Puisi Beni Satryo

Puisi: Bertamu ke Kuburan Ayah (Karya Beni Satryo)

Bertamu ke Kuburan Ayah Aku bertamu ke kuburan ayah. Memohon doa restu. "Kemarin kemiskinan datang ke rumah," kataku. "Ia melamar ibu.…

Puisi: Astrea (Karya Beni Satryo)

Astrea Melaju dengan Honda Astrea pulang ke tanah Jawa. Nasib lucut dari dalam berkat berjatuhan di jalan raya lalu kaupungut dan kauikat dengan tali…

Puisi: Di Restoran (Karya Beni Satryo)

Di Restoran Kau bertanya banyak hal saat kita mampir di restoran itu. Ini apa? Lada. Ini? Garam dan saus. Itu apa? Pisau dan garpu. Itu? Kau menunjuk…

Puisi: Orkes Pemupus Dendam (Karya Beni Satryo)

Orkes Pemupus Dendam Di bawah langit yang masih muda lelaki bershio gabah berjalan terhuyung. Ia sudah tak punya lagi keberanian. Pagi datang menghun…

Puisi: Duri Dalam Daging (Karya Beni Satryo)

Duri Dalam Daging Semerbak wangi terpal. Aroma tubuh yang hancur dikoyak badai pecel lele. Temukan penunjuk arahmu kesetiaan adalah daun kemangi di d…

Puisi: Perempuan Separuh Buntil (Karya Beni Satryo)

Perempuan Separuh Buntil Perempuan separuh buntil. Tubuhnya terbuat dari parutan rindu dan harum gurih remah kelapa yang subtil. Sumber: Pendidikan J…

Puisi: Menyiram Kuah Soto (Karya Beni Satryo)

Menyiram Kuah Soto Aku menyiram kuah soto di singup hatimu agar cinta kita tumbuh menjadi botol kecap yang menantang patgulipat air mata dalam setiap…

Puisi: Setelah Lebaran (Karya Beni Satryo)

Setelah Lebaran "Tuan. Nama tuan Lebaran?" Langit di sekujur tubuhnya. Matanya tua dan lelah. Sesekali berkilat. Lelaki itu menggeleng. &qu…

Puisi: Senayan (Karya Beni Satryo)

Senayan Kudengar lagi swaramu. Empuk dan merdu. Persis dengkul Brimob dan ricik water canon di malam itu--di depan pagar Senayan saat kita berbulan m…

Puisi: Aku Masuk ke Sebuah Kota (Karya Beni Satryo)

Aku Masuk ke Sebuah Kota Aku masuk ke sebuah kota yang terbuat dari runtuk gorengan. Aku mengetuk bibir wajan yang dinginnya menciutkan tangan. Dan w…
© Sepenuhnya. All rights reserved.