Postingan

Puisi: Menuju Luzern, Switzerland (Karya Eka Budianta)

Menuju Luzern, Switzerland (1) Ladang-ladang anggur Dan matahari di selatan Menghapus capek dan rindu Pada langit yang setia. Perancis tidur di hari …

Puisi: Tamu Kantuk (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Tamu Kantuk Apa kau akan terus-terusan mengacuhkannya pura-pura tak acuh saat ia datang bertamu lalu menyibukkan diri dengan rupa-rupa pek…

Puisi: Bersandar Bantal (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Bersandar Bantal Kerabat mana yang bagimu tak enggan setiap kali datang dimintai pertolongan saat kepalamu tak mampu lagi bertahan dari ka…

Puisi: Maklumat Hargo Dumilah (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Maklumat Hargo Dumilah Adalah kabut, yang membuat pandanganmu berlumut. Agar kau kembali berpikir apakah niatmu masih pasang atau surut. Meski a…

Puisi: Bambukah (Karya F. Rahardi)

Bambukah bambukah matamu hingga terus-terusan meruncing hingga selalu menusuk-nusuk hingga mataku kauiris-iris kaupotong-potong …

Puisi: Menjilat Lampu (Karya F. Rahardi)

Menjilat Lampu lampu-lampu yang asin dan lidah-lidah yang menyala telah mulai menggaruk-garuk dirinya dengan mata yang sudah ben…

Puisi: Soempah WTS (Karya F. Rahardi)

Soempah WTS satu kami bangsa tempe bersurga satu surga dunia dua kami bangsa tahu bergincu batu berbanta…

Puisi: Tentang Peristiwa Priok (Karya F. Rahardi)

Tentang Peristiwa Priok (ketika nonton siaran langsung dari langit) – Assalamualaikum, teriak panser menodongkan moncong –…

Puisi: Surat Pertama Manusia Pertama (Karya F. Rahardi)

Surat Pertama Manusia Pertama ia terbatuk-batuk di sana apa gerangan yang ia katakan lagi pada kita ia makin sendiri di sana oh …

Puisi: LINGGIS (Karya F. Rahardi)

LINGGIS maling mencintai linggis sejak pandangan mata yang pertama dia memang ramping, kuat, keras dan runcing warnanya hitam ma…
© Sepenuhnya. All rights reserved.