Orang-Orang Tambilahan
(tentu saja kita boleh bermimpi)
redup bola matamu, kita tentu saja bukan menjarah
saudara sendiri
turun kakiku dari anak tangga panggung malam, selimut
telah mengulurkan
tapak tanganmu menjadi hangat dalam genggam; bukan perih
tetapi tentu saja aku boleh bermimpi
ketipak gendang, rancak bertingkah dari derap
ke penghujung derap
engkau tidak sendiri, berkawan senyum ramah
di sudut pertemuan
aku ingin berlari, tetapi ada jerat dalam kerinduan
tentang kampung halaman
bukan hanya aku
tetapi engkau juga tentu boleh bermimpi
siapa di antara kita yang pantas disebut nenek moyang?
berjejer sudah lembar-lembar catatan sejarah
hanya sebatas mimpi, tentang kembali pada kampung halaman,
bertahun sudah
bertahun seperti yang kalian ceritakan padaku malam itu
malam usai pembacaan sajak, jabat tangan kalian
bertambah hangat
siapa pula di antara kita yang menjadi tamu
di tanah-tanah jauh?
entah kembali kepada entah
entah di batas keturunan mana ketika pertemuan itu
menjerat, tetapi tidak harus menjebak
karena kita
tentu saja boleh bermimpi; tentang rindu tentang diriku-dirimu
orang-orang Tambilahan
orang-orang tanah rantauan
dari redup bola matamu
cermin sahaja
wajah dan tatap mata
kerinduanku di tanah-tanah jauh
engkau tiba-tiba saja menjadi abadi
tentu saja kita boleh bermimpi
tanda bahwa masih ada harapan di setiap pertemuan
tentang kabar kampung halaman, di penghujung pembacaan
sajak kita terkenang
karena kita
orang-orang pahuluan
Banjarbaru, 15 Juli 2008 (sepulang dari Jambi)
Sumber: Gemuruh (Fram Publishing, 2014)
Analisis Puisi:
Puisi "Orang-Orang Tambilahan" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang mengangkat tema kerinduan terhadap kampung halaman, ikatan persaudaraan, dan identitas sebagai perantau. Melalui dialog batin yang dipenuhi kenangan, penyair menghadirkan pengalaman emosional orang-orang yang tinggal jauh dari tanah kelahirannya, tetapi tetap menjaga hubungan batin dengan asal-usulnya.
Nama Tambilahan dalam puisi ini tidak hanya merujuk pada sebuah tempat, tetapi juga menjadi simbol ruang yang menyimpan sejarah, keluarga, budaya, dan kenangan. Dengan bahasa yang liris dan penuh simbol, penyair mengajak pembaca merenungkan arti pulang, pertemuan, dan harapan yang terus hidup dalam diri para perantau.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap kampung halaman serta ikatan persaudaraan di tanah rantau. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas, sejarah, akar budaya, persahabatan, serta harapan untuk tetap terhubung dengan asal-usul meskipun dipisahkan oleh jarak dan waktu.
Puisi ini bercerita tentang pertemuan orang-orang yang berasal dari Tambilahan atau memiliki ikatan emosional dengan kampung halaman mereka. Dalam sebuah perjumpaan setelah pembacaan sajak, mereka berbagi cerita, berjabat tangan, mengenang masa lalu, dan membicarakan tanah kelahiran yang telah lama ditinggalkan.
Penyair merasakan kehangatan yang tumbuh dari pertemuan tersebut. Kerinduan kepada kampung halaman menjadi pengalaman bersama yang menyatukan mereka, meskipun masing-masing telah hidup di tanah rantau.
Di tengah kenangan itu, penyair mengajukan pertanyaan mengenai nenek moyang, asal-usul, dan siapa yang sebenarnya menjadi tamu di negeri yang jauh. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak pembaca merenungkan makna identitas dan hubungan manusia dengan tempat kelahirannya.
Pada bagian akhir, penyair menegaskan bahwa harapan untuk kembali, mengenang kampung halaman, dan menjaga persaudaraan akan selalu hidup selama kenangan itu masih ada.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kampung halaman tidak pernah benar-benar hilang dari hati seseorang, sekalipun ia telah lama merantau.
Penyair menunjukkan bahwa identitas seseorang dibentuk oleh sejarah, keluarga, budaya, dan pengalaman hidup. Pertemuan dengan sesama perantau mampu menghidupkan kembali kenangan yang selama ini tersimpan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa perjalanan hidup bukanlah proses melupakan asal-usul, melainkan upaya membawa nilai-nilai kampung halaman ke mana pun seseorang pergi. Kerinduan bukan kelemahan, tetapi tanda bahwa manusia masih memiliki akar yang menghubungkannya dengan masa lalu.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Jangan pernah melupakan kampung halaman meskipun telah lama merantau.
- Jagalah hubungan persaudaraan dengan sesama, terutama mereka yang memiliki akar budaya yang sama.
- Hargailah sejarah dan asal-usul sebagai bagian dari identitas diri.
- Pertemuan dengan sesama dapat menghidupkan kembali semangat dan harapan.
- Merantau bukan berarti kehilangan jati diri, melainkan memperluas pengalaman tanpa melupakan akar kehidupan.
Puisi "Orang-Orang Tambilahan" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang menggambarkan kerinduan mendalam terhadap kampung halaman serta kuatnya ikatan persaudaraan di antara para perantau. Melalui simbol-simbol seperti Tambilahan, gendang, jabat tangan, kampung halaman, dan tanah rantauan, penyair menunjukkan bahwa identitas seseorang tidak pernah terlepas dari sejarah dan tempat asalnya.
Puisi ini mengingatkan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, kampung halaman akan tetap hidup dalam ingatan, dan setiap pertemuan dengan sesama perantau menjadi bukti bahwa harapan untuk pulang serta menjaga persaudaraan tidak pernah benar-benar padam.
Karya: Ali Syamsudin Arsi
Biodata Ali Syamsudin Arsi:
- Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.