Postingan

Puisi: Saat-Saat Terakhir (Karya Abdul Hadi WM)

Saat-Saat Terakhir Seorang Filosof dalam Penjara Qur'an malam yang lintas perlahan pintu besi yang berlumut bulan pun menutup mulut teng teng ten…

Puisi: Kepada Ali Sadikin (Karya Gunoto Saparie)

Kepada Ali Sadikin mendadak aku merindukanmu ketika pusat kesenian harus tiada begitu saja sonder kata-kata sejarah pun mengabur kelabu mendadak aku …

Puisi: Dalang Kalijaga (Karya Munawar Syamsuddin)

Dalang Kalijaga Bacalah sebuah risalah ayat-ayat suluk Ditadaruskan roh Kalijaga arwah para wali Sesederhana upacara nasi sedang tanak Beta…

Puisi: Engkaukah Mendesah dalam Hujan? (Karya Gunoto Saparie)

Engkaukah Mendesah dalam Hujan? suara siapakah mendesah dalam hujan? menderas di halaman dan atap rumah me…

Puisi: Kepada Niels Mulder (Karya Gunoto Saparie)

Kepada Niels Mulder di wisma indraloka yogyakarta kau pun menatap aspal jalanan memandang perubahan jawa …

Puisi: Gempa (Karya Mohammad Diponegoro)

Gempa (Puitisasi terjemahan al-Qur’an : Az-Zalzalah) 'Pabila bumi tergoncang gempa dan memuntah-ruah segenap muatannya lalu berseru manusia: “Ken…

Puisi: Selepas Gempa (Karya Sam Haidy)

Selepas Gempa Selepas gempa Menatap langit-langit begitu menakutkan Menatap langit begitu menenangkan. …

Puisi: Ruang Vakum (Karya Mustafa Ismail)

Ruang Vakum (- kepada penyair Aceh) Kita tulis lagi kata-kata itu, pahit dan bercela, di malam yang sakit: se…

Puisi: Di Puncak Gunung Agung (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Di Puncak Gunung Agung ke arah mana angin meniup pucuk pucuk cemara membawa malam pegunungan dalam jiwa kembaraku di manakah…

Puisi: Hidangan (Karya A. Muttaqin)

Hidangan Buya menyesap kuah sup buntut. Jarak tuwung Dan mulut Buya begitu rapatnya. Tidak. Tak ada jarak Antara tuwung dan mulut…
© Sepenuhnya. All rights reserved.