TRENDING NOW

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Murid SD di Sebuah Kota Kecil

Inilah catatanku
Catatan murid SD
Di sebuah desa kecil
Yang jauh terpencil

Lewat buku
Yang berdebu
Aku tahu
Tentang sebuah desa
Di pinggir kota
Dibangun bersama-sama
Pejabat dan rakyat jelata
Yang kaya
Memberikan harta
Yang miskin
Menitikkan keringatnya
Bersama-sama
Mendirikan
Sebuah taman pendidikan

Lewat lembar yang berdebu
Yang kubuka satu-satu
Kubaca
Pikiran yang jernih
Niat yang tulus
Dari orang-orang pintar
Membangun
Sebuah taman pendidikan

Lewat lembar yang lepas
Kerena kurang bagus jilidnya
Kubaca
Sejumlah nama
Yang dapat kuhafal satu-satu
Nama yang melekat
Di kepalaku
Sebagai nama
Pohon-pohon di kebunku
Nama yang terus tumbuh
Nama orang yang berjasa
Nama yang tak bisa kulupakan
Kuukir di batu sebisaku
Lalu kususun di bukit
Di desaku
Bukit itu seperti biasa
Selalu kena cahaya
Dan letaknya bangus
Setiap orang ke kali
Orang akan memandangnya
Aku akan bangga
Bila orang desaku
Menyenangi ukiranku
Dan lebih bangga
Bila mereka tahu
Siapa nama yang kuukir itu

Inilah catatanku
Catatan seorang murid SD
Di desa kecil
Yang belum pernah sempat
Berkunjung
Ke taman pendidikan
Yang kubaca
Dalam buku itu
Tapi aku tahu
Betapa jernih
Ia dalam benakku
Dan kupahat namamu
Dalam hatiku
Kadang-kadang sesekali
Mengalir dalam gumam
Darussalam, Darussalam

Gumamku dibawa angin
Sehingga gunung dan lembah
Menggemakan suara
Darussalam, Darussalam

Gumamku dibawa air
Lewat kali mengalir
Dan memercik suara
Darussalam, Darussalam

Gumamaku direbut awan
Yang terbang ke langit
Di sana ia menjerit
Darussalam, Darussalam

Banda Aceh, 31 Agustus 1986
Puisi: Catatan Murid SD di Sebuah Kota Kecil
Puisi: Catatan Murid SD di Sebuah Kota Kecil
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi Tema Corona
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mataku dan Matahari

Luluh lesah kujilat peluh
Rekah lidah bangkit menggeliat
Urat-urat regang siang terpanggang
Bayang-bayang tersirap menyala terbakar

Telah kupanggul matahari, tanpa
Kunyana pembakaran bumi jelaga
Awan-awan tersapu, luka jari-jari
Hari terputus sumbu

Kakiku bergisir pingkur
Mengelupas jejak matahari
Merejam garis-garis langkahku
Memintas ubun-ubun dan cakrawala
Tercecah segala bayangan
Ah, masih kucoba meremas bara
Tantangan di langit mengutuk, lalu
Berhadap-hadapan mataku dengan matahari

Puisi: Mataku dan Matahari
Puisi: Mataku dan Matahari
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Catatan:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
Baca juga: Puisi Akhir Tahun Islami
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengepak

Kelopak bunga menggelegar
Di pinggir padang hijau

Di jauhan gunung mendayu
Dalam nyanyian rindu

Dan burung itu mengepak
Dalam gugusan yang panjang
Burung itu
Mengepak
Dalam barisan
Yang panjang
Dan jauh
Tak mengeluh

1986
Puisi: Mengepak
Puisi: Mengepak
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Contoh Puisi Virus Corona
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membumbung

Daun sudah kering
Tak apa
Catatanmu
Sudah kupindah
Dalam kalbu
Dan bila kalbu kering
Tak apa
Catatanmu
Sudah kupindah
Ke dalam arwahku
Ia membumbung
Ke langit biru
Langit sunyi
Langit abadi

KM Rinjani, 29 November 1986
Puisi: Membumbung
Puisi: Membumbung
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Contoh Puisi Corona
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ha... Ha...

