Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dengan Angin

Percakapan bukan ombak yang gelisah
Aku menggigil karena malam memanggilmu.  
“Kita tak bisa melarikan diri dari takdir.”
“Tapi aku tak paham apa takdirku.”

Belum selesai. Apakah percakapan ini penting?
Kita haus bicara seperti minum air laut.
Kita tidak berhenti di sini. Kita teguk sepuasnya
Kita berada tepat di bawah jembatan
Yang menghubungkan takdirmu dan takdirku.

Udara beku dan lembab. Aku terbangun
Aku terbangun pagi hari tercekik oleh batukmu.
Aku terjaga sepanjang malam. Aku takut suara laut.
“Mari, kuajari memasuki pintu-pintu deruku.”
“Tidak, aku temukan pintu-pintuku sendiri.”

Tanpa pernah tidur semenit pun
Sepanjang malam kau tebas pepohonan.
Sepanjang malam kau memacu kuda liarmu
Ringkiknya suara-suara ganas menggelepar di udara.

Kita sudahi percakapan ini. Aku tak punya apa-apa.
Jangan lepaskan kuda-kudamu di laut luas
Setelah tengah malam, tinggalkan aku menatap langit.
Aku ingin hari yang berbeda, percakapan yang berbeda
Mencari pintu takdirku, membaca tanda-tanda langitku.

Puisi: Dengan Angin
Puisi: Dengan Angin
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi Surat dari Ibu
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berlari di Batas Sepi Kesabaran

jangan sembunyikan air matamu...

Angin pasir berlari menjelajah tepi kesabaran.
Desir terlambat 
Jalan raya mendesis Biar
Sebab sesuatu dari percakapan itu akan meledak
Di akhir bulan Di akhir kata
Di akhir di awal
Sebuah negeri teramat sabar.

Kita adalah mimpi di malam sejarah panjang.
Mengikuti perjalanan pedang.
Lahir dari sebutir peluru Berjuta ledakan
Bisik pilu matahari
Di liang kubur bayi-bayi.
Siapa pewaris alam semesta ini?

Di batas sepi kesabaran
Debu membuka matanya yang basah.
Sekarang musim anai-anai
Hujan menyusut bersama dingin air.
Peragu
Dengarkan desah gunung
Angin guntur yang marah
Tahun-tahun yang berduka. 
Tangan siapa gerangan yang menguak langit
Menambatkan angannya di pelabuhan kabut?

Tangan-tangan yang tersengat terik matahari
Yang legam karena pembuluh darah pecah
Yang mengeras karena mulut menganga
Dalam dengung dalam pahit dalam kulai.
Kulai yang dikepung cemas
Nyanyian ibu dan anak-anak tak bersuara.

Bagi mereka, kalian seperti keledai pekak
Yang menghilang ke dalam genangan minyak
Mengejar kilau di ufuk subuh
Dituntun oleh gelap 
Sujud depan patung-patung perak.

Tak gentarkah kalian pada kilau pedang?
Demikian yang akan mereka lakukan
Jika hari berakhir Jika malam berakhir
Jika lelap berakhir
Dalam guguran bintang-bintang.

Puisi: Berlari Di Batas Sepi Kesabaran
Puisi: Berlari di Batas Sepi Kesabaran
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi Tolong Menolong Abdul Hadi WM
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penyair

Karena kau menyebutnya lapar
Karena kau menyebutnya mawar
Air mengalir ke sebalik pegunungan
Melintasi padang liar
Melintasi matahari pertama melepas malam.

Ketika lapar meniti  jembatan roh
Rahasia terhalus pembuluh darah
Mawar tidur di udara terbuka kata-katamu.
Lapar itu persegi Kamar tak berdinding
Mawar, batu, mandi cahaya matahari.

Ketika lapar meneguk anggur dari mawar
Mawar menjalin putik sari dari lapar.
Lapar memetik api dari mawar cahaya
Roh yang sama berkilau di pertapaan  kosmik
Struktur molekul yang kau sebut puisi.

