TRENDING NOW

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tahta dan Harta

Sejak dahulu leluhur mengingatkan daya sihir tahta dan harta
Mereka adalah dua sekawan yang antara lain senantiasa dekat
dengan kita bahkan bagaikan penari cantik yang berlenggak-
lenggok di depan mata.
Tahta dan harta senantiasa menyebar aroma harum yang bisa
menghanyutkan dan penuh bius yang membuat kita berlupa.

Ibarat mata sudah terpejam, tahta dan harta mampu membuat
mata segera terjaga, bahkan dalam tidur mereka masuk ke dalam
mimpi seraya membisikkan rayuan manis dan indah.
Iblis memanfaatkan daya pesona tahta dan harta untuk meruntuh-
kan iman para pemegang amanah.

Tahta dan harta amat memikat, selalu menyunggingkan senyum,
dan kerdipan matanya nakal dan genit pula, tak mau kalah.

Tahta dan harta adalah barang halal.
Namun bila mereka membuat mabuk dan rakus, jadilah musuh
dalam selimut, berubah jadi buldoser yang menggiring ke jurang.

Duhai tahta dan harta, kau penuh daya pukau.
Ah, seyummu, cubitanmu, rayuan mautmu, membuatku berlutut.

Jakarta, 2 Pebruari 2012
Puisi: Tahta dan Harta
Puisi: Tahta dan Harta
Karya: Aspar Paturusi


Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
HUJAN

kau sangat riang melihat langit cerah
segera kau jemur pakaian basah

ketika masuk rumah
terasa sangat gerah
keringat basahi tubuh

hujan turun

Jakarta, 22 September 2010
Puisi: HUJAN
Puisi: HUJAN
Karya: Aspar Paturusi

Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Puisi Kocak
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
BADIK

jangan sentuh lagi badik kakek
kini tenang tergeletak di peti
genggamlah sebilah badik perkasa
penakluk segala masalah

badik itu tidak terselip di pinggang
tapi harus kukuh tegak di hati
badik itu bernama badik iman
pamornya berukir takwa

inilah badik yang harus kau miliki
tak ada darah di tajam ujungnya
hanya berhias cinta kasih
senyum buat saudara seiman

badik iman berpamor takwa
cabut dari hati segera
bila ada duka musibah

Jakarta, 13 Juli 2010
Puisi: BADIK
Puisi: BADIK
Karya: Aspar Paturusi

Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Puisi Lucu
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
MBAK JAMU
(buat hari ibu)

kau gendong bakul jamu
menyusuri gang demi gang
jauh dari kampung halaman

botol-botol tersusun rapi
kunyit, beras kencur, madu
juga bermacam jamu bungkus

ada sari rapet dan jamu perkasa
rematik, encok, anyeng-anyengan
masuk angin dan kepala puyeng
berkumpul jadi satu di bakulmu

kau hanya hafal jenis jamu
tak tahu kisruh parah negeri
makanya tak sebungkus pun,
jamu anti maling berdasi

mbak jamu, ke rumah esok pagi
bawakan aku sebotol biang kunyit
agar hilang nyeri ulu hati

Jakarta, 21 Desember 2011
Puisi: MBAK JAMU
Puisi: MBAK JAMU
Karya: Aspar Paturusi


Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Puisi Doa Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sihir Kekuasaan

jauh sudah kau takluk pada sihir kekuasaan
tampak kau sangat asyik di sangkar emasnya
wajah senyummu kini menjadi angker bagiku
masih teringatkah kau pada sahabat lamamu

sihir kekuasaan sebar racun sejak jaman purba
para penguasa bertekuk lutut dalam rayuannya
sungguh nyaman meletakkan pantat di kursinya
sungguh tak nyaman tersingkir paksa dari istana

sihir kekuasaan bisa mengubah kawan jadi lawan
seyum lekat pada wajah, di baliknya ada tembakan
banyak janji depan publik, tak terbukti sesudahnya
sihir kekuasaan perlahan membuatmu jadi pelupa

hanya dari jauh kusaksikan tingkah sihir kekuasaan
bila engkau kian takluk, akan tiba ujung yang getir

sihir kekuasaan,
racun apa kau sebarkan
membuat mabuk dan lupa daratan?

