loading...
Ballada Sumilah


Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara.

Datang yang berkabar bau kemboja
dari sepotong bumi keramat di bukit
makan dari bau kemenyan.

Sumilah!
Rintihnva tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya
- Samijo! Samijo!

Bulan akan berkerut wajahnya
dan angin takut nyuruki atap jerami
seluruh kandungan malam pada tahu
roh Surnilah meratap dikungkung rindunya
pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka
begini mulanya:
Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya
dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama
malam muntahkan serdadu Belanda dari utara.

Tumpah darah lelaki
o kuntum-kuntum delima ditebas belati
dan para pemuda beribukan hutan jati
tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

Demi hati berumahkan tanah ibu
dan pancuran tempat bercinta
Samijo berperang dan mewarnai malam
dengan kuntum-kuntum darah
perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

Terkunci pintu jendela
gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada
ngeri mengepung hidup hari-hari.

Segala perang adalah keturunan dendam
sumber air pancar yang merah
bebunga berwarna nafsu
dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja
reruntuklah semua merunduk
bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu
dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai
kerna musuh tahu benar arti darah
memberi minum dari sumber tumpah ruah
nyawanya kijang diburu terengah-engah.

Waktu siang mentari menyadap peluh
dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Alidi
satu semak menggumpal daging perawan
maka diserunya bersama derasnya darah:
- Siapa kamu?
- Daku Sumilah daku mendukung duka!
Belanda berbulu itu membongkar pintu
dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia.
- Duhai diperkosanya dikau anak perawan!
- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!
Takutku punya dorongan tak tersangka
tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur.
- O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah
koyak-moyak batumu muntahkan dadamu
lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya
bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra,
- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri
di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri
noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati
lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya
dan Samijo kerahkan segenap butir darah
lebih setan daripada segala kerbau jantan.

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih
antara bebatang jati dengan rambut tergerai
Sumilah yang malang mendamba, Samijonya
menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

Satu tokoh menonggak di tempat luang dan berseru dengan nada api nyala:
- Berhenti! Sebut namamu!

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah:
- Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku.
Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu.
- Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati!
- Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

Bulan keramik putih tanpa darah
warna jingga adalah mata Samijo
menatap ia dan menatap amat tajamnya.

- Padamkan jingga apimu. Padamkan!
Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

Bulan keramik putih bagai pisau cukur
sayati awan dan malam yang selalu meratap
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

- Samijo, ambil tetesan darahku pertama
akan terkecap daraku putih, daramu seorang.
Batang demi batang adalah balutan kesepian
malam mengempa segala terperah sendat napas
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

- Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu
kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada.
Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

Warna pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata:
- Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu,
jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa
aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan
lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati
tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

Sedihlah yang bercinta kerna pisah
lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya
dan segalanya itu tak 'kan padam.

Kokok ayam jantan esoknya bukanlah tanda menang
adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang
karena warga desa jumpai mayat Samijo nemani guguran
talok depan tangsi Belanda.

Merataplah semua meratap
kerna yang mati menggenggam dendam
di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

Kerna dendamnya siksa air matanya terus kembara
menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya
dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa
gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

Sumilah! Sumilah!
Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara
rintihnya tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya:
- Samijo! Samijo!
Matamu Tuan begitu dingin dan kejam
pisau baja yang mengorek noda dari dada
dari tapak tanganmu angin napas neraka
mendera hatiku berguling lepas dari rongga
bulan jingga, telaga kepundan jingga
ranting-ranting pokok ara
terbencana darahku segala jingga
Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!
 
 
"Puisi: Ballada Sumilah (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ballada Sumilah
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top