Mawar datang menyodorkan isyarat
Nasib melepuh di bawah terik matahari.
Kau menafasi lapar jadi mawar
Dengan nafas buatan kata-katamu
Getar pertama yang telanjang di rahasia makna.

Puisi: Penyair
Puisi: Penyair
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi Tigris
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penantian Nuh

kau tentu lelah mencari jejakku
kuhidangkan sepasang cinta, kapal kayu
sepiala airbah. kesendirianmu yang renta
dan purba telah kaupahatkan
di puncak bukit

kini kau menunggu seorang pengiman
yang akan mengabarkan betapa aku ada
dan sorga perlu dibela. tapi seorang asing datang
menera setiap jengkal batu dan menyimpulkan
“di sini pernah terbaring ia tanpa pengiman
sebelum masa kelahiran semesta alam”

kau menangis dan mencium tangannya.

1995
Puisi: Penantian Nuh
Puisi: Penantian Nuh
Karya: Zen Hae

Baca Juga: Puisi tentang Dagang
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Enigma

Teruslah berlari
Berlari ke mana kau suka
Teruslah mencari
Mencari ke seluruh penjuru buwana

Kutahu, semakin jauh kau berlari
Semakin dalam dirimu terluka
Kutahu, semakin suntuk kau mencari
Semakin luput kau genggam makna

Lalu
Kau kan terdampar di ruang hampa dalam dirimu
Terjebak perasaan dan pikiranmu sendiri
Kemudian digelayuti gelisah terus-menerus

Di saat itu pula kau ditimbuni banyak pertanyaan
Namun hanya sedikit jawaban yang kau dapat
Hingga kau tak tahu lagi, apa keinginanmu.

1998
Puisi: Enigma
Puisi: Enigma
Karya: Sri Hartati

Sri Hartati lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 3 Desember 1954 dan wafat 7 Maret 2001. Alumnus Arsitektur Lenskap Universitas Trisakti Jakarta. Kegiatan di bidang sastra dimulai dengan mengarang
cerpen dan puisi pada tahun 1981. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah media cetak, antara lain Harian MerdekaPos Kota MingguBisnis Indonesia Minggu. Karya-karyanya telah dibukukan dalam Trotoar (1997)Monolog Tengah Malam (1997)Gerbong (1998)Orang-orang Sakit (1999), dan Equator (2011).

Sri Hartati pernah menjadi wartawan tabloid Fokus Makassar. Selain itu juga pernah mengasuh bulletin intern seni budaya Koridor yang diterbitkan oleh Yayasan Cempaka Kencana.

Selain menggeluti sastra juga berkreativitas di dunia seni rupa. Ia banyak menghasilkan lukisan sebagai media ekspresi bagi puisi-puisinya, dengan kata lain puisi dan lukisannya merupakan refleksi timbal balik. Pada tanggal 25-31 Oktober 1997 pernah menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta dengan tema Puisi dalam Kanvas.

Baca Juga: Puisi tentang Bukit
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Keran

tak perlu kau perbaiki keran itu
biarkan ibu terus menunggu
air menetes
sambil menjahit tubuhnya
dengan garis-garis jelujur
dan rapat tisikan
atau biarkan ia membayangkan
air mengalir deras dalam kepalanya
menghanyutkan ihwal yang lama tersimpan

teruslah bicara
tentang kewajiban dan aturan kehidupan
agar tak jadi prasasti
atau fosil
yang ingin ditemukan dan dimaknai

tak perlu kau perbaiki keran itu
cerita-cerita telah mampat
tak ada yang dapat dicatat
amarahku menjelma
langkah tergesa yang sunyi
tertinggal di lemari
di bawah kursi
serta dalam ruang-ruang
yang tak mampu kumasuki

mungkin kau pernah ada
pada ranjang di sudut kamar
atau boneka beruang
yang sebelah matanya telah hilang
tapi aku tak ingin tahu
tak akan bertanya

kita sedang main sandiwara
tanpa plot dan sutradara.

