Puisi: Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit (Karya Taufiq Ismail) Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit Dermaga pelabuhan balok hitam pasangan tua Kawanan undan beterbangan dua-dua Ketika dingin mencerc…
Puisi: Gurindam (Karya Taufiq Ismail) Gurindam Satu Secoret parafku memancarkan komisi seratus juta Bertahun-tahun begitu sampai mataku buta. Gurindam Satu Setengah Harimau mat…
Puisi: Pekalongan Lima Sore (Karya Taufiq Ismail) Pekalongan Lima Sore Kleneng bel beca Debu aspal panggang Sangar jalan pelabuhan Terik kota pesisir Tik…
Puisi: Karangan Bunga (Karya Taufiq Ismail) Karangan Bunga Tiga anak kecil Dalam langkah malu-malu Datang ke Salemba Sore itu Ini dari kami bertiga Pita hitam pada karangan…
Puisi: Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang (Karya Taufiq Ismail) Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang Sebuah orde tenggelam sebuah orde timbul tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas …
Puisi: Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini (Karya Taufiq Ismail) Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini Tidak ada pilihan lain. Kita harus Berjalan terus Karena berhenti atau mundur Berarti hancur. …
Puisi: Membaca Tanda-Tanda (Karya Taufiq Ismail) Membaca Tanda-Tanda Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita Ada sesuatu yang mulanya tidak …
Puisi: Bangku Tunggu Stasiun Bis Antar Kota (Karya Taufiq Ismail) Bangku Tunggu Stasiun Bis Antar Kota Rupanya aku harus pergi lagi. Sendiri Kembali duduk di bangku-tunggu malam ini Sehelai koran sore dan b…
Puisi: Kata Itu, Suara Itu (Karya Taufiq Ismail) Kata Itu, Suara Itu Tiga buah panser kavaleri Membayang hitam malam ini Kami sama berjaga. Semua hening Seorang anak empat belas tahun Be…