loading...

Puisi: Burung dan Para Perahu Kecil...

Burung dan Para Perahu Kecil...


Menghadapi angin,
Menggantung di udara.
Di tepi barat pantai ini,
Sekelompok burung merasakan apa itu merdeka.

Terbang ke sana dan kemari,
Mendesak diri melawan yang tidak terlihat.
Terbang, dan tetap kembali...
Ke tepi pantai ini, tempat mereka merasa diterima.

Sebuah perahu kecil yang juga terlihat,
Kepalanya mengarah padaku...
Serta merta,
Dan aku tahu itu juga akan menghilang.


Sebuah titik yang tertelan cakrawala,
Mereka menyentuh lebih banyak isi peta.
Sebuah titik yang tertelan cakrawala,
Mereka merasakan lebih banyak isi dunia.

Lebih dariku...

================================= 
Puisi: Burung dan Para Perahu Kecil...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Burung dan Para Perahu Kecil..."

Read more

Elegy: Setidaknya kita bisa berteman...

Setidaknya kita bisa berteman...

Dengan semua penyangkalan yang terlihat seperti keharusan,
Hati yang meronta menolak firasat.
Menyurati kelemahan, memeluk ketakutan...
Luapan dari pengharapan,
Pernahkah namaku terselip dalam doa?

Terasa hati dingin membeku, saat bagianmu kembali berhembus.
Karena ada yang tertunda, saat ada yang tidak terucap...
Kalimat terakhir yang berdiam dalam hening,
Saat aku juga berhenti bertanya,
Siapa aku di hatimu?

Di sana aku terbayang, lukisan rindu yang telah kusam.
Saat kita menghabiskan malam, saat kita benci menemui pagi...
Untuk bertahan, kita telah lelah...
Untuk berharap, kita telah menyerah...

Dengan semua cinta yang kita serahkan kembali kepada takdir,
Dengan semua mimpi yang kita baringkan di dalam ketidakberdayaan...

Seakan kita akan bersama lagi,
Seakan kita akan mencintai lagi.
Saat engkau mengatakan,
Setidaknya kita bisa berteman...

Iya, setidaknya kita bisa berteman...
================================= 
Elegy: Setidaknya kita bisa berteman...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Setidaknya kita bisa berteman"

Read more

Cerita Fiksi: Tersenyum Pada Akhirnya...

Dia berjalan ke sana kemari. Dia tidak tahu ke mana harus bersandar. Dia melihat ke belakang, dia mengira ada seseorang yang mengikutinya. Tapi tidak ada siapapun. Dia berhenti, mengambil telepon genggam dari sakunya, mencari satu nomor yang sangat ingin dia hubungi. Dia menunggu... tapi tidak ada jawabannya.

"Tersenyum pada Akhirnya"

Dia mulai berjalan lagi. Dan hari semakin gelap. Dia bahkan tidak melihat bulan, terlihat seakan sepenuhnya tertutupi awan, atau tersembunyi dengan sendirinya. Entah seberapa menakutkan malam akan berjalan.

Dia tahu, dia telah membuat keputusan yang salah. Dia seharusnya tidak keluar dari rumah, dia seharusnya tetap berada di rumah dan menutup mulutnya. Tapi dia tidak bisa menahan.

Begitulah kebiasaannya. Dia selalu ingin mengatakan kebenaran; bahkan jika itu menyakitkan untuk didengar. Ibunya menghabiskan waktu dengan seorang pria yang bahkan belum pernah datang ke rumahnya.

Dan sekarang, dia sendirian dalam ketidakjelasan yang mutlak, menyesali keputusannya.

Penyesalannya yang tumbuh lebih besar dan lebih besar saat ia menoleh ke belakang dan melihat ada seorang pria, atau mungkin dua. Dia tidak begitu yakin, dia terlalu takut untuk melihat lagi seraya memastikan.

Kemudian dia merasakan adanya tangan di punggungnya, di mulutnya, di matanya. Dia berteriak sangat keras... tapi bahkan dia tidak bisa mendengar suara apapun yang keluar dari mulutnya sendiri. Dia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

Dia tau begitulah akhirnya, dan dia tersenyum.
Read more

Puisi: Kita Adalah Sama...

Kita Adalah Sama...

Melihat dari kita,
Yang membentuk diri kita.
Membalut nama di balik kita,
Setelah kita dilahirkan.

Tidakkah itu mengherankan;
Kita diperuntuk untuk saling mengenal...

Mata yang sama, hidung yang sama,
Telinga yang sama, mulut yang sama.
Tapi nama untuk membedakan;
Hal yang membuat kita lupa, bahwa kita adalah sama.

Palestina dan Rohingya, hanya bingkisan contoh kecil;
Kita berperang; membunuh diri kita sendiri,
Kita mencaci; meremehkan diri kita sendiri.
Kita lupa, bahwa kita adalah sama.

Kita hanya berbeda,
Karena kita lelaki.
Kita hanya berbeda,
Karena kita wanita.