Ha... ha...
Lalu bunga mengelopak di taman
Lalu seribu pucuk bergetaran

Ha... ha...
Lalu bintang berkedipan
Lalu seribu cahaya berkilauan

Ha... ha...
Lalu suara merdu dialunkan
Lalu seribu nyanyian didendangkan

Ha... ha...
Lalu laut bergelora
Lalu seribu debur membahana

Ha... ha...
Lalu alis digerakkan
Lalu seribu isyarat dibangunkan

Ha... ha...
Lalu nafsu birahi dimatikan
Lalu kasih sejati dihidupkan

Ha... ha...
Mengalir bunga rindu
Mengalir bunga kasih

Ha... ha...
Hening sungai rindu
Hening sungai kasih

Jakarta, 1 Maret 1986
Puisi: Ha... Ha...
Puisi: Ha... Ha...
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Contoh Puisi Covid
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Keluhan

ibu o ibu!
pada daerah padang seluas ini
bulan muda, bersinar bening
angin meniup akan bersibak
bujang-bujang lari memburu cinta
dan mawar-mawar sumpah setia di kecupan mesra
dataran tak berkeputusan
hempasan fajar nanti tiba

tapi aku yang kau bujuk
di daerahmu sini
daerah gunung berbatu karang
yang tandus dan kering!

dan petualang-petualang pada memperkosa
mawar dan cinta
begitu bayi-bayi lahir tanpa bapa
dan menggigil di pelukan darah

ibu o ibu!
aku yang dipanggang bara melulu
dan kematian bapa di musim lalu
cuma ambil keputusan
bulan masih di tangan!
bulan masih di tangan!

Dari Majalah Kisah (September, 1955)
Puisi: Keluhan
Puisi: Keluhan
Karya: M. Saribi Afn

Catatan:
  • Nama lengkap M. Saribi Afn adalah Mohammad Saribi Affandi.
  • M. Saribi Afn lahir di Ngawonggo, Klaten, pada tanggal 15 Desember 1936.
Baca juga: Puisi Pagi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian

Junjungan. Aku tahu
Apa yang mesti kucintai, Hidup
Tetapi udara yang mesti kuhirup
Gemetar dan lapar

Tak sampai ikut membusuk. Arti
Cumbuan kuntum dan duri
Nyanyian surgawi, pedih
Dunia terancam dan pergi. Letih

Hanya hatiku. Jalan sampai badai
Nyanyi, walau tahu
Tinggal sunyi melambai

Junjungan. Aku tahu
Apa yang mesti kucintai. Hidup
Biar titik makin sayup

Puisi: Nyanyian
Puisi: Nyanyian
Karya: Wing Kardjo

Catatan:
  • Nama lengkap Wing Kardjo adalah Wing Kardjo Wangsaatmadja.
  • Wing Kardjo lahir di Garut, Jawa Barat, pada tanggal 23 April 1937.
  • Wing Kardjo meninggal dunia di Jepang 19 Maret 2002.

Baca juga: Puisi Hari Ibu 22 Desember
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Ingin Menulis Puisi, Yang

Aku ingin menulis puisi, yang tidak semata-mata berurusan dengan cuaca, warna, cahaya, suara dan mega.

Aku ingin menulis syair untuk kanak-kanak yang melompat-lompat di pekarangan sekolah, yang main gundu dan petak umpet di halaman rumah, yang menangis karena tidak naik kelas tahun ini.

Aku ingin menulis puisi yang membuat orang berumur 55 tahun merasa 25, yang berumur 24 merasa 54 tahun, di mana pun mereka membacanya, bagaimanapun mereka membacanya: duduk atau berdiri.

Aku ingin menulis puisi untuk penjual rokok-kretek, tukang jahit kemeja, penanam lobak dan bawang perai, penambang sampan di sungai, penulis program komputer dan disertasi ilmu bedah, sehingga mereka berhenti sekejap dari kerja mereka dan sempat berkata: hidup ini, lumayan indah.

Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan guru SD, pelamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien penyakit asma, kencing gula serta penganggur-penganggur sarjana, sehingga bila mereka baca beberapa sajakku, mereka bicara: hidup di Indonesia, mungkin harapan masih ada.

Aku ingin menulis sajak yang penuh proteina, sekedar zat kapur, belerang serta vitamina utama, sehingga puisi-puisiku ada sedikit berguna bagi kerja dokter-dokter umum, dokter hewan, insinyur pertanian dan peternakan.

Aku ingin menulis puisi bagi para pensiunan yang pensiunannya dipersulit otorisasinya, tahanan politik dan kriminal, siapa juga yang tersiksa, sehingga mereka ingat bahwa keadilan, tak putus diperjuangkan.

Aku ingin menulis sajak yang bisa membuat orang ingat pada Tuhan di waktu senang, senang yang sedang-sedang atau yang berlebihan.

Barangkali aku tak bisa menulis demikian.Tapi aku kepingin menuliskannya.Tapi ingin.
Aku ingin menulis puisi yang bisa dibidikkan tepat pada tubuh kehidupan, menembus selaput lendir, jaringan lemak, susunan daging, pembuluh darah arteri dan vena, mengetuk tulang dan membenam sumsum, sehingga perubahan fisika dan kimiawi, terjadi.

Aku ingin menulis puisi di buku catatan rapat-rapat Bappenas, pada agenda muktamar mahasiswa, surat-surat cinta muda mudi Indonesia, pada kolom kiri lembaran wesel yang tiap bulan dikirimkan orangtua pada anaknya yang sekolah jauh di kota.

Aku ingin menulis syair pada cetak-biru biru-biro arsitek, pada payung penerjun terkembang di udara, pada iklan-iklan jamu bersalin, pada tajuk rencana koran ibukota dan pada lagu pop anak-anak muda.

Aku ingin menulis sekali lagi puisi mengenang jendral Sudirman yang berparu-paru satu, serta tentang sersan dan prajurit yang terjun malam di Irian Barat kemudian tersangkut di pepohonan raksasa atau terbenam di rawa-rawa malaria.

Aku ingin menulis syair yang mencegah kopral-kopral tak pernah bertempur agar berhenti menempelengi sopir-sopir oplet yang tarikannya payah.

Aku ingin menulis sajak ambisius yang bisa menghentikan perang saudara dan perang tidak saudara, puisi konsep gencatan senjata, puisi yang bisa membatalkan pemilihan umum, menambal birokrasi, menghibur para pengungsi dan menyembuhkan pasien-pasien psikiatri.
Aku ingin menulis seratus pantun buat anak-anak berumur lima dan sepuluh tahun sehingga bila dibacakan buat mereka, maka mereka tertawa dan gigi mereka yang putih dan rata jelas kelihatan.

Aku ingin menulis puisi yang menyebabkan nasi campur dimakan serasa hidangan hotel-hotel mahal dan yang menyebabkan petani-petani membatalkan niat naik haji dengan menggadaikan sawah dan perhiasan emas sang isteri.

Aku ingin menulis puisi tentang merosotnya pendidikan, tentang Nabi Adam, keluarga berencana, sepur Hikari, lembah Anai, Amir Machmud, Piccadily Circus, taman kanak-kanak, Opsus, Raja Idrus, nasi gudeg, kota Samarkand, Raymond Westerling, Laos, Emil Salim, Roxas Boulevard, Dja’far Nur Aidit, modal asing, Checkpoint Charlie, Zainal Zakse, utang $ 3 milyard, pelabuhan Rotterdam, Champ Elysses dan bayi ajaib, semuanya disusun kembali menurut urutan abjad.

