Upaya Sederhana Mencegah Perundungan di SD/MI

Yuk simak cara mencegah perundungan di sekolah dengan menanamkan empati, menghargai perbedaan, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Pernahkah kita melihat seorang anak diejek oleh teman-temannya, tetapi ketika ia merasa sedih, teman-temannya justru berkata, “Ah, cuma bercanda”? Situasi seperti ini masih bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Candaan yang dianggap biasa oleh sebagian anak belum tentu menyenangkan bagi anak yang menerimanya. Jika dilakukan untuk menyakiti secara berulang, tindakan tersebut dapat menjadi bentuk perundungan yang perlu mendapat perhatian.

Mencegah Perundungan

Perundungan atau bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang, biasanya disertai ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang melakukan dan yang menjadi sasaran. Bentuknya tidak hanya berupa tindakan fisik, seperti memukul atau mendorong, tetapi juga dapat berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, hingga perundungan melalui media digital. Perundungan dapat membuat anak merasa takut, kehilangan kepercayaan diri, sulit berkonsentrasi, dan tidak nyaman berada di sekolah. Oleh karena itu, pencegahannya perlu dilakukan sejak dini.

1. Memberikan Pemahaman tentang Perundungan kepada Siswa

Salah satu cara awal untuk mencegah perundungan adalah dengan memberi pemahaman kepada siswa mengenai artinya, macam-macamnya, dan akibatnya. Guru bisa menjelaskan pelajaran dengan bercerita, berdiskusi secara santai, atau memberi contoh peristiwa sehari-hari yang terjadi dalam kehidupan anak. Misalnya, mengejek nama orang tua, tertawa pada teman yang belum mahir membaca, atau sengaja mengasingkan seseorang dari kelompok bermain. Siswa juga harus tahu bahwa tidak semua hal yang dilakukan dengan alasan bercanda itu benar, terutama jika membuat orang lain merasa sedih atau terhina.

2. Menanamkan Sikap Empati dan Menghargai Perbedaan

Anak-anak perlu terbiasa untuk mengerti perasaan orang lain dan menghargai perbedaan yang ada. Setiap murid memiliki sifat, kemampuan, penampilan, dan latar belakang yang berbeda-beda. Guru bisa memberikan contoh dengan cara melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya mengajak siswa untuk membantu teman yang sedang kesulitan, tidak mengejek kelemahan orang lain, serta menghargai pendapat teman-teman. Dengan belajar memiliki rasa empati, siswa diharapkan bisa mengerti bahwa kata-kata dan perbuatan mereka bisa berdampak pada perasaan orang lain.

3. Menciptakan Lingkungan Kelas yang Aman dan Nyaman

Guru bisa mengajak siswa membuat perjanjian kelas yang berisi aturan-aturan yang sederhana, seperti tidak mengejek teman, tidak mengucilkan orang lain, dan saling bantunya ketika ada teman yang kesulitan. Kesepakatan ini harus diterapkan secara konsisten agar tidak hanya menjadi tulisan yang dicantumkan di dinding kelas. Selain itu, guru juga harus memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan belajar tanpa merasa takut dihina atau tertawa oleh orang lain. Lingkungan kelas yang aman membuat siswa merasa lebih tenang dan nyaman saat belajar serta berinteraksi dengan teman dan guru.

4. Meningkatkan Kepedulian Guru dan Keberanian Siswa untuk Melapor

Guru harus mengamati perubahan cara berperilaku siswa, seperti anak yang biasanya aktif jadi pendiam, sering bermain sendirian, atau tampak malas pergi ke sekolah. Perubahan itu tidak selalu berarti ada perlakuan kasar, tetapi sebaiknya dilihat lebih dalam. Guru juga perlu membuat lingkungan yang membuat siswa merasa nyaman untuk menceritakan pengalaman atau yang mereka saksikan saat mengalami perundungan. Jika ada laporan, guru harus mendengarkan dengan baik, mencari tahu kejadian secara adil, melindungi siswa yang terkena dampak, dan menangani sesuai prosedur sekolah. Siswa yang melihat perundungan harus diajarkan untuk tidak tertawa pada korban dan berani meminta bantuan orang dewasa.

5. Melibatkan Orang Tua dalam Pencegahan Perundungan

Mencegah perundungan bukan hanya tugas guru dan sekolah, tetapi juga membutuhkan bantuan dari orang tua. Orang tua bisa ajarkan anak untuk menceritakan pengalaman di sekolah, mengajarkan cara menghormati orang lain, dan menunjukkan contoh sikap yang baik di rumah. Jika anak mengalami perubahan perilaku atau menceritakan pengalaman yang membuatnya merasa tidak nyaman, orang tua harus mendengarkan dengan sabar tanpa langsung menyalahkan anak. Komunikasi yang baik antara orang tua dan sekolah juga penting agar masalah bisa terdeteksi dan ditangani dengan tepat.

Menurut saya, mencegah perundungan tidak selalu harus dimulai melalui program besar. Kebiasaan sederhana, seperti tidak mengejek teman, menghargai perbedaan, mendengarkan cerita anak, dan berani melaporkan tindakan yang menyakiti orang lain, dapat menjadi langkah awal yang berarti. Namun, upaya tersebut harus dilakukan secara konsisten dan disertai penanganan yang tepat ketika perundungan terjadi.

Sekolah yang aman bukan hanya sekolah yang bebas dari perkelahian, melainkan juga tempat setiap anak merasa dihargai dan diterima. Guru, siswa, dan orang tua perlu bekerja sama agar perundungan tidak dianggap sebagai hal yang biasa. Sebab, setiap anak berhak belajar dengan tenang, berteman tanpa rasa takut, dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangannya.

Daftar Referensi:

  1. detikEdu. (2023). 5 Cara Mencegah Praktik Bullying di Sekolah. DetikSumut. https://www.detik.com/sumut/berita/d-6992975/5-cara-mencegah-praktik-bullying-di-sekolah
  2. Direktorat Sekolah Dasar. (2021). Stop Perundungan/Bullying Yuk! Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini,Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
  3. Engage Education. (2025). 5 Cara Mencegah Perundungan di Kelas. Engage Education.
  4. RM. (2024). Strategi Pencegahan Bullying dan Kekerasan Pada Anak di Lingkungan Sekolah Kelurahan Tenggilis:Pendekatan Terpadu. Kompasiana.Com.
  5. UNICEF Indonesia. (2018). Tipa untuk guru dalam mengatasi perundungan (bullying). UNICEF Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/id/child-protection/tips-untuk-guru-mengatasi-bullying

Penulis:

Mutia Rohman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui tulisan ini, ia ingin mengajak guru, orang tua, dan siswa untuk lebih peduli terhadap pencegahan perundungan sejak dini melalui langkah-langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.