Puisi: Jika Kau Sudah Besar, Yutta (Karya Agam Wispi) Jika Kau Sudah Besar, Yutta di bawah rintik salju stalin berdiri depannya tangkap-menangkap kemerjap berjuta lampu stalin-allee berlin bangkit dari s…
Puisi: Sajak Putih Danau Putih (Karya Agam Wispi) Sajak Putih Danau Putih kelam warna puncak samosir selamat malam, katanya, selamat malam diam tusam bagai rindang ceri enaknya makan rujak dingin beg…
Puisi: Tinoor (Karya Agam Wispi) Tinoor Para lelaki sudah pergi atau mati yang kembali ketinggalan hati di tanah seberang di kota ramai pulangnya tak berarti Kami yan…
Puisi: Satu Mei di Gunung (Karya Agam Wispi) Satu Mei di Gunung kecil motor ini dicengkam gunung nganga jurang, tapi kutahu pulang dan pergi ada yang menunggu pesta tugas suara gong jabat-salam …
Puisi: Elbe (Karya Agam Wispi) Elbe pernah elbe merah mandi darah oleh batu arang untuk perang kini elbe cerlang hitam oleh batu arang untuk kamar yang dipanaska…
Puisi: Orang-Orang Lorong (Karya Agam Wispi) Orang-Orang Lorong Dentang piano di hari basah sampai juga ke jendela tinggal bingkai di sana terpahat waj…
Puisi: Kota Tua (Karya Agam Wispi) Kota Tua harmonika itu berderai ke sungai tiada perahu bagi venesia boleh mimpi tak sampai-sampai tapi di…
Puisi: Elend (Karya Agam Wispi) Elend (Untuk Renate Schifferli) Berlagu gadis kecil harum dunia di wajahnya akordeon di tangannya Dan …
Puisi: Sekuntum Bunga untuk DNA yang Dibunuh (Karya Agam Wispi) Sekuntum Bunga untuk DNA yang Dibunuh Sekuntum bunga untuk DNA yang dibunuh aku ingat sepatumu yang usang capalan namun matamu tak t…
Puisi: Matinya Seorang Petani (Karya Agam Wispi) Matinya Seorang Petani (1) (buat L. Darman Tambunan) Depan kantor tuan bupati tersungkur seorang petani ka…