Puisi: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (Karya Beni Satryo) Pendidikan Jasmani dan Kesunyian Aku duduk terlalu lama menantimu. Dengkulku menjadi gula batu dalam sejuta abad cangkir-cangkir teh yang beku. Sepas…
Puisi: Jakarta (Karya Beni Satryo) Jakarta Mari kita bertukar lemper dan saling merasakan ada yang lengket di hati kita. Aku punya sebungkus Djarum Super di saku jaket--cukup buat kita…
Puisi: Korintian (Karya Beni Satryo) Korintian Puisiku, bayi-bayi mati yang tumbuh di rahim kesunyian. Sebab, kau tahu: Huruf membunuh, tetapi roh menghidupkan. Sumber: Pendidikan Jasman…
Puisi: Ibu Menjahit Sarapan (Karya Beni Satryo) Ibu Menjahit Sarapan Ibu menjahit. Luka-luka sarapan. Di taplak meja. Sumber: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (Buku Mojok, 2020) Analisis Puisi: Pui…
Puisi: Pencuri Akhir Pekan (Karya Beni Satryo) Pencuri Akhir Pekan Ada yang menjugil jendelamu. Mengambil kantukmu diam-diam. "Malllmiiiiing!" kau berteriak sekuat tenaga. Aku mendengkur…
Puisi: Selepas Azan (Karya Beni Satryo) Selepas Azan Kau tak akan murtad karena sebuah perjalanan. Pada jeda istirahat selepas azan, sandarkan punggung lelah di tiang-tiang agama. Datanglah…
Puisi: Anakonda (Karya Beni Satryo) Anakonda Sore tadi, sehabis berdoa, ia dengar pak ustad bercerita tentang surga di bawah telapak kaki ibu. Lalu ia menangis sambil memeluk tubuhku da…
Puisi: Kacang Panjang (Karya Beni Satryo) Kacang Panjang Ibu kami rajin sembahyang. Setiap pagi ia bersolek menggunakan air dari gentong sebelum berdoa dalam hati. Doanya seperti kacang panja…
Puisi: Bertamu ke Kuburan Ayah (Karya Beni Satryo) Bertamu ke Kuburan Ayah Aku bertamu ke kuburan ayah. Memohon doa restu. "Kemarin kemiskinan datang ke rumah," kataku. "Ia melamar ibu.…
Puisi: Astrea (Karya Beni Satryo) Astrea Melaju dengan Honda Astrea pulang ke tanah Jawa. Nasib lucut dari dalam berkat berjatuhan di jalan raya lalu kaupungut dan kauikat dengan tali…
Puisi: Di Restoran (Karya Beni Satryo) Di Restoran Kau bertanya banyak hal saat kita mampir di restoran itu. Ini apa? Lada. Ini? Garam dan saus. Itu apa? Pisau dan garpu. Itu? Kau menunjuk…
Puisi: Orkes Pemupus Dendam (Karya Beni Satryo) Orkes Pemupus Dendam Di bawah langit yang masih muda lelaki bershio gabah berjalan terhuyung. Ia sudah tak punya lagi keberanian. Pagi datang menghun…
Puisi: Duri Dalam Daging (Karya Beni Satryo) Duri Dalam Daging Semerbak wangi terpal. Aroma tubuh yang hancur dikoyak badai pecel lele. Temukan penunjuk arahmu kesetiaan adalah daun kemangi di d…
Puisi: Perempuan Separuh Buntil (Karya Beni Satryo) Perempuan Separuh Buntil Perempuan separuh buntil. Tubuhnya terbuat dari parutan rindu dan harum gurih remah kelapa yang subtil. Sumber: Pendidikan J…
Puisi: Menyiram Kuah Soto (Karya Beni Satryo) Menyiram Kuah Soto Aku menyiram kuah soto di singup hatimu agar cinta kita tumbuh menjadi botol kecap yang menantang patgulipat air mata dalam setiap…
Puisi: Setelah Lebaran (Karya Beni Satryo) Setelah Lebaran "Tuan. Nama tuan Lebaran?" Langit di sekujur tubuhnya. Matanya tua dan lelah. Sesekali berkilat. Lelaki itu menggeleng. &qu…
Puisi: Senayan (Karya Beni Satryo) Senayan Kudengar lagi swaramu. Empuk dan merdu. Persis dengkul Brimob dan ricik water canon di malam itu--di depan pagar Senayan saat kita berbulan m…