Puisi Lia

Puisi: Hampa (Karya Lia)

Hampa Detik jarum jam terus berlalu Sisa-sisa tawa menghantui dalam hening Kilasan masa lalu menyapa tanpa henti Rindu, sedih dan kecewa bercampur da…

Puisi: Penarik Becak (Karya Lia)

Penarik Becak Adzan Isya telah berlalu Pengayuh asa mulai berangkat mencari rezeki  Senyum merekah kala gemuruh kembang api menyapa telinga Penuh har…

Puisi: Pertemuan Antara Dua Alam (Karya Lia)

Pertemuan Antara Dua Alam Semilir angin lewati jendela kamar Bau petrikor bercampur aroma bunga kenanga  Malam semakin gelap, sunyi dan mencekam Tak …

Puisi: Edelweiss Terakhir (Karya Lia)

Edelweiss Terakhir Hujan mengguyur bumi di ujung Desember Kotak Edelweiss tahun lalu masih tertata rapi Namun, hadirmu tak lagi ada Kau hilang, lenya…

Puisi: Lelaki yang Terbuang (Karya Lia)

Lelaki yang Terbuang Di tengah riuhnya pendar kembang api  Lelaki itu hanya menatap datar dari seberang jalan Tak ada senyum ataupun tawa Hanya sunyi…

Puisi: Misteri Rumah Tua (Karya Lia)

Misteri Rumah Tua pagi yang cerah beranjak siang rakit melaju ke arah hutan  membawa gadis pemilik lesung pipi manis itu menuju rumah tua yang menyim…
© Sepenuhnya. All rights reserved.