Postingan

Puisi: Tak Ada Ancaman (Karya Yuswadi Saliya)

Tak Ada Ancaman saya sedang mencari rumah saat ini, apa usulmu, hai daun pintu? saya lupa bahwa daun pintu itu baton daripada rumah; bagaimanapun say…

Puisi: Sujudku (Karya Laeli Nurfadilah)

Sujudku Untuk ke sekian kalinya Kurasa aku baru saja mendengar Detupan lirih detakan jantungku Pelan mengikuti hembusan nafasku Ketenangan seakan men…

Puisi: Sorga Edisi Pagi (Karya Yuswadi Saliya)

Sorga Edisi Pagi Seorang pemotret mendatangi proyek irigasi. Itulah air, lebih berharga dari pada emas sepedati, segar bugar mengisi seluruh pembuluh…

Puisi: Kota Air (Karya Zen Hae)

Kota Air kematian hanyalah kunci pembuka sebuah kota : orang bersisik cahaya, rumah siput, pepucuk ganggang yang menyala. menyan…

Puisi: Seorang Teman Pulang (Karya Kurniawan Junaedhie)

Seorang Teman Pulang ( Asfahani ) Akhirnya senyap. Semua lindap. Seorang teman pulang. Tak ada yang kekal, ke…

Puisi: Merampas Subuh (Karya Sulaiman Juned)

Merampas Subuh Itu subuh koyak-monyak dirampas dari tangan ke tangan. Hitam tergambar pada wajah yang tak me…

Puisi: Ironi Sebuah Kota (Karya Dimas Indiana Senja)

Ironi Sebuah Kota ( : Ganjar Pranowo ) Kota adalah kepalamu yang dipenuhi surat kabar dan jadwal ceramah …

Puisi: Penari Hujan (Karya Mustafa Ismail)

Penari Hujan Aku penari, katamu, biarkan aku menari sesukaku Kita tak perlu bersumpah menjadi batu Kau pun melompat, dari satu senja …

Puisi: Jiwa yang Layu (Karya Laeli Nurfadilah)

Jiwa yang Layu Sambutan hangat sang mentari Memberi beribu-ribu harap tanpa henti Atas kekecewaan yang berujung lara Menuai derita dan nestapa Segela…
© Sepenuhnya. All rights reserved.