Postingan

Puisi: Babi (Karya Sutardji Calzoum Bachri)

Sajak Babi (1) batu demam     sungai pingsan         laut luka             kapal berdarah nelayan jam     berenang         nuju 00.00             wak…

Puisi: Percakapan Biara dengan Pohon Hitam (Karya Kriapur)

Percakapan Biara dengan Pohon Hitam perkenankanlah, seperti Tuhan memperkenankan Adam dan Hawa bersetubuh. Perkenankanlah. (embun hinggap di daun-dau…

Puisi: Jiwa Manis (Karya Gunoto Saparie)

Jiwa Manis jiwa manis jiwaku sayang hatiku tergetar karena parasmu matahari dan bulan terang benderang suaramu mendayu buluh perindu 2022 Analisis Pu…

Puisi: Weimar (Karya Sitor Situmorang)

Weimar Sejuta pohon pinus menyebar harum bumi di dadanya yang mulus kucium sepenuh hati. Goethe hanya …

Puisi: Firman (Karya Inggit Putria Marga)

Firman Ada yang menitik, Sembunyi pada celah batu Ada yang mengalir Ada yang beku. Sumber:  Penyeret Babi (2010) Analisis Puisi : Puisi &q…

Puisi: Petani (Karya Inggit Putria Marga)

Petani di gagang cangkul sang tangan sering singgah di pundak istri sang kepala kerap rebah namun, hanya pada tanah yang menerima keringat d…

Puisi: Sandiwara (Karya Mahbub Djunaidi)

Sandiwara kenanganku pada warna putih – tebaran mega yang melawat ke ujung rambutnya – Di pangkal tahun, di permulaan musim panas Berdiang tubuh, ama…

Puisi: Duhai Pemimpin (Karya Aspar Paturusi)

Duhai Pemimpin "bila takut diterjang ombak jangan berumah di tepi pantai" begitu pesan leluhur "bila engkau seorang pemimp…

Puisi: Aku Masih Rasakan (Karya Isbedy Stiawan ZS)

Aku Masih Rasakan aku masih rasakan bekas hujan sore tadi. langit mulai gemerlap di sudut lorong itu aku melihatmu bercakap-cakap d…
© Sepenuhnya. All rights reserved.