Puisi: Penjarah Sahaja (Karya Sosiawan Leak) Penjarah Sahaja ( - bagi Gusmus ) Kesahajaan adalah ; mata air yang mengucur dari gunung menjelma teduh ka…
Puisi: Al-Hadid (Karya Fatin Hamama) Al-Hadid Ketika sepotong besi jadi tombak Besi tak pernah tahu Untuk apa dia dijadikan tombak Ketika sepotong besi jadi pisau Pisau tak pernah tahu U…
Puisi: Ruwat Tangis Anak Negeri (Karya Diah Hadaning) Ruwat Tangis Anak Negeri (1) Doa telah dilantunkan tembang wingit mengantarkan anak manusia awali langkah pe…
Puisi: Mendiami Rumah Tangga (Karya Ari Setya Ardhi) Mendiami Rumah Tangga sesekali kegetiran angin mendesir merapatkan gigilan selimut bersama aroma kesakralan percakapan di kesyahduan ranjang mawarmu …
Puisi: Menawan Tanah Keterasingan (Karya Ari Setya Ardhi) Menawan Tanah Keterasingan keheningan telah menaburkan gambar yang berloncatan dari kamar-kamar spanduk menuai berita-berita diantara kekerontangan t…
Puisi: Mimpi Buruk (Karya Yvonne de Fretes) Mimpi Buruk (kenangan pada konflik di maluku...) tak kukenal lagi matamu yang berderai menatap langit muram, kelam berasap oleh…
Puisi: Ayat-Ayat Kyoto (Karya Sapardi Djoko Damono) Ayat Kyoto (1) Segala yang mendidih dalam kepala tidak nyata, kecuali sakura dan kau - tentu saja. Ayat Kyo…
Puisi: Adalah Adalah (Karya Rayani Sriwidodo) Adalah Adalah Batin bening di tengah hingar duniawi perjalanan adalah perhentian dada henti perhentian adalah perjalanan itu sendiri Allah zikirku se…
Puisi: Senja di Siring Laut (Karya John FS. Pane) Senja di Siring Laut kubiarkan hatiku bermuara di sini bernaung jauh dari amuk gelombang dan berayun pada kepolosan makna hari-hari ketika bayangmu t…
Puisi: Aku Ingin (Karya Nurhayat Arif Permana) Aku Ingin Aku ingin berteriak, kau bilang aku gila Aku ingin menangis, kau kata aku cengeng Aku ingin berlari, kau tuduh aku pengecut Aku ingin diam …
Puisi: Kenangan Seperempat Abad Silam (Karya Ahmad Syubbanuddin Alwy) Kenangan Seperempat Abad Silam --jalan-jalan masih berdarah, luka pohonan berkabut dalam risik gelisah, riuh pertempuran menghambur hancur ke pelukan…
Puisi: Kota yang Terkutuk (Karya Mardi Luhung) Kota yang Terkutuk Kota yang terkutuk adalah sekarung-tenung yang galau oleh bisik-bisik dan bom dan di atasnya, sekiat perut-matahari mengeringkan s…