Puisi: Sajadah Panjang (Karya Taufiq Ismail)

Puisi “Sajadah Panjang” karya Taufiq Ismail bercerita tentang perjalanan seorang hamba yang hidupnya diwarnai oleh kerja keras, belajar, dan ...

Sajadah Panjang

(Dinyanyikan oleh Bimbo)

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau s
epenuhnya.

1984

Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Sajadah Panjang” karya Taufiq Ismail adalah refleksi religius yang memadukan perjalanan hidup manusia dengan kesadaran spiritual. Melalui metafora sajadah yang terbentang, penyair menggambarkan kehidupan sehari-hari sebagai rangkaian ibadah, ketaatan, dan penghambaan kepada Tuhan. Keunikan puisi ini terletak pada cara Taufiq Ismail menyatukan aktivitas duniawi—mencari rezeki, menuntut ilmu, menempuh jalan—dengan kesadaran akan akhir hidup dan pengabdian total kepada Sang Pencipta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketaatan, ibadah, dan refleksi hidup manusia di hadapan Tuhan. Puisi ini juga menyinggung kesinambungan antara kehidupan duniawi dan spiritual, di mana kehidupan manusia diibaratkan sebagai sajadah yang panjang, membentang dari buaian hingga kuburan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan seorang hamba yang hidupnya diwarnai oleh kerja keras, belajar, dan aktivitas sehari-hari, namun selalu kembali pada Tuhan melalui ibadah. Sajadah yang terbentang menjadi simbol waktu, perjalanan hidup, dan hubungan manusia dengan Yang Ilahi. Sujud, rukuk, dan tunduk menjadi gerak simbolik yang menegaskan kesadaran dan penghambaan hamba.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menekankan bahwa hidup manusia seharusnya bersifat harmonis antara dunia dan akhirat. Aktivitas sehari-hari, seperti mencari rezeki atau ilmu, bukanlah penghalang untuk beribadah, melainkan bagian dari perjalanan spiritual. Puisi ini juga menyiratkan bahwa akhir kehidupan—kuburan—adalah titik di mana pengabdian sejati dan pengingat atas keterbatasan manusia menjadi nyata.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, khusyuk, dan kontemplatif. Repetisi sajadah yang terbentang dan gerakan sujud-rukuk membangun atmosfer meditasi, damai, dan introspektif, seolah pembaca diajak untuk merasakan perjalanan hidup yang penuh ketaatan dan kesadaran akan Tuhan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah pentingnya menyelaraskan kehidupan duniawi dengan pengabdian kepada Tuhan. Taufiq Ismail mengingatkan pembaca bahwa aktivitas manusia, meskipun sibuk, seharusnya tetap dibingkai oleh ketaatan, penghambaan, dan kesadaran spiritual yang konsisten.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual dan simbolik yang kuat: sajadah yang terbentang dari buaian hingga kuburan, hamba yang tunduk, sujud, dan rukuk, serta suara azan yang memanggil kembali kesadaran. Imaji ini memperkuat perasaan kontinuitas hidup dan kesadaran spiritual yang menyertai setiap aktivitas manusia.

Majas

Puisi ini menggunakan majas metafora dan repetisi. Sajadah panjang menjadi metafora perjalanan hidup dan pengabdian spiritual. Repetisi “Ada sajadah panjang terbentang” menegaskan kesinambungan dan keseriusan hubungan manusia dengan Tuhan, serta membangun ritme yang menyerupai gerakan ibadah itu sendiri.

Puisi “Sajadah Panjang” adalah puisi religius yang memadukan refleksi hidup, kesadaran spiritual, dan pengabdian manusia. Taufiq Ismail berhasil menyampaikan pesan bahwa kehidupan sehari-hari, kesibukan, dan usaha manusia seharusnya tetap dibingkai oleh ibadah dan penghambaan kepada Tuhan, menjadikan puisi ini relevan sebagai renungan religius bagi pembaca dan pendengar.

Puisi Taufiq Ismail
Puisi: Sajadah Panjang
Karya: Taufiq Ismail

Biodata Taufiq Ismail:
  • Taufiq Ismail lahir pada tanggal 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat.
  • Taufiq Ismail adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.