Postingan

Puisi: Oase Takdir Mimpi (Karya Akhmad Taufiq)

Oase Takdir Mimpi Jangan tanyakan jati diri Kalau yang sejati tlah kita bunuh sendiri Sejak zaman azali Maka berbaringlah barangkali o…

Puisi: Takdir Sunyi (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Takdir Sunyi mesti berapa musim lagi kujelmakan takdir ini takdirku senantiasa bernama adam yang kesepian sejauh perih waktu …

Puisi: Takdir (Karya Gunoto Saparie)

Takdir betapa pahit menerima takdir mengikuti jejak-jejak orang tua melenggang tak tahu harus ke mana dengan netra penuh kabut samar betapa pahit men…

Puisi: TaKDir (Karya Sam Haidy)

(T)a(KD)ir Aku (peny)air, kamu (peny)air Tak perlu saling kejar Ikuti saja (keh)arus(an) masing-masing Pe…

Puisi: Bunga Mawar Hitam (Karya Muhammad Lutfi)

Bunga Mawar Hitam Tangkai sayap kali Dipetik cakul besi Mengkait suara riak dan orang pesakitan Yang menj…

Puisi: Buat Album Anak (Karya M. Balfas)

Buat Album Anak Aku tidak tahu Apa masih ada juga tempat bagi kau Pat. Manusia-kapur dan batu Ah, semua jadi pucat. Kau yang mau mengem…

Puisi: Anak Pasar (Karya M. Balfas)

Anak Pasar Gang sudah tersumbat: mau terus mesti meloncat dari manusia berbondong-bondong. Rebut cepat, karcis kelas empat, kalau mau non…

Puisi: Minta Didengar! (Karya M. Balfas)

Minta Didengar! Coba dengar: Kapan akhirnya kita semua tergulung juga seperti benang dalam satu kelosan, atau dalam satu kebulatan sepert…

Puisi: Pesta Kelasi (Karya M. Balfas)

Pesta Kelasi Kabut lalu berhenti di muka laut. Mendung ini mengandung bius! Aku lari dari gunung jauh mau berlayar tidak jadi sebab o…

Puisi: Akhirmu (Karya Wina SW1)

Akhirmu Laut mengantar pinangan tanpa  jeunamee  dan  idang meulapeh maka menikahlah engkau dengan keabadian. Kyoto,  12 Januari 2005 …
© Sepenuhnya. All rights reserved.