain aktif, dan berinteraksi dengan keluarga. Selain itu, orang tua perlu memberikan contoh yang baik dengan tidak terus-menerus menggunakan telepon genggam ketika sedang menghabiskan waktu bersama anak.
Di sekolah, guru juga dapat memanfaatkan gawai sebagai media pembelajaran yang mendukung tujuan belajar. Misalnya, guru mengajak siswa menonton video pendek tentang lingkungan, kemudian meminta mereka mengamati kondisi sekitar sekolah dan mendiskusikan cara menjaga kebersihan. Dengan kegiatan tersebut, teknologi tidak hanya menjadi sarana untuk melihat informasi, tetapi juga menjadi penghubung antara materi pelajaran dan kehidupan nyata. Guru tetap perlu memberikan arahan yang jelas agar perhatian siswa tidak beralih ke aktivitas lain.
Selain itu, anak perlu diajarkan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua informasi di internet benar dan tidak semua konten sesuai untuk usia mereka. Kemampuan memilih informasi, menjaga privasi, serta mengetahui kapan harus berhenti menggunakan gawai merupakan bagian penting dari pendidikan di era digital.
Gawai dapat menjadi teman belajar sekaligus berpotensi mengganggu konsentrasi anak. Perbedaannya terletak pada tujuan penggunaan, kebiasaan, dan pendampingan yang diberikan. Anak tidak cukup hanya dilarang menggunakan gawai, tetapi juga perlu dibimbing agar mampu memanfaatkannya secara bijak. Orang tua dan guru perlu bekerja sama untuk menciptakan keseimbangan antara pembelajaran digital, aktivitas fisik, membaca buku, dan interaksi sosial.
Pendidikan yang baik bukan berarti menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi, melainkan membantu mereka memahami cara menggunakannya dengan tepat. Dengan pendampingan yang sesuai, gawai dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan mendukung proses belajar anak tanpa mengabaikan kebutuhan tumbuh kembang mereka.
Penulis:
Nazla Qisthy | Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.