Bandar Jaya, 2004
Puisi: Keran
Puisi: Keran
Karya: Nersalya Renata

Baca Juga: Puisi tentang Cermin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sungai Mississippi

1
“Mesin, berikan kartu nasibku hari ini”
kataku sejam lalu
sewaktu menekan tombol sebuah kotak
Tapi yang meluncur ke luar
sebuah kapal es krim. Begitu sempurna.

Dengan kapal itu, kini
kulayari Mississippi. Sesat
di antara penumpang lain
yang tak kukenal. Bercakap
campur aduk
mabuk
semaput
saling beradu gelas
bayangan mereka tindih menindih dalam kaca:
“Minum, ini anggur dari cairan otak orang Indian!”

Minum, baru sejam lalu aku meminta
kartu nasibku pada sebuah kotak es krim
Wajahku yang aneh menempel pucat di kaca
awal musim dingin
Menempel pucat di daun yang terhimpit
di bawah sepatu seorang tua
yang meludah seenaknya
di tepi jalan di taman-taman. Awal musim dingin
Belahan bumi yang lain
Cuaca yang lain. Mengapa bumi tak rata
agar matahari dapat membagi cahayanya?

Baru sejam lalu aku menginginkan kartu nasibku
Setelah makan kenyang. Setelah membanggakan
Borobudur
yang kini sedang dipugar pada seorang komunis yang
sinis
Setelah melihat daun rontok terseret sepanjang jalan.
Mississippi, masa lalu adalah kawah bawah laut
Dan anggur tak akan mampu mengusir rasa takut.

2
You’re crazy! Tapi kita sama saja
tak paham diri sendiri
menolak menerimanya
berlari
ke halaman suatu senja, berdiri
mengangakan mulut ke langit
meramal gelagat cuaca
memandang ke dua garis asap melengkung jingga:
orang-orang berangkat
entah tiba atau tidak
Namaku Mark Twain. Aslinya: Samuel Clemens. Kau?

Aku? Baru sejam lalu aku bicara dengan seseorang
tentang Borobudur. Tentang bumi yang tak ceper.
Tentang
mereka yang lahir di suatu tempat tapi tak lagi memiliki
tempat. Tentang salju dan angin puyuh. Tentang roh,
kelahiran, nasib dan kematian. Tentang diriku yang retak
bagian dalamnya dan selalu menjenguk ke luar.
Sebab inginku
lahir sebagai gunung
yang dapat menghancurkan tubuhnya
dan setiap pecahan menjadi kristal api.

Atau
jadi RASA mengalir dalam udara
meniup ke paru-paru
berkata hirup yang dalam
Hirup Hirup
Lalu mereka pun hidup.
Jadi aku yang memberi hidup
Aku yang meniupkan roh
Aku yang menyeberang di siang lengang
menyapa bayang-bayang
yang setia mengikut raga.
Tapi nyatanya
Aku tak pernah tahu
kapan aku akan lahir dari rahim yang mana
Dan begini jadi orang yang sukar
akrab dengan diri sendiri. Yes, I’m crazy memang
but I’m not a suicidal person.

“Tapi kau belum menyebutkan namamu”
Puisi: Sungai Mississippi
Puisi: Sungai Mississippi
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Sajak karya Sri Hartati
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lelaki Tua di Taman

Tak hirau silau cahaya lampu taman
Lelaki itu berlayar di laut dengkurnya.
Plangkton-plangkton biru
Mengembara di kelam malam.

Senyap mengendap 
Rerumputan lembab.
Embun 
Tak henti mengalir dari getar
kelopak pucat 
Mata air kehilangan
Dan menemukan.
Tak siapa memiliki siapa  
Tak ada lambai yang sampai.

Setiap tempat memahat kisahnya sendiri
Berdetak di jantung waktu
yang berlari
Bernyanyi di misteri batu
Bagian asing dari rindu
Dari tidur  Dari lelap  Dari debu diri
Yang tak henti rindu kekal matahari.

