Postingan

Puisi: Pagi di Rumah Si Pitung (Karya Hinarto)

Pagi di Rumah Si Pitung Pagi merayap pelan di serambi kayu, embun menggantung di ujung waktu, di rumah Si Pitung, sunyi tak pernah benar-benar diam i…

Puisi: Orang-Orang Tambilahan (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Orang-Orang Tambilahan (tentu saja kita boleh bermimpi) redup bola matamu, kita tentu saja bukan menjarah saudara sendiri turun kakiku dari anak tang…

Puisi: Tak Semua Sempurna (Karya John FS. Pane)

Tak Semua Sempurna di kaku isyarat tubuhmu waktu terasa begitu panjang dan hidup ternyata bukan hanya sebuah lintasan yang berakhir pada ujung yang s…

Puisi: Tiba-Tiba Malam (Karya Ariffin Noor Hasby)

Tiba-Tiba Malam Tiba-tiba malam membuka halaman-halaman hati: ada sederet rumah dan lampu-lampu menyalakan sejarah. Ada bulan paling purnama menganta…

Puisi: Kereta Panjang Kalimantan (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Kereta Panjang Kalimantan Bunyi kereta itu mulai terdengar, datang dari tempat yang jauh, jauh sekali, bahkan senyap di gumpalan embun; kita nikmati …

Puisi: Empat Musim Sunyi (Karya John FS. Pane)

Empat Musim Sunyi Musim Dingin Hujan turun menaburkan butiran debu Hingga segala doa dan sunyi menepi Mengalirkan rindu yang telah mencandu Ke batang…

Puisi: Ayat-Ayat Manusia (Karya Ariffin Noor Hasby)

Ayat-Ayat Manusia mencari ayat-ayat manusia yang dulu kita baca dengan gelisah di kitab kuning peradaban kutemukan wajahmu terselip di antara jendela…

Puisi: Patah Tangkai Bulir Padi (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Patah Tangkai Bulir Padi seharusnya kita tidak pernah melepaskan tentang apa yang telah lama sekepak burung di telapak tangan ada di dalam catatan se…

Puisi: Tafsir yang Kuinginkan (Karya Hinarto)

Tafsir yang Kuinginkan Pagi menyala di layar, teks singkat muncul berdenyut. Tak ada jeda panjang, tak ada tanda yang mencolok. Aku membacanya dua ka…
© Sepenuhnya. All rights reserved.