TRENDING NOW

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bedak Hitam

Lumpur hitam di sapu di wajah
Dengan satu tarikan berupa hiasan
Berupa bedak hitam
Wajah purba menghadap danau
Seperti ingin mengucapkan
Ia telah hidup kembali
Setelah tidur selama 3500 tahun

Lumpur hitam di sapu di wajah
Goresan pun mengalir ke seluruh tubuh
Tubuh pun gemetar
Seperti ingin berujar
Ke permukaan danau
Ia telah bangkit kembali
Setelah bermimpi
Sekian ratus abad

Lumpur hitam
Bedak hitam
Menyatakan semacam
Riwayat yang terpendam
Yang di buka perlahan lahan
Kemudian dikabarkan kepada dunia
Bahwa  sejak lama
Telah ada disana
Di pinggir danau
Cahaya kemilau
Peradaban

Puisi: Bedak Hitam
Puisi: Bedak Hitam
Karya: L.K. Ara


Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi Duka untuk Ayah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sumber

Selalu kureguk sinar matamu
keyakinan menghargai hari
Tak sangka helai demi
helai daun turun

mengubur tubuhmu dengan
kelam. Begitulah matahari
terbaring, membakar
rumput kering.

Langit bernafas sunyi,
meniupkan lagu
kering. Kala

bel berdering, kukira kau
pulang, kubuka pintu,
angin melengos bisu.

Puisi: Sumber
Puisi: Sumber
Karya: Wing Kardjo

Catatan:
  • Nama lengkap Wing Kardjo adalah Wing Kardjo Wangsaatmadja.
  • Wing Kardjo lahir di Garut, Jawa Barat, pada tanggal 23 April 1937.
  • Wing Kardjo meninggal dunia di Jepang 19 Maret 2002.

Baca juga: Puisi Awal Desember
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tidak Ada Jalan Lain

Bila akhirnya harus terjadi ajalku yang terhina
Ujung tikaman sampai ke ujung usiaku

Tidak aku memilih jalan lain. Datang yang hendak datang
Mati lewat seribu jalan

Tapi jalan kemurnian kemerdekaan?
Jalan menuju kemurnian kebangsaan?
Hanya satu

Dan aku yakin cahaya itu memancar dari berjuta jiwa
Di tanah airku dan di dalam jiwa di dunia

1967
Puisi: Tidak Ada Jalan Lain
Puisi: Tidak Ada Jalan Lain
Karya: Kirdjomuljo

Catatan:
  • Edjaan Tempo Doeloe: Kirdjomuljo
  • Ejaan yang Disempurnakan: Kirjomulyo
  • Kirdjomuljo lahir pada tanggal 1 Januari 1930 di Yogyakarta.
  • Kirdjomuljo meninggal dunia pada tanggal 19 Januari 2000 di Yogyakarta.
Baca juga: Puisi Malam Hari untuk Pujaan Hati
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mata Tak Pejam

Melekapkan lap basah di tubuhmu
Tanganku bergetar
Padahal sudah lama kita kenal

Tubuhmu memar
Oleh luka dalam
Seperti ungkapan cinta
Yang diperam

Lalu kau tergolek
Di pangkuan alam
Dan aku memandangmu
Dengan mata tak pejam

Depok, 9 November 2011
Puisi: Mata Tak Pejam
Puisi: Mata Tak Pejam
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi Wiji Thukul
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Chairil Anwar Anno 1982

Apa yang kaukatakan, Chairil Anwar,
andaikata kini menyaksikan orang membawakan sajakmu
di depan khalayak. Barangkali engkau akan menuntut
honorarium untuk membeli obat bagi penyakitmu yang kronis
(membaca sajak pun kini memperoleh imbalan,
bahkan malam deklamasi juga menjual karcis).
Atau barangkali engkau hanya merengek agar dibelikan
sepiring nasi warteg guna pengisi perut

Apa yang kaupikirkan, Chairil Anwar,
jika engkau berkunjung ke TIM,
lalu naik lift dan menyelinap ke ruangan
Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Adakah yang kaucari?
Ada potret-potret yang tersimpan di sana:
engkau akan mengenalinya sebagian, atau matamu
tiba-tiba terbeliak, lalu menyapa dengan basa-basi
yang khas dirimu. Dan cobalah membaca sajak-sajak
orang lain, yang tersusun dalam map-map yang rapi.
Pun sempatkan pula melayangkan pandang
kepada gaya penyair lain.
Selamat membaca!

TIM, 1982
Puisi: Chairil Anwar Anno 1982
Puisi: Chairil Anwar Anno 1982
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Catatan:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
Baca juga: Puisi Singkat tentang Kopi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cerita Tua

Api yang membakar diri ke jantung
Menjalar luas ke ujung kota.
Rumah demi rumah menyala,
Gedung gugur. Segala yang indah yang dicinta bangsa
turut runtuh di bawah endapan asap
dan tangkapan batu.

Malam panjang membenam seribu malam.
Berhenti suara, tangis dan rindu.

