Postingan

Puisi: Kupu-Kupu (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Kupu-Kupu kupu-kupu kecil itu tersesat ke dalam kamarku di antara hiasan tanduk rusa dan rak-rak buku ia meliuk-liuk seperti tak tahu ara…

Puisi: Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh Kau bawa aku ke bukit asing: pengembaraan matahari yang menyebarkan harum keringat golgota. kematian dan keban…

Puisi: Antri Uang di Bank (Karya Afrizal Malna)

Antri Uang di Bank Seseorang datang menemui punggungku Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu, seperti ka…

Puisi: Ketika Hujan Mulai Deras (Karya Agit Yogi Subandi)

Ketika Hujan Mulai Deras jika hujan mulai deras, menguarkan bau segar daun-daun kemudian langit seperti batu …

Puisi: Sajak Abadi (Karya D. Kemalawati)

Sajak Abadi Hidup berpilin-pilin dalam gelombang sajak-sajak di kaki pertokoan terjerat benang kusut merim…

Puisi: Doa Sebatang Lilin (Karya Pesu Aftarudin)

Doa Sebatang Lilin Lilin yang memakan dagingnya sendiri dengan khusu ia berdoa di sebuah kamar Tuhan sudah cukupkah ibadat setelah terang kembali pad…

Puisi: Selembar Bendera (Karya Agit Yogi Subandi)

Selembar Bendera Selembar bendera berat berkibar di bawah guyur hujan. 2009 Analisis Puisi: Puisi "Selembar Bendera" karya Ag…

Puisi: Sketsa (Karya Leon Agusta)

Sketsa  (I) ada ular menjalar ke atas kertasku ingin mencatatkan desis dengan lidahnya yang berbisa tapi ia tak mempunyai kata-kata diusapka…

Puisi: Di Kedai Makan (Karya Esha Tegar Putra)

Di Kedai Makan Di atas lempeng logam berundak kami duduk menghadap ketan hitam, santan kelewat manis dan pisang batu masak diperam. Kau …
© Sepenuhnya. All rights reserved.