Aku ingin menulis puisi yang mencegah kemungkinan pedagang-pedagang Jepang merampoki kayu di rimba dalam Kalimantan, melarang penggali minyak dan penanam modal mancanegara menyuapi penguasa yang lemah iman, dan melarang sogokan uang pada pejabat bea cukai serta pengadilan.

Aku ingin menggubah syair yang menghapuskan dendam anak-anak yatim piatu yang orangtua dan paman bibinya terbunuh pada waktu pemberontakan komunis yang telah silam.
Aku ingin menulis gurindam yang menghapuskan dendam anak-anak yatim piatu yang orangtua dan paman bibinya dibunuh pada waktu pemberontakan komunis yang telah silam.

Barangkali aku tidak sempat menuliskannya semua.
Tapi aku ingin menulis puisi-puisi demikian.
Aku ingin.

1971
Puisi: Aku Ingin Menulis Puisi, Yang
Puisi: Aku Ingin Menulis Puisi, Yang
Karya: Taufiq Ismail

Baca juga: Judul Puisi Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Alma Mater

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
Kami menyilangkan tangan, ke dada kiri
Tegak tengadah menatap menatap bangunanmu
Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu
Untuk kali penghabisan

Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu
Hari-hari kuliah di ruang fisika
Mengantuk pada pagi cericit burung gereja
Praktikum. Padang percobaan. Praktek daerah
Corong anestesi dan kilau skalpel di kamar bedah
Suara-suara menjalar sepanjang gang
Suara pasien yang pertama kali kujamah

Di aula ini, aula yang semakin kecil
Kita beragitasi, berpesta, dan berkencan
Melupakan sengitnya ujian, tekanan guru besar
Melepaskannya pada hari-hari perpeloncoan
Pada filem dan musik yang murahan

Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik
Drama Sophocles, Chekov atau ‘Jas Panjang Pesanan’
Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan
Tentang filsafat, perempuan serta peperangan
Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini

Dimanakah kau sekarang berdiri? Di abad ini
Dan bersyukurlah karena lewat gerbangmu tua
Kau telah dilantik jadi warga Republik Berpikir Bebas
Setelah bertahun diuji kesetiaan dan keberanianmu
Dalam berpikir dan menyatakan kebebasan suara hati
Berpijak di tanah air nusantara
Dan menggarap tahun-tahun kemerdekaan
Dengan penuh kecintaan

Dan kami bersyukur pada Tuhan
Yang telah melebarkan gerbang tua ini
Dan kami bersyukur pada ibu bapa
Yang sepanjang malam
Selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami
Dorongan kekasih sepenuh hati
Dan kami berhutang pada manusia
Yang telah menjadi guru-guru kami
Yang membayar pajak selama ini
Serta menjaga sepeda-sepeda kami

Pada hari ini di depan gerbangmu tua
Kami kenangkan cemara halamanmu dalam bau formalin

Mikroskop. Kamar obat. Perpustakaan
Gulungan layar di kampung nelayan
Nyanyi pohon-pohon perkebunan
Angin hijau di padang-padang peternakan
Deru kemarau di padang-padang penggembalaan
Dalam mimpi teknologi, kami kini dipanggil
Untuk menggarap tahun-tahun kemerdekaan
Dan mencintai manusianya
Mencintai kebebasannya.

1963
Puisi: Alma Mater
Puisi: Alma Mater
Karya: Taufiq Ismail

Baca juga: Puisi tentang Burung Walet
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Reklame Bisu

Dendamnya ia pajang di himpitan kota
ditumpahkanlah segelas amarah
dari susu kedelai yang ia minum
sehabis mengerjakan tugas fisika
dering handphone di telinganya meledak
saat dibacanya daun saledri dari sawah

Kami tak ingin mengatakan, jika ini Durjana
walau badai api di jantung sudah menyala
Petani-petani masih memendam amarah

Telenovela nyanyian pecundang

ia tembus matahari dan merobeknya di
langit ke tujuh. Malaikat-Malaikat diam
tertunduk!

2017-2018

Puisi: Reklame Bisu
Puisi: Reklame Bisu
Karya: Deni Puja Pranata