Lalu lahir pikiran baru 
Lembut sebagai kupu 
Melepaskan diri dari himpitan debu 
Dan terbang dari batu ke batu 
Dari kalbu ke kalbu. 
Timbul semua yang tak pernah dimimpi 
Seni yang baru, kesusastraan, filsafat, agama 
Lebih agung dari semula 
Membangunkan rumah, gedung, kota yang lebih indah 
Di muka bumi, di atas derita yang menghangus sampai ke hati.

Puisi: Cerita Tua
Puisi: Cerita Tua
Karya: Subagio Sastrowardoyo

Baca juga: Sajak Kehidupan
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ise-ise

Daunan menghijau
Di ujungnya matahari bertengger
Tarian kemilau
Kuncup-kuncup bermekaran
Lalu pagi
Tiba-tiba jadi wangi
Dibawah kali mengalir
Tertegun-tegun
Batu-batu ah
Mana hiraukan rintihnya

Fajar menggeraikan rambut tembaga
Dari ribuan mata
Embun mengerlingkan cerlang
Angin meyepoikan
Sari wangi kembang-kembang
Perebutan mencumbu pohonan
Akar-akar gemetaran
Getah mendidih
Pucuk-pucuk menggigil
Dalam pagi yang larut

Gemunung tinggi
Kukuh menyimpan resia
Sepele baginya
Sengsaraku menunaikan ziarah
Dibanting-banting jip di jalanan
Borok-boroknya memekikkan
Perbaikan-perbaikan

Sungaimu pilu, Ise-ise
Nyanyian luka
Menetes di sunyi lubuk
Isak tangismu
Duh, kian menjadi

Sebuah desa tinggal nama
Ise-ise
Sebuah gerbang kenangan
Tugu nasib ribuan rakyat
Korban bengis penjajahan

Puisi: Ise-ise
Puisi: Ise-ise
Karya: L.K. Ara


Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi Suka dan Duka
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gereute Basah

Kesedihanmu gereute
Tak dapat kau tutupi
Pepohonan basah
Daun daun kuyup
Oleh air mata langit
Sementara di barat
Cahaya membersitkan senyum
 
Tebingmu keras
Menahan hempas
Kasih yang membekas
Juga basah
Oleh air mata rindu
Sementara sebaris pasir putih
Di pulau Kluang
Ingin meluaskan pandang

Meulaboh, 23/12/11
Puisi: Gereute Basah
Puisi: Gereute Basah
Karya: L.K. Ara


Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi Duka Cita untuk Ayah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumah Hidupku

Kubangun rumah hidupku dari batu, bata, kayu, bambu, tanah air,
tumpah darah, merah putih, biru, kuning, hijau, semua warna. Ada
dana pemerintah, ada bantuan luar negeri, juga barang tentu modal
pertama orangtua. Hidup ini kubangun sendiri, kubentuk coraknya.

Sekaligus majikan dan pembantu, istana dan gudang. Ada botol
kosong dan separuh penuh. Ada gelas jatuh, piring pecah, pena patah.
Tak terhitung kutu dan debu, pakaian, majalah, koran berserakan.
Makanan sembarangan. Suara, bunyi, dari tiap sudut, meledak, berteriak,

mengeluh, mengaduh atau nyanyi mendambakan waktu. Ada dipan
lusuh tempat kerja dan istirah. Buku yang tengah dan setengah kubaca
dan yang tak pernah terbuka halaman-halamannya. Tetap gelap, tak

tertangkap sebab jendela pikiran terbuka ke segala arah sedang lampu
menyala, membakar umur. Yang tidur tak bangun karena adzan dan
ayam berkokok. Bikin rumah harus pasang tiang iman yang pokok.

Puisi: Rumah Hidupku
Puisi: Rumah Hidupku
Karya: Wing Kardjo

Catatan:
  • Nama lengkap Wing Kardjo adalah Wing Kardjo Wangsaatmadja.
  • Wing Kardjo lahir di Garut, Jawa Barat, pada tanggal 23 April 1937.
  • Wing Kardjo meninggal dunia di Jepang 19 Maret 2002.

Baca juga: Info Motor Terbaru
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng Bocah dan Bulan

Jatuh menggema di hati malam
Dingin ibu
Kutinggal sedang, sedang
Tidur tak berselimut
Di kamar redup, redup
Dengan jendela terbuka

Dan gorden kesah
Berkebar menggugah
Pelahan mimpinya asing
Di layup mata:
— Anakku di halaman asyik 'kan bulan

Bunyi yang jatuh
Ke malam jauh
Aku pun mimpi
Dirangkai angin mengusap
Sayup dari gunung
Jauh berlagu rayu:
— Mari tuturkan kisah
Bulan sendiri di halaman
Bagai kakek dermawan
Bertongkat panjang
Bersandar pada pagar rendah
Dan besok
Besok tuturkan pada ibumu

Sekali terasa panca indera
Gerhana dan awan dan cahaya
Pada bayangan dan tunggul tubuhku
Sendiri sepi

Pohon, rumahku
Kamar dengan jendela terbuka

Ketika fajar datang ke kamar ibu
Dia bangun sendiri dari mimpi pagi:
— Semalam anakku sungguh
Cintakan bulan.

Sala, ulangtahun 1950
Puisi: Dongeng Bocah dan Bulan
Puisi: Dongeng Bocah dan Bulan
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Catatan:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
Baca juga: Puisi Ucapan Selamat Ulang Tahun