Puisi: Hidangan (Karya A. Muttaqin)

Puisi: Hidangan Karya: A. Muttaqin
Hidangan

Buya menyesap kuah sup buntut. Jarak tuwung
Dan mulut Buya begitu rapatnya.
Tidak. Tak ada jarak
Antara tuwung dan mulut Buya, bahkan.
Mungkin renyah kerupuk rambak yang kukunyah
Mengacau pikiran Buya
Atau gumpalan lemak lembut yang meruapkan aroma rempah itu
Naik ke mata Buya. Hingga mata Buya
Tak bisa membedai putih bawang dan belatung kambang.
Tidak. Tidak. Minyak dan lemak tak akan mampu
Mengecoh tajam mata Buya.
Maafkan aku yang tumpul dan semprul ini, Buya.
Mungkin sudah kodrat
Bila bawang goreng remuk dan daging gampang membusuk. Bawang goreng
mengambang. Belatung daging mengambang.
Keduanya mengambang putih, seperti jubah mini saat dicuci.
Tidak. Tidak. Sekali lagi, maafkan aku, Buya.
Aku tak punya kasyaf tinggi, tak bisa membedai
Belatung banal dan bangkai batal.
Tak paham seluk-beluk biologi dan dalil kimiawi.
Tak percaya jika belatung mengandung protein tinggi.
Tak ngerti bila belatung semacam pelaku sufi
Yang membimbing jalan busuk di bumi.
Tidak. Seperti bumi, perut tabah
Mencerna apa saja yang Buya telan.
Mungkin Buya hatam menyelam kalam, menyunting birahi
Jadi berkah dalam, hingga daging
(yang kini bonus belatung)
Juga gajih, lima, usus, kacang, bawang, buncis, cabai, selada
Dan kubis Buya kunyah, seperti omnivora radikal
Sehingga perut Buya melorot mirip perut Semar.
Badan Buya melar dan jubah Buya pun bubar.
Alamak, apa Buya titisan kiai Semar? Tidak. Tidak, Buya
Jauhkan aku dari kentutmu yang tak terpahamkan.

2014

A. Muttaqin
Puisi: Hidangan
Karya: A. Muttaqin

Biodata A. Muttaqin:
  • A. Muttaqin lahir pada tanggal 11 Maret 1983 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.