Postingan

Puisi: Di Depan Cermin (Karya Remy Sylado)

Di Depan Cermin Di cermin yang baru dilap aku melihat rembulan dan suara ketawa. Siapa yang menanam manggis di kebunku membuahkan ra…

Puisi: Negeri Gagap (Karya Bambang Widiatmoko)

Negeri Gagap Aku pernah belajar menghemat kata-kata Sedikit bicara banyak bekerja Tapi engkau malah mengajariku Agar menambah ka…

Puisi: Warisan (Karya Sutardji Calzoum Bachri)

Warisan kuterima luka ini bagai ibu bagai kakek bagai datukdatukdatukdatukku . . . mendapatkannya                 tik                     tik        …

Puisi: Munajat (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Munajat Sepucuk surat yang tersimpan dari balik harapan yang buru-buru dikirimkan sewaktu hari menawarkan secangkir kecemasan. Sura…

Puisi: Secangkir Harapan (Karya Aspar Paturusi)

Secangkir Harapan ada secangkir harapan siapa yang duluan minum kau, aku atau siapa saja? ada secangkir harapan mungkin terjadi rebutan bila itu cang…

Puisi: Tiada yang Lebih Aman (Karya Ajip Rosidi)

Tiada yang Lebih Aman Tiada yang lebih aman, pun tiada yang lebih nikmat Membayangkan masa lampau yang dalam kenangan terpahat. Tiada yan…

Puisi: Semata Cahaya (Karya Dimas Arika Mihardja)

Semata Cahaya Menit meniti malam, kau berbisik pelan "Tulis puisi untuk aku!"  Lalu jemari puisi pun menari di cerlang cahaya  Aku …

Puisi: Cahaya Kecil (Karya Soni Farid Maulana)

Cahaya Kecil di ujung dermaga seseorang menanti ia jatuh cinta pada cahaya kecil di bola matamu. Dicatatnya harum rambutmu dalam tujuh larik puisi ya…

Puisi: Cahaya (Karya L.K. Ara)

Cahaya Cahaya di depan Bumi Asih Pagi ini gemetar Bagai tak sabar Menyaksikanmu melintas Menuju bandara Angin di depan Bu…
© Sepenuhnya. All rights reserved.