Puisi: Surat Akar pada Daun (Karya Rini Intama)

Puisi “Surat Akar pada Daun” karya Rini Intama bercerita tentang pengamatan manusia terhadap alam yang semakin rusak dan kehilangan kesuburannya.
Surat Akar pada Daun

Aku masih mendengar suara terngiang dari rumahmu, saat butiran hara sulit sekali kutemukan di jantung bingar suara orang berdoa meminta hujan. Dan kita mencari pintu muasal di sela tanah yang mengeras bercampur batu, tudung-tudung lelah dan membisu. Dalam lingkaran abad dan waktu memanjang, berjuta stomata menganga haus dan kerontang. Kloroplas-kloroplas mengeriput, kita mulai kehilangan hijau lalu kematian menjemput

Aku masih mendengar suara bumi mengaduh dan berkabung diam-diam menghitung jarak gerimis dan badai dari sketsa kemarau panjang di tanah kita. Walau telah kupasang ribuan asa bersama perapian malam tepat di bulan kesebelas, sedang kini tanah berlantai beton, mereka membuang helai daun berton-ton. Kita kehabisan waktu, menghitung hujan panas dan rasa rindu. Hanya pilar-pilar baja, yang berdoa dalam pot-pot bunga. Sedang pohon rimbun yang tinggi, tak kembali ke bumi

Kita kehabisan nafas, jika kau bisa menangislah dengan bebas
Maka air matamu, akan membasahi rumah kita yang kelabu

Oktober, 2015

Sumber: Yogya dalam Nafasku (2016)

Analisis Puisi:

Puisi “Surat Akar pada Daun” karya Rini Intama adalah karya yang sarat dengan simbolisme alam dan kritik sosial-ekologis. Dengan bahasa yang puitis dan metaforis, penyair menyoroti hubungan manusia dengan alam, kerentanan lingkungan, dan konsekuensi dari perubahan alam akibat aktivitas manusia. Puisi ini menghadirkan pengalaman reflektif dan emosional terhadap kerusakan alam yang terus berlangsung.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan alam, hubungan manusia dengan bumi, dan kehilangan keseimbangan ekologis. Puisi ini juga menyinggung tema kerentanan hidup, kelelahan manusia, dan duka yang dirasakan akibat perubahan lingkungan.

Puisi ini bercerita tentang pengamatan manusia terhadap alam yang semakin rusak dan kehilangan kesuburannya. Penyair menggambarkan kesulitan menemukan “butiran hara di jantung bingar suara orang berdoa meminta hujan,” yang menekankan kekeringan, tanah yang keras, dan hilangnya kesuburan. Dalam lingkaran waktu yang panjang, “stomata menganga haus” dan “kloroplas mengeriput” menjadi simbol tanaman dan pohon yang kehilangan vitalitasnya.

Selanjutnya, puisi menyoroti transformasi alam akibat aktivitas manusia, misalnya tanah berlantai beton dan pembuangan daun secara masif. Pilar-pilar baja yang “berdoa dalam pot-pot bunga” menjadi simbol pengganti alam yang alami, sementara pohon-pohon tinggi yang rimbun “tak kembali ke bumi,” menandakan kematian alam yang sesungguhnya.

Di akhir puisi, terdapat dorongan emosional untuk meresapi kehilangan dan bersedih, yang digambarkan melalui frasa “jika kau bisa menangislah dengan bebas, maka air matamu akan membasahi rumah kita yang kelabu,” menekankan hubungan emosional manusia dengan alam yang memudar.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah peringatan tentang kerusakan alam dan keterasingan manusia dari bumi. Puisi menyiratkan bahwa aktivitas manusia yang merusak lingkungan berakibat pada hilangnya keseimbangan ekosistem dan kehidupan yang sehat. Selain itu, ada pesan tentang kerentanan manusia terhadap perubahan lingkungan dan perlunya kesadaran untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini melankolis, pilu, dan penuh kekhawatiran ekologis. Imaji tentang tanah yang keras, daun yang dibuang, dan pohon-pohon yang tak kembali menciptakan nuansa duka dan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menghadapi kerusakan alam. Suasana tersebut diimbangi oleh nada reflektif yang menekankan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.

Puisi “Surat Akar pada Daun” karya Rini Intama adalah puisi reflektif dan kritis yang menekankan pentingnya hubungan manusia dengan alam. Dengan bahasa simbolik, imaji yang kuat, dan majas yang mendalam, puisi ini mengajak pembaca merenungkan dampak kerusakan lingkungan, kehilangan kesuburan alam, dan urgensi kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Rini Intama
Puisi: Surat Akar pada Daun
Karya: Rini Intama

Biodata Rini Intama:
    Rini Intama lahir pada tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat. Namanya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017).
    © Sepenuhnya. All rights reserved.