Puisi: Sketsa (Karya Leon Agusta)

Puisi "Sketsa" karya Leon Agusta mengangkat tema tentang kefanaan, perenungan eksistensial, dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi realitas ...
Sketsa (I)

ada ular menjalar ke atas kertasku
ingin mencatatkan desis dengan lidahnya yang berbisa
tapi ia tak mempunyai kata-kata
diusapkannya lendir dan ke seluruh ruang ditaburkannya
bau anyir hingga aku tak dapat lagi dengan jelas
mencatatkan mimpi-mimpiku menjelang datangnya senjakala
meskipun padanya sesekali kuberikan juga butir-butir telur
dari persahabatanku dengan burung-burung

1975

Sketsa (II)
(interogasi)

ketika darahnya ditukar dengan air terkadang dengan es
dan isi tulang-tulangnya diganti dengan angin jantungnya
serasa hendak meloncat ke luar tapi urat-urat lehernya tak
memberinya jalan juga buat paru-parunya yang jadi liar

mungkinkah dia seekor kelinci yang lagi kesasar
sampai di sebuah kamar terperangkap atau terbaring tanpa
kesempatan untuk berdiam diri atau mendoa semaunya
ketika sebuah operasi sedang berlangsung

1975

Sketsa (III)
(hari pahlawan)

seribu bayang-bayang dikirimkan sinar bulan
lewat ranting-ranting kering dan dahan mati
direkam tembok-tembok muram, melukiskan
jari-jari yang putus, tengkorak dan tulang-belulang
mereka mohon maaf pada dunia sebab tak dapat
melakukan sesuatu dalam perang yang berlangsung

1975

Sketsa (IV)

daun menuliskan nama entah siapa-siapa dengan angin
daun mencatatkan tentang entah siapa-siapa dengan angin
daun melagukan tentang entah siapa-siapa dengan angin
entah siapa-siapa bergantungan di daun-daun di mana saja
entah siapa-siapa mengalun diterbangkan angin ke mana-mana
bertaburan melapisi kefanaan senantiasa melapisi kefanaan

1975

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Sketsa" karya Leon Agusta mengangkat tema tentang kefanaan, perenungan eksistensial, dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi realitas hidup dan kematian. Melalui beberapa bagian puisi yang berbeda, penyair menggambarkan berbagai bentuk ketidakberdayaan, baik itu dalam bentuk mimpi yang gagal diwujudkan, ketegangan tubuh yang terperangkap, hingga gambaran perang yang tak berujung.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini mengungkapkan kecemasan dan ketidakmampuan manusia untuk menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Penyair menggambarkan situasi di mana individu terperangkap dalam lingkaran kefanaan, baik itu dalam kehidupan sehari-hari yang penuh penderitaan, atau dalam perang yang menelan banyak korban tanpa tujuan yang jelas. Makna puisi ini juga mencerminkan keresahan akan kondisi manusia yang terjebak dalam keterbatasan fisik dan emosi, yang hanya dapat tercermin melalui sketsa-sketsa kehidupan yang suram dan penuh ambiguitas.

