Puisi Rini Intama

Puisi: Lindap (Karya Rini Intama)

Lindap Jika bisa memilih, perempuan itu memilahnya perlahan lalu menuangkan ke dalam bejana cantik tapi dia …

Puisi: Wajah Ayu Ibuku (Karya Rini Intama)

Wajah Ayu Ibuku Bias cahaya dan renungan yang kubaca di atas batu tentang wajah ayu ibuku ada garis warna dan …

Puisi: Taman Bunga (Karya Rini Intama)

Taman Bunga Ada butiran tasbih hingga rindu-rindu yang kau kirim dan butiran bening air mata jatuh haru lalu kita tertawa saat gerbang taman menebar …

Puisi: Lima November (Karya Rini Intama)

Lima November Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak Lamat menghilang dalam pekat awan yang…

Puisi: Aku Mendengar Nyanyianmu (Karya Rini Intama)

Aku Mendengar Nyanyianmu Aku mendengar suka cita para nelayan Dan batu-batu karang Dari nyanyianmu tentang tanah kelahiran Tentang pasir sepanjang ja…

Puisi: Bawalah Aku Berlayar ke Malaka (Karya Rini Intama)

Bawalah Aku Berlayar ke Malaka ini hari ke tigapuluh, sejak perahu kita berlabuh sejak aku membaca seribu puisi dari air matamu yang jatuh lalu kita …

Puisi: Namaku Irena Zilinska (Karya Rini Intama)

Namaku Irena Zilinska Bertopi ranting kering bersepatu bulu Kaki melepuh mengayuh langkah berpeluh di padang p…

Puisi: Nyanyian sang Ombak (Karya Rini Intama)

Nyanyian sang Ombak (Sajak Pantai Utara, Hutan Bakau dan aroma cinta) Burung-burung hanyut bercengkrama lepas d…

Puisi: Bukankah Kita Bagian dari Tanah Gersang? (Karya Rini Intama)

Bukankah Kita Bagian dari Tanah Gersang? Kita berkelakar dalam kelebat bayang yang tak tampak, lalu terkecoh p…

Puisi: Negeri Puisi (Karya Rini Intama)

Negeri Puisi Negeri Ibu Hamparan sawah, hutan jati dan ruang-ruang purba, melukis sejarah sepi dan beku di antara ribuan ilalang. Negeri …

Puisi: Surat pada Mei (Karya Rini Intama)

Surat pada Mei ketika bertanya pada Mei, purnama menungguku di tengah bulan yang tertebas, lantas menangis kau palingkan wajah dan sudut mata mengerl…

Puisi: Perempuan Itu Menulis Puisinya (Karya Rini Intama)

Perempuan Itu Menulis Puisinya (Kepada Perempuan) Perempuan itu menulis puisinya, pada sebuah lagu kutitip…

Puisi: Tanpa Mawar (Karya Rini Intama)

Tanpa Mawar Kau datang tanpa mawar Hanya benang dari layang-layang yang sudah kau terbangkan di pantai Kau b…

Puisi: Bukit Berkabut (Karya Rini Intama)

Bukit Berkabut Angin yang menghembus seperti musik yang bertempo lambat. Kisah pemetik teh di bukit berkab…
© Sepenuhnya. All rights reserved.