Puisi “Lelaki yang Terbuang” karya Lia menghadirkan potret sunyi tentang seorang manusia yang terpinggirkan di tengah hiruk-pikuk perayaan. Dengan bahasa yang sederhana namun kuat secara visual dan emosional, puisi ini menyoroti ironi sosial: kegembiraan kolektif yang berjalan berdampingan dengan kesepian dan keterabaian individu.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan ketidakpedulian sosial. Lelaki dalam puisi digambarkan sebagai sosok yang terbuang dari perhatian, bahkan ketika berada di tengah keramaian.
Puisi ini bercerita tentang seorang lelaki ringkih yang berdiri di seberang jalan saat kembang api menerangi langit. Alih-alih ikut merayakan, ia hanya menatap datar, memikul dingin dan sunyi seorang diri. Tubuhnya menggigil dalam balutan kain lusuh, hingga akhirnya ia terjatuh dan menutup mata tanpa ada kepedulian dari sekitar.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap masyarakat yang lebih sibuk merayakan kebahagiaan sendiri daripada memperhatikan penderitaan sesama. Lelaki itu menjadi simbol orang-orang tersisih—mereka yang ada, tetapi seolah tak terlihat.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, sunyi, dan tragis. Kontras antara gemerlap kembang api dan kesepian tokoh lelaki memperkuat rasa duka dan kegetiran yang perlahan mengendap sepanjang puisi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Puisi ini mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak diukur dari kemeriahan perayaan, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu melihat dan peduli pada yang terpinggirkan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan peraba, seperti “pendar kembang api,” “sunyi di matanya,” “semilir angin,” dan “tubuh yang ringkih ... menggigil.” Imaji-imaji ini membuat pembaca seolah menyaksikan langsung adegan tragis tersebut.
Majas
Dalam puisi ini terdapat penggunaan majas kontras yang kuat antara kembang api dan kesunyian lelaki. Selain itu, frasa “sunyi di matanya” merupakan metafora yang menggambarkan kehampaan batin, sementara “kain lusuh tak mampu menahan dingin” menjadi simbol kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Puisi “Lelaki yang Terbuang” karya Lia adalah puisi sosial yang menyentuh dan getir. Dengan menghadirkan satu sosok sederhana di tengah pesta besar, puisi ini menggugah kesadaran pembaca bahwa di balik cahaya dan perayaan, selalu ada manusia yang terabaikan—menunggu untuk dilihat dan dipedulikan.