Puisi: Aku Masuk ke Sebuah Kota (Karya Beni Satryo)

Puisi “Aku Masuk ke Sebuah Kota” karya Beni Satryo mengingatkan bahwa waktu dapat membuat ingatan terhadap seseorang perlahan memudar, meskipun ...

Aku Masuk ke Sebuah Kota

Aku masuk ke sebuah kota
yang terbuat dari runtuk gorengan.

Aku mengetuk bibir wajan
yang dinginnya menciutkan tangan.

Dan wajahmu yang seledri tak kuingat lagi.

Senja pecah di atas mendoan.
Mengalir sambel kecap di dalam hati.

Sumber: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (Buku Mojok, 2020)

Analisis Puisi:

Puisi “Aku Masuk ke Sebuah Kota” karya Beni Satryo merupakan puisi pendek yang unik dan kaya simbol keseharian. Dengan menggunakan unsur makanan seperti gorengan, mendoan, sambal kecap, dan wajan, penyair menghadirkan suasana kota yang sederhana tetapi sarat kenangan, kehilangan, dan perasaan emosional.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan kehilangan dalam ruang kehidupan sehari-hari. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kerinduan, kesederhanaan hidup, dan hubungan antara tempat dengan ingatan seseorang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memasuki sebuah kota yang digambarkan secara simbolik melalui suasana warung gorengan dan makanan sederhana. Kota tersebut bukan hanya tempat fisik, tetapi juga ruang kenangan yang berkaitan dengan seseorang yang pernah dekat dengannya.

Penyair mencoba menyentuh dan mengenali suasana kota itu melalui:
  • “runtuk gorengan,”
  • “bibir wajan,”
  • hingga “mendoan” dan “sambel kecap.”
Namun di tengah suasana tersebut, penyair justru mulai kehilangan ingatan tentang wajah seseorang yang disebut:

“wajahmu yang seledri.”

Pada akhir puisi, suasana senja dan sambal kecap yang “mengalir di dalam hati” memperlihatkan campuran rasa nostalgia, sedih, dan kerinduan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kenangan sering melekat pada hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Tempat, makanan, dan suasana tertentu dapat menghidupkan kembali perasaan lama, meskipun ingatan tentang seseorang perlahan mulai memudar.

Puisi ini juga menyiratkan:
  • kehilangan tidak selalu hadir secara dramatis,
  • kenangan dapat tersimpan dalam pengalaman kecil,
  • dan rasa rindu sering muncul melalui hal-hal biasa.
Larik:

“Dan wajahmu yang seledri tak kuingat lagi.”

menunjukkan mulai memudarnya ingatan terhadap seseorang yang pernah penting.

Sementara:

“Mengalir sambel kecap di dalam hati.”

menjadi simbol rasa emosional yang bercampur: manis, pedas, dan sendu.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kenangan hidup sering tersembunyi dalam hal-hal sederhana yang tampak biasa. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa waktu dapat membuat ingatan terhadap seseorang perlahan memudar, meskipun perasaan tertentu masih tersisa.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa imaji yang cukup kuat, antara lain:
  • Imaji Visual: Terlihat pada “kota yang terbuat dari runtuk gorengan”, “bibir wajan”, “senja pecah di atas mendoan”. Pembaca dapat membayangkan suasana warung sederhana dengan nuansa senja.
  • Imaji Perabaan: Tampak pada “dinginnya menciutkan tangan” yang menghadirkan sensasi dingin secara fisik.
  • Imaji Pengecapan: Terlihat pada “sambel kecap” yang menghadirkan bayangan rasa makanan khas yang akrab dan kuat.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Majas Metafora: “kota yang terbuat dari runtuk gorengan” menjadi metafora suasana kota yang sederhana dan dekat dengan kehidupan rakyat kecil. “wajahmu yang seledri” menjadi metafora sosok yang segar, khas, atau unik dalam ingatan.
  • Majas Personifikasi: Pada larik “Senja pecah di atas mendoan.” senja digambarkan seolah dapat pecah seperti benda hidup atau benda fisik.
  • Majas Simbolik: Beberapa simbol penting dalam puisi: “gorengan” melambangkan kehidupan sederhana, “mendoan” melambangkan suasana hangat dan akrab, “sambel kecap” melambangkan campuran rasa kehidupan dan perasaan.
Puisi “Aku Masuk ke Sebuah Kota” karya Beni Satryo merupakan puisi yang memadukan kenangan, makanan, dan suasana kota menjadi refleksi emosional yang sederhana tetapi mendalam. Dengan simbol-simbol keseharian, penyair berhasil menunjukkan bahwa kehilangan dan kerinduan sering hadir melalui hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan manusia.

Beni Satryo
Puisi: Aku Masuk ke Sebuah Kota
Karya: Beni Satryo

Biodata Beni Satryo:
  • Beni Satryo lahir pada tanggal 21 November 1988 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.