Puisi ini bercerita tentang ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi hidup dan peristiwa-peristiwa yang tak dapat diprediksi. Pada bagian pertama, Sketsa (I), penyair menggambarkan perasaan terperangkap dan terhambat dalam usaha untuk mencatatkan mimpi, dihadapkan pada gangguan yang datang dalam bentuk ular berbisa yang menambah ketidakjelasan. Di bagian kedua, Sketsa (II), terdapat gambaran tentang penderitaan tubuh manusia yang terperangkap dalam kesulitan fisik, mungkin mewakili perasaan tertekan dan terkurung dalam keadaan. Pada bagian ketiga, Sketsa (III), penyair menggambarkan bayang-bayang yang tercipta oleh sinar bulan, yang melukiskan penderitaan para pahlawan yang tidak dapat melakukan apa-apa dalam perang. Di bagian terakhir, Sketsa (IV), daun-daun yang tertiup angin menjadi simbol kefanaan dan ketidakpastian identitas dalam hidup.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana yang suram, gelap, dan penuh ketidakpastian. Di bagian pertama, ada suasana yang tercipta oleh ular yang menjalar, simbol dari ancaman dan kegagalan dalam pencapaian mimpi. Bagian kedua menciptakan suasana terperangkap, dengan gambaran tubuh yang tidak mampu bergerak bebas. Di bagian ketiga, suasana perang yang tak berkesudahan menciptakan atmosfer keputusasaan dan ketidakmampuan. Di bagian terakhir, suasana kefanaan tercipta melalui gambaran daun-daun yang terombang-ambing oleh angin, mengingatkan kita akan kefanaan manusia dan kehidupan itu sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini mengingatkan kita akan keterbatasan manusia dan ketidakpastian yang melekat dalam hidup. Amanat yang dapat diambil adalah bahwa hidup penuh dengan perjuangan dan kesulitan yang terkadang tak bisa diprediksi. Manusia berusaha untuk bertahan, namun sering kali terperangkap dalam ketidakmampuan untuk mengubah takdir atau mengatasi penderitaan. Pesan ini mengajak pembaca untuk merenung tentang kefanaan dan pentingnya menghargai setiap momen dalam hidup.

Imaji

Imaji dalam puisi ini sangat kuat dan memberi kesan yang mendalam tentang ketidakpastian hidup. Beberapa imaji yang menonjol adalah:
  • Imaji Visual: Pada bagian Sketsa (I), kita disuguhkan dengan gambaran ular yang menjalar di atas kertas, sebuah simbol dari ketegangan dan ancaman yang hadir tanpa terduga. Di Sketsa (III), terdapat bayang-bayang yang dikirimkan sinar bulan lewat ranting-ranting kering, menggambarkan ketidakberdayaan dan keputusasaan para pahlawan.
  • Imaji Taktil: Pada Sketsa (II), tubuh yang terperangkap dalam kesulitan fisik digambarkan dengan jelas melalui deskripsi tentang darah yang ditukar dengan air dan es, serta tulang-tulang yang diganti dengan angin. Ini menciptakan sensasi terperangkap dalam tubuh yang tak bisa bergerak bebas.
  • Imaji Auditori: Puisi ini juga mengandalkan imaji suara, seperti dalam Sketsa (I), di mana lendir yang ditaburkan ular menghasilkan bau anyir, menciptakan perasaan jijik dan ketidaknyamanan yang menghalangi pencatatan mimpi-mimpi.

Majas

Majas dalam puisi ini memperkaya makna dan memperkuat nuansa kesulitan hidup yang dialami penyair. Beberapa majas yang digunakan antara lain:
  • Majas Metafora: Penyair menggunakan ular untuk menggambarkan kesulitan yang datang dalam hidup, yang menghalangi pencapaian mimpi, seperti pada kalimat "ada ular menjalar ke atas kertasku ingin mencatatkan desis dengan lidahnya yang berbisa". Ular di sini tidak hanya simbol bahaya, tetapi juga perasaan terperangkap dalam usaha mencapai tujuan.
  • Majas Personifikasi: Pada Sketsa (IV), daun yang melagukan sesuatu menjadi personifikasi dari alam yang ikut berperan dalam menggambarkan kefanaan dan ketidakberdayaan manusia: "daun menuliskan nama entah siapa-siapa dengan angin". Daun di sini seolah-olah memiliki suara dan kesadaran tentang identitas yang hilang.
Puisi "Sketsa" karya Leon Agusta menggambarkan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi realitas hidup yang penuh penderitaan dan ketidakpastian. Melalui imaji dan majas yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang kefanaan, perenungan eksistensial, dan kesulitan yang tak terhindarkan dalam perjalanan hidup. Setiap bagian puisi menyajikan gambaran yang menggerakkan tentang kehidupan, perang, dan identitas yang terombang-ambing dalam kefanaan.

Leon Agusta
Puisi: Sketsa
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.