Menjelang pagi lelaki itu terbangun.
Seekor merpati hinggap di ranting pohon
Warna bulunya berbalur cahaya samar.
Ia mendengar suara-suara mengalir
Seperti deru angin di padang pasir
Seperti deras arus mengukir karang pantai.

Kini, bangku itu menyimpan desah dingin
Dengkur lelaki tua
Mimpi-mimpi dan harapan tak lekang
Tentang sebuah taman 
Bayang lembut elang melintas di jendela.

Puisi: Lelaki Tua di Taman
Puisi: Lelaki Tua di Taman
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi tentang Gelandangan
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Bawah Cahaya Bulan

Seorang lelaki berdiri di bawah pohon.
Ia saksikan ular melata
Air mengalir ke dataran yang lebih rendah. 
Ketika cahaya bulan menyempurnakan
air liur ular
Menjadi buah  
Menjadi kabut yang menguap dari bumi
Ia mengucapkan kata-kata bisu perpisahan.

Di bawah cahaya bulan yang sama
Ia berbaur dengan jutaan orang
Di sebuah dataran bulat sempurna.
Seorang perempuan duduk di bawah pohon
Gelisah seolah berada di ruang
keberangkatan.
Dia melihat spesies unik berhamburan
Datang dari sudut malam
Menghilang ke lembah hening.

Di bawah cahaya bulan yang sama
Lelaki itu berbaring di pangkuan isterinya.
Terdengar suara air berdesir
Meliuk seperti ular. 
Kerisik langkah kaki menggetarkan jembatan
Menggugurkan karat besi
Seperti buah jatuh di musim kemarau.

Lelaki itu mendongeng tentang sebuah taman
Tentang sungai jernih yang mengalir
di taman itu
Tentang seorang lelaki yang tertidur nyenyak
Dan tulang rusuk yang berbicara kepada ular. 

Di bawah cahaya bulan  
Di bawah guguran kerak besi
Debu tanah terkutuk
Tumbuh menjalar dalam perutnya
Bepijar seperti pedang menyala.

Ketika pijar tembaga meremas ulu hatinya
Lelaki  itu bertanya kepada isterinya:
" Dimana diriku? " 
Disusul igauan tentang seorang lelaki berbulu
Berusia sembilan ratus tiga puluh tahun
Dan cahaya yang meninggalkan tanah.
Tentang hening panjang terbentang luas
Tentang wangi meninggalkan kelopak bunga.

Puisi: Di Bawah Cahaya Bulan
Puisi: Di Bawah Cahaya Bulan
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi tentang Gadis
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak di sebuah Tatto

Kita lelap berpuluh tahun
Nyenyak berkeringat
Seperti pisau dapur berkarat
Bermimpi masuk sorga 
Sebelum matahari terbit.

Tapi sebenarnya kita ini apa?      
Mau kemana?
Kita pergi ke satu tempat
Kita datang dari tepi langit
Diiringi doa-doa dari altar api.
Kita lahir dari bara 
Jadi nyala
Tapi kita takut bicara.
Kita lahir dari panas matahari
Dari gemuruh badai
Tapi takut lebur bersamanya.

Kita sadar siapa yang datang.
Anjing-anjing menghormatinya
Melangkah tenang tak bersuara
Memeras tetesan madu 
Dari jantung kita
Dari sumber garam paling asin
Di sumsum anak-cucu kita.

Bangun! 
Ambil semua benda-benda tajam 
Beri mereka nyawa  Beri mereka jerit
Menggila dalam keterjagaannya.             
Sajak di tatto menyebar di jalan-jalan
Roboh di jalan-jalan
Darah di jalan-jalan
Lolong anjing di jalan-jalan.

Subuh menyingkap  kristal embun
Melompat ke cahaya matahari
Lembah angin    Lembah batu
Menyebar di jalan-jalan. Bangun!
Yang roboh Yang terkapar
Sajak di tatto menyalakan api
Keberanian  berlari di asap liar.

Puisi: Sajak di sebuah Tatto
Puisi: Sajak di sebuah Tatto
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi tentang Catur