Puisi: Lelaki yang Terbuang (Karya Lia)

Puisi “Lelaki yang Terbuang” karya Lia bercerita tentang seorang lelaki ringkih yang berdiri di seberang jalan saat kembang api menerangi langit.

Lelaki yang Terbuang


Di tengah riuhnya pendar kembang api 
Lelaki itu hanya menatap datar dari seberang jalan
Tak ada senyum ataupun tawa
Hanya sunyi di matanya
Semilir angin terpa tubuh yang ringkih
Kain lusuh pada tubuhnya tak mampu menahan dingin
Sesekali ia menggigil, tetapi siapa peduli? 
Sekali setelah menghela napas ia tiba-tiba jatuh dan matanya menutup rapat

Lombok, 19 Desember 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Lelaki yang Terbuang” karya Lia menghadirkan potret sunyi tentang seorang manusia yang terpinggirkan di tengah hiruk-pikuk perayaan. Dengan bahasa yang sederhana namun kuat secara visual dan emosional, puisi ini menyoroti ironi sosial: kegembiraan kolektif yang berjalan berdampingan dengan kesepian dan keterabaian individu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan ketidakpedulian sosial. Lelaki dalam puisi digambarkan sebagai sosok yang terbuang dari perhatian, bahkan ketika berada di tengah keramaian.

Puisi ini bercerita tentang seorang lelaki ringkih yang berdiri di seberang jalan saat kembang api menerangi langit. Alih-alih ikut merayakan, ia hanya menatap datar, memikul dingin dan sunyi seorang diri. Tubuhnya menggigil dalam balutan kain lusuh, hingga akhirnya ia terjatuh dan menutup mata tanpa ada kepedulian dari sekitar.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap masyarakat yang lebih sibuk merayakan kebahagiaan sendiri daripada memperhatikan penderitaan sesama. Lelaki itu menjadi simbol orang-orang tersisih—mereka yang ada, tetapi seolah tak terlihat.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, sunyi, dan tragis. Kontras antara gemerlap kembang api dan kesepian tokoh lelaki memperkuat rasa duka dan kegetiran yang perlahan mengendap sepanjang puisi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Puisi ini mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak diukur dari kemeriahan perayaan, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu melihat dan peduli pada yang terpinggirkan.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan peraba, seperti “pendar kembang api,” “sunyi di matanya,” “semilir angin,” dan “tubuh yang ringkih ... menggigil.” Imaji-imaji ini membuat pembaca seolah menyaksikan langsung adegan tragis tersebut.

Majas

Dalam puisi ini terdapat penggunaan majas kontras yang kuat antara kembang api dan kesunyian lelaki. Selain itu, frasa “sunyi di matanya” merupakan metafora yang menggambarkan kehampaan batin, sementara “kain lusuh tak mampu menahan dingin” menjadi simbol kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Puisi “Lelaki yang Terbuang” karya Lia adalah puisi sosial yang menyentuh dan getir. Dengan menghadirkan satu sosok sederhana di tengah pesta besar, puisi ini menggugah kesadaran pembaca bahwa di balik cahaya dan perayaan, selalu ada manusia yang terabaikan—menunggu untuk dilihat dan dipedulikan.

Lia
Puisi: Lelaki yang Terbuang
Karya: Lia

Biodata Lia:

Lia, lebih tepatnya Yuliani adalah seorang gadis yang tinggal di desa, lahir di Meninting 4 Juni 2002. Ia sangat suka membaca dan menulis. Saat ini Lia sedang bekerja di sebuah rumah makan sate.

Puisinya pertama kali terbit dalam buku antologi berjudul "Serpihan Kata Tanpa Suara". Pernah mendapat juara umum 2 dalam event menulis puisi dan cerpen berjudul Tarian Pena Penuang Rasa, juara terbaik 3 dalam buku berjudul Fragmen Hari Kemarin, 25 terbaik dalam buku King & Queen of LSP, masuk nominasi 87 dalam Festival Indonesia dengan judul buku Goresan Padika Pancarona, 25 besar Lomba Cipta Puisi Masa Kecil, juara harapan 1 Asqa Book Award XXlll 2024, juara 25 besar Asqa Book Award XXlV 2024, 25 besar Lomba Cipta Puisi Persahabatan, juara harapan 3 Anugerah COMPETER Indonesia 2025.

Lia termasuk peserta yang lolos 36 besar Anugerah COMPETER Indonesia 2026, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan 1 Januari 2026 mendatang.

Penulis bisa disapa di Instagram @Lii35499

© Sepenuhnya. All rights reserved.