Puisi Bahrum Rangkuti

Puisi: Lebaran di Tengah-Tengah Gelandangan (Karya Bahrum Rangkuti)

Lebaran di Tengah-Tengah Gelandangan Di pinggir empang Pondok Cabe antara bukit-bukit bambu dan pohon cemara mulai menguntum apa y…

Puisi: Bunda (Karya Bahrum Rangkuti)

Bunda Kemarin aku datang padamu. Di tanganku kain bersulam dan ketupat santan, masakan mantumu sehari yang lalu. Tak datang ia ber…

Puisi: Akibat (Karya Bahrum Rangkuti)

Akibat Aku masuk penjara komunis atau gerakan rahasia bersama Anwar dan Ramli kami banyak menahan gentar di sekitar darah dan mati da…

Puisi: Anak-anakku (Karya Bahrum Rangkuti)

Anak-anakku Hari menanjak siang. Malam berangsur hilang dari permukaan bumi Kelian tumbuh dan besar dalam sentuhan suci dan ci…

Puisi: Dunia Baru (Karya Bahrum Rangkuti)

Dunia Baru Dalam kamar Basyir kulihat penuh gambar warna-warni. Merah, kuning dan hijau bersihantam. Muda-mudi menari kelojotan. …

Puisi: Ayahanda (Karya Bahrum Rangkuti)

Ayahanda Pada hari-hari ini terasa ayah hadir lagi Kulihat engkau seperempat abad lalu dalam engah terakhir memetik janji dari Apul, agar Kab…

Puisi: Hidupku (Karya Bahrum Rangkuti)

Hidupku Orang berkata aku kapal sedang karam oleh beban membenam buritan Katakanlah demikian, kasih aku tiada akan marah. …

Puisi: Mula Segala (Karya Bahrum Rangkuti)

Mula Segala Penyamaian cinta pertama meski bukan jadi Pelaku, hanya penjelmaannya, ialah ketika Bunda Melahirkan si Ucok ini di …

Puisi: Nafiri Ciputat (Karya Bahrum Rangkuti)

Nafiri Ciputat (1) Mari bersinandung lagi, sayang sebagai dulu, pebila ramadhan datang kembali Kita lagukan insan, cinta, dan Il…
© Sepenuhnya. All rights reserved.