Kita hanya berbeda,
Karena kita berkulit hitam,
Karena kita berkulit putih.
Karena kita...

Hal yang membuat kita lupa,
Bahwa kita adalah sama.
================================= 
Puisi: Kita Adalah Sama...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi: Kita Adalah Sama"

Read more

Cerita Konyol: Berhati-hatilah dengan keinginan anda...

Seorang pria masuk ke dalam sebuah restoran dengan seekor burung unta mengikuti di belakangnya, dan saat ia duduk, datanglah pelayan menanyakan pesanan mereka.

Pelayan: Mau pesan apa, tuan?
Pria: Saya pesan kentang goreng dan sprite.
Pelayan: Dan burung unta?
Burung Unta: Saya pesan yang sama.

Beberapa waktu kemudian pelayan tersebut kembali dengan pesanan, "semuanya adalah Rp 70.000, tuan". Pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan uang yang pas untuk pembayaran.

Keesokan harinya, pria dan burung unta itu datang lagi ke restoran tersebut.

Pelayan: Mau pesan apa, tuan?
Pria: Saya pesan mie rebus dan teh hangat.
Pelayan: Dan Burung Unta?
Burung Unta: Saya pesan yang sama.

Sekali lagi pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan uang yang pas untuk pembayaran.

Hal tersebut kemudian terlihat seperti menjadi rutinitas setiap hari, sampai tibalah pada hari minggu.

Pelayan: Mau pesan apa, tuan?
Pria: Saya pesan kentaki dan jus stroberi.
Pelayan: Dan Burung Unta?
Burung Unta: Saya pesan yang sama.

Beberapa waktu kemudian pelayan itu datang keluar dengan pesanan dan mengatakan, "semuanya adalah Rp 95.000, tuan". Sekali lagi pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan uang yang pas untuk di letakkan di atas meja.

Untuk sekarang, Pelayan tersebut tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya, "permisi tuan, bagaimana bisa anda selalu mengeluarkan uang dari saku anda dengan hitungan yang pas, padahal pesanan anda selalu berbeda-beda?".

Pria itu menjawab, "beberapa tahun yang lalu saya sedang membersihkan loteng dan saya menemukan sebuah lampu tua. Saat saya menggosok lampu tersebut muncullah seorang jin dan menawarkan dua keinginan... keinginan pertama saya adalah jika saya harus membayar apapun yang saya beli, saya bisa membayarnya dengan hanya memasukkan tangan saya ke dalam saku saya, dan jumlah uang yang benar akan selalu bisa saya keluarkan dari saku saya".

Pelayan itu sangat kagum, "Sungguh permintaan yang sangat cerdas... padahal kebanyakan orang pasti akan berharap satu milyar atau sesuatu... dan permintaan anda sungguh di luar dugaan saya, permintaan anda itu akan membuat anda sekaya yang anda inginkan untuk seumur hidup anda!".

Kemudian Pelayan itu bertanya lagi, "satu hal lagi, tuan... ada apa dengan burung unta itu?".

Pria itu menghela nafasnya, berhenti sejenak, dan lalu menjawab, "keinginan kedua saya adalah seorang wanita tinggi... dengan kaki yang panjang... yang setuju dengan semua yang saya katakan!".

"Berhati-hatilah dengan keinginan anda"

Read more

Elegy: Rangkuman Sebuah Foto

Rangkuman Sebuah Foto...


Hembusan senyum seadanya,
Wajah terbiasa berlamunan.
Hati berderu,
Dihanyutkan riak penyesalan.

Wajah senang menawar senyum,
Hati meratap 'tak berdaya.
Di sini, mengharap bahagia sanubarinya.
Di sini, meneriakkan kamu di labirin hidup.

Aku benci mengenangmu,
Aku benci memikirkanmu.

Karena semua tentangmu,
Membuatku benci dengan hidupku,
Membuatku benci dengan ketidakmampuanku,
Membuatku benci dengan diriku.

Aku benci cintamu,
Aku benci keyakinanmu,
Aku benci semuamu,
Aku benci kamu...

================================= 
Elegy: Rangkuman Sebuah Foto...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Elegy Rangkuman Sebuah Foto"

Read more

Puisi: Duka Sang Bulan...

Duka Sang Bulan...


Saat GELAP menertawakan BUMI, tiba aku berteman bintang.
Namun engkau telah pulang, diharuskan batas kerjamu yang habis.
Dan aku, aku harus kembali merindu.

Kadang aku berpura, mengeja bingkai urutan palsu,
Menghibur diri dengan pujian ala bintang,
Dengan hati yang masih mengingatmu telah pulang.

Kau tidak pernah, dan tidak akan menyinggahiku,
Itulah alasan sesekali aku berdiri di ufuk barat,
Menunjukkan padamu, bahwa aku menyita waktu demimu.

Namun di sana terangku meredup,
Dihina angkuhnya merahmu.
Dari berdiri...
Lelah 'ku mengatakan...

