Puisi: Sydney (Karya Goenawan Mohamad) Sydney Pada jam ke-24 kota seperti khianat: Sydney telah terkunci dalam gelas pagi. Ada bulan mengukur luas laut dan musim pan…
Puisi: Saya Cemaskan Sepotong Lumpur (Karya Goenawan Mohamad) Saya Cemaskan Sepotong Lumpur Saya cemaskan sepotong lumpur di koral halaman. Saya cemaskan sepotong daun di koral halaman. S…
Puisi: Kwatrin tentang Sebuah Poci (Karya Goenawan Mohamad) Kwatrin tentang Sebuah Poci Pada keramik tanpa nama itu kulihat kembali wajahmu Mataku belum tolol, ternyata untuk sesuatu yang tak ada.…
Puisi: Gatoloco (Karya Goenawan Mohamad) Gatoloco Aku bangun dengan 7.000.000 sistem matahari bersatu pada suatu pagi Beri aku es! teriakku, Tiba-tiba kulihat Kau di sud…
Puisi: Sajak untuk Bungbung (Karya Goenawan Mohamad) Sajak untuk Bungbung Tiap tengah malam hujan mendarat pada atap anak yang mimpi Tentang seorang pilot, tanpa pesawat di atas sawah dan pag…
Puisi: Di Malioboro (Karya Goenawan Mohamad) Di Malioboro Kepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965 Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh di…
Puisi: Sajak Sehabis Mimpi (Karya Goenawan Mohamad) Sajak Sehabis Mimpi Tak seorang akan tahu kur siapa yang nyanyi pada sebuah magrib dalam mimpiku. Tak seorang akan tahu. …
Puisi: Almanak (Karya Goenawan Mohamad) Almanak Amat bisu sejarah: kuketuk pintunya dan aku menunggu Satu jam lagi menyerah dan satu jam lagi menyerah bom jatuh di tengah malamku -…
Puisi: Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum (Karya Goenawan Mohamad) Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum "Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku." Seperti jadi senyap sal…
Puisi: Nina Bobok (Karya Goenawan Mohamad) Nina Bobok Tidurlah, bocah, di atas bumi yang tak tidur Tidurlah di atas rumput, di atas pasir, di atas ranjang Tidurlah bersama rama-rama, o…
Puisi: Tahun pun Turun Membuka Sayapnya (Karya Goenawan Mohamad) Tahun pun Turun Membuka Sayapnya Tahun pun turun membuka sayapnya ke luas-jauh benua-benua Laut membias: warna biru langit t…
Puisi: Jangan Lagi Engkau Berdiri (Karya Goenawan Mohamad) Jangan Lagi Engkau Berdiri Jangan lagi Engkau berdiri di jendela-jendela sunyi dan kelam kali Jangan lagi Engkau tak mengerti sajak apakah…
Puisi: Di Muka Jendela (Karya Goenawan Mohamad) Di Muka Jendela Di sini cemara pun gugur daun. Dan kembali ombak-ombak hancur terbantun. Di sini kemarau pun menghembus bumi me…
Puisi: Surat-Surat tentang Lapar (Karya Goenawan Mohamad) Surat-Surat tentang Lapar untuk Atiek, di Gunung Kidul. Tandus kapur mengepung Cinta pedih rembulan gunung Kesetiaan penghuni malam-m…