Riuh rendah ‘suara’ dari berbagai situasi dan kondisi di segala bidang secara global. Entah apa yang membuat seseorang menjadi gelisah. Kekhawatirankah atau hanya mengikuti FOMO informasi saat ini. Meski merasa gelisah ataupun khawatir tetapi tetap kepo mencari informasi itu. Langkah demi langkah dilakukan untuk dapat menemukan solusi dan menerka harapan yang tersisa dari survival kehidupan untuk dapat bertahan di era ini. Banyak pilihan untuk dipilih oleh survival kehidupan, dan itu menjadi hak masing-Masing pribadi. Salah satu pilihannya mencari ketenangan. Ketenangan jiwa, raga, dan mental.
In this economy, esensi diri manusia memiliki potensi meningkatkan ketenangan jiwa dan raga serta mental. Kondisi dan karakter diri pribadi seseorang berbeda-beda. Cara menemukan solusi pun berbeda-beda. Dilihat dari permasalahan yang dimiliki masing-masing pribadi. Kondisi religi, kondisi keuangan, kondisi relationship, kondisi pekerjaan, kondisi diri, ataupun yang lainnya. Seseorang berhak memilih solusi dan sebenarnya semua memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan ketenangan pada diri. Diri menjadi sehat jiwa raga dan mental. Salah satu cara menyikapi dan bertindak dengan selalu bersyukur. Bentuknya pun bermacam-macam. Berbagi kebahagian dengan berbagi berkah untuk sesama bisa jadi cara meningkatkan ketenangan jiwa, raga serta mental.
Berbagi berkah tidak harus menunggu memiliki banyak duit atau menunggu peristiwa spesial. Yang penting mulai saja dulu. Berapapun kuantitas barang yang disediakan, langsung bisa dijalankan. Tanpa banyak berkaitan dengan berbagai pihak, mendadak pun bisa segera dijalankan. Konsepnya, pertama tentukan terlebih dahulu budget sesuai kemampuan, kedua tentukan jenis barang apa saja yang akan dibagikan, ketiga tentukan kuantitas masing-masing jenis barang, lalu keempat segera sediakan barang-barang yang sudah ditentukan di awal, dan kelima proses pendistribusian. Konsep pendistribusian banyak pilihannya. Bisa ditentukan sesuai keinginan masing-masing pribadi yang penting nyaman dan menjadi bahagia saat melakukannya. Harapannya melakukan hal seperti ini dapat menjadikan seseorang selalu bersyukur dan dapat meningkatkan ketenangan pada dirinya.
Harapan utama sebenarnya menjadi manusia versi terbaik yang mengharap nirwana sang pencipta dan sang pemilik hidup. Terdengar klasik dan sederhana. Kenyataannya itulah cita-cita terbaik manusia yang sesungguhnya.
Penulis:
Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si. (Bu Puri) adalah dosen program studi pendidikan matematika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) IKIP Widya Darma Surabaya dari tahun 2012 hingga saat ini. Bu Puri menyelesaikan studi sarjana dan magister di jurusan Matematika Fakultas Sains Analisis Data (FSAD) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Beliau aktif melakukan penelitian di bidang aljabar max plus, pemodelan matematika, dan pendidikan matematika serta bidang matematika lainnya. Selain itu, beliau juga aktif melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama organisasi sosial formal maupun non formal.