"Hatiku mencintaimu;
Dengan segenap ikhlas yang aku bawa.
Maka jika engkau memiliki sempat,
Lihatlah aku walau sekejap.
Karena aku telah bertahun mencintai...
Dan akan bertahun lagi menghabiskan waktu untuk mencintai".

Lalu aku pulang darimu, membawa harap yang melebur.
Berteman lagi dengan bintang yang siap memuji.
Berpura lagi...
Bahwa aku bisa hidup tanpamu.

Hanya kenyataan yang begitu buruk,
Karena bahkan...
Aku bersinar dengan cahayamu.

Walau kau terlalu damai dengan siangmu,
Aku terlalu sendu dengan malamku.
'Tak pun 'ku pungkiri...
Aku selalu mencintaimu.

Ulah kesombongamu; yang aku salahkan pada ikhlasku.
Bertahun-tahun aku menunggumu...
Bertahun-tahun aku menunggumu...
Matahari.
================================= 
Puisi: Duka Sang Bulan...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"puisi duka sang bulan"
Read more

Puisi: Aku Tau (Maafkan aku)

Aku Tau (Maafkan aku)


Aku tau...
Kesalahan terbesarku, aku terlalu sibuk dengan diriku...
Dan kau selalu berpura terbiasa.

Aku tau...
Kau ciptakan banyak alasan untukku,
Kau relakan banyak hal demiku,
Dan aku masih seperti diriku.

Aku tau...
Suatu saat kita akan berjalan saling membelakangi.
Dan itu hanya aku yang akan menyesali.
Dan itu pun sudah terlalu sering aku maklumi.

Maka maafkan aku yang 'tak cukup mampu merubah diri,
Maafkan aku...

================================= 
Puisi: Aku tau (maafkan aku)
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Aku Tau"

Read more

Puisi: Kenangan Yang Berhembus...


Kenangan Yang Berhembus...


Engkau yang berkilah seperti angin,
Bertempat kemana pun engkau ingin bertempat.
Dan saat engkau telah lelah,
Selalu ada yang engkau tinggalkan.

Semisal apa yang tertinggal di sini;
Sebingkis bayang yang dipeluk hati sendu,
Sepintas harap yang ditata riang,
Sebuah gelombang janji yang berteriak semakin keras.

Hanya berpura peduli, aku tidak menoleh,
Semampu aku berpaling, mencari sisi untuk berpegang...
Dimana langit tidak akan jatuh,
Dimana mimpi tidak akan pernah menunggu.

Engkau berhembus, menunggu raga tidak menua.
Sifat dasar sebuah nyawa, dan akan selamanya membagian.
Begitulah dirimu...
KENANGAN.

Aku akan mengisi hatiku,
Dengan khayalan yang masih aku timang-timang,
Dengan mimpi yang sanggup aku terawang,
Dengan ambisi yang akan 'ku paksa berkibar.

Huft...

Di sana ada ruang,
Tempat yang masih milikmu;
Semakin sempit setiap harinya,
Karena engkau kian berhembus.

Mengenang kasih...
Engkau pernah memanggilku kasih!
Mengenang sayang...
Engkau pernah memanggilku sayang!

Dan selama engkau berhembus;
Azali selalu menguatkan langkah.
Selama itu pula aku akan memeluk tanya kosong,
Dimana kasih dan sayang itu?

Dan lalu aku tertawa... hah...

Ada daun yang jatuh, ada ranting yang patah.
Ada warna yang kelam, ada waktu yang terus berjalan.
Untuk apa aku peduli ???

Engkau yang berhembus,
Seolah engkau bukan penyebab.
Begitulah dirimu; dengan semua keistimewaan.
Begitulah dirimu; dengan semua keindahan.

KENANGAN.

================================= 
Puisi: Kenangan Yang Berhembus...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kenangan Yang Berhembus"

Read more

Puisi: Kerinduan Ini

Kerinduan Ini

Rindu...
Yang membawa langkah kakiku
Menelusuri jejak jejak yang ditinggalkan waktu

Rindu...
Yang membawa diriku
Termangu di ujung jalan rumahmu
Yang telah ditinggalkan bertahun lalu.

Rindu...
Yang membuat jemariku
Menuliskan rangkaian kata untukmu
Yang entah di mana keberadaanmu.

Sungguh kerinduan ini selalu datang dan pergi, tiba tiba menyerbu
Menguatkan segala kenangan-kenangan masa kecil dulu
Betapa polosnya fikiran kanak-kanak aku dan kamu
Bahkan tanpa 'ku sadari bahwa kamu telah tertanam dalam benakku yang paling dalam
Membuatku selalu kembali padamu, pada kerinduanku akan kamu, memutar balik memory aku dan kamu

Biarlah, akupun tak keberatan karena ketika aku lelah dengan kenyataan
Masih ada satu tempat yang bisa melerai, yakni kenangan tentangmu!
================================= 
Puisi: Kerinduan Ini
Oleh: Thiara Olla
=================================
"Puisi Kerinduan Ini"
Read more
loading...
loading...