Puisi: Nyai Munah (Karya Agam Wispi) Nyai Munah (1) orang kutik mau dikerunyut kulitnya tapi dia nyanyi hampa hati sendiri atau gerutu: rumahnya tidak berpintu lagi memberingas kejam mal…
Puisi: Sahabat (Karya Agam Wispi) Sahabat dua kali dimamah maut oleh cinta hidup tertambat baru berarti mereguk hidup jika derita duka sah…
Puisi: Gadis Tani (Karya Agam Wispi) Gadis Tani pernah rumput-rumput bermusim bunga di hijau padang mekar tak berbau dan di pagi segar gadis tani tak berdandan percikan lumpur kering di …
Puisi: Revolusi (Karya Agam Wispi) Revolusi kupancing kau masuk hutan kau ikuti aku seperti bayangan tinggal pantai hilang lautan bertimbun b…
Puisi: Demokrasi (Karya Agam Wispi) Demokrasi jenderal, telah kami pasang bintang-bintang di dada kalian dari rejam tuan tanah dan lintah kutuntut bintangmu: mana tanah?! …
Puisi: Plakat (Karya Agam Wispi) Plakat buat ulangtahun Partai demokrasi pun bukanlah bagi mereka yang menjual rakyat kepada belanda demokrasi pun bukanlah bagi mereka yang menjual d…
Puisi: Yang Tak Terbungkamkan (Karya Agam Wispi) Yang Tak Terbungkamkan buat Pak Sakir berita itu datang bagai sahabat setia singgah lembah lewat hutan desa, ingar-bingar jalan kota ke sela-sela der…
Puisi: Pulang (Karya Agam Wispi) Pulang Di mana kau pohonku hijau di sini aku sudah jadi batu Hai perantau darimana kau darimana saja aku …
Puisi: Tangan Seorang Buruh Batu-Arang (Karya Agam Wispi) Tangan Seorang Buruh Batu-arang Trem lari-lari di bawah rintik salju wajah dalamnya tiada sehijau rumput negeriku di sini di bumi kelabu h…
Puisi: Terzina Maut (Karya Agam Wispi) Terzina Maut Suatu hari: kau mati dalam sunyi Tentu! sendirian: sendiri. 2003 Analisis Puisi: Puisi &quo…