Jakarta, 5 Maret 2011
Puisi: Sihir Kekuasaan
Puisi: Sihir Kekuasaan
Karya: Aspar Paturusi


Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Puisi Ngakak
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia

(1)

Selalu, setiap perjalanan keluh kesah itu
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan nama-nama gang.

Orang-orang, selalu seperti memulai hari
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluh kesah.
dan selalu gagal membaca arah.

(2)

Ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
: sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patung-patung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenang-senang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hiruk-pikuk kotamu yang angkuh.

(3)

Kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,
kutunggu sepanjang rel dan bangku-bangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
Kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.

(4)

Kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerak-gerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimana-mana kudengar
cerita-cerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.

(5)

Sebuah surat kutemukan di Malioboro,
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalase-etalase
dan di antara tumpukan barang-barang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayang-bayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke mana pun.

(6)

Rindu kadang menyakitkan
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
Seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumah siput.
Seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.

Yogya, 1999
"Puisi: Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Serenada Senja

Senja beringsut di balik kabut
bulan mulai berdandan
sembari senandungkan nyanyian sunyi
lenakan para pemimpi
dan aku,
masih meniti dermaga retak
di antara deburan laut yang mengantarkan
ingatanku pada sebingkai rindu.

Magelang, 2015
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Serenada Senja
Karya: Joshua Igho

Baca juga: Puisi Islami
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan Batu ke Danau

Lewat Tarutung dan Siantar
ada dua jalan baru
menuju danau

Aku tahu...

Lewat Tarutung dan Siantar
ada dua jalan batu
menuju kau

Aku tahu...

Dari Taruntung dan Siantar
ada dua jalan rantau
ke pangkuanmu

Aku lalu...

Dari Taruntung dan Siantar
ada dua jalan rindu
Teringat kau

Aku tak tahu...

"Puisi Sitor Situmorang"
Puisi: Jalan Batu ke Danau
Karya: Sitor Situmorang

Baca juga: Puisi Remaja
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pantun Tanjung Katung

Tanjung Katung airnya biru
Kalau boleh menumpang mandi;
Hidup selalu memendam rindu
Bertemu denganmu meski sekali.

Tanjung Katung airnya biru
Tempat gadis berenang-renang;
Hidup selalu menanggung rindu
Hanya padamu aku terkenang.

Tanjung Katung airnya biru
Berkecimpung simbur-simburan;
Hati selalu ingat yang satu
Kian dekat dengan kuburan

Tanjung Katung airnya biru
Lautnya dalam langitnya jernih;
Hati selalu ingat padamu
Semakin kuat terpaut kasih.
  
"Puisi: Pantun Tanjung Katung (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pantun Tanjung Katung
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kematian Kepompong

Engkau ikut dalam arak-arakan itu. menuju
rumah cinta yang tak berpintu. aku yang mengusung
dan kita gali liang buat diri sendiri. doa-doa lupa
dibacakan: tiba-tiba terucapkan amin yang
berkepanjangan.

Engkau melayat: tubuhmu sendiri, tersesat, saat
bertapa. tetapi pesta memang teramat sederhana.

kita berdua minggir ke sudut-sudut, dan bercakap
entah apa. tiba-tiba kita bercinta. bersetubuh
dengan kekosongan, alangkah sia-sia. kubelit
nafasmu dengan juntaian rambut dari ludahku.
tetapi kita bercinta: melengkapkan kenikmatan
senggama. sebelum musim berziarah keburu tiba.

kita berdua minggir. sampai tepi yang paling tepi.
dan engkau tersesat saat bertapa. tiba-tiba. tapi,
sungguh, kita sempat bercinta: dalam temparatur yang gila!

1991
"Puisi: Kematian Kepompong (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kematian Kepompong
Karya: Dorothea Rosa Herliany