Rakyat Adalah Sumber Ilmu


Di dalam masyarakat:
Pujangga adalah roh.
Pemerintah adalah badan.
Tanpa roh
negara adalah robot.
Tanpa badan
negara adalah hantu.
Roh dan badan
tak bisa dipisahkan.
Keduanya harus saling berimbangan.
Kalah atau menang
itulah irama kematian.
Imbang berimbang
itulah irama kehidupan.

Pendeta Raja itu tidak ada.
Pendeta Raja itu palsu.
Pendeta Raja itu penindas dan penjajah.
Pendeta Raja itu deksura.
Pendeta Raja itu merusak keseimbangan.
Merusak hubungan antara manusia.
Maka, di dalam masyarakat:
Pujangga adalah roh.
Pemerintah adalah badan.
Dan Pendeta Raja
bukanlah orang atau lembaga
Pendeta Raja adalah rakyat.

Oleh karena itu Rakyat adalah guru.
Adalah sumber ilmu.
Rakyat adalah gua
di mana Kresna dan Arjuna
bertapa.
Rakyat adalah samudra luas
di mana Sang Bima
bertemu Dewa Rucinya.

Janganlah kita menunggu Ratu Adil.
Ratu Adil bukanlah orang.
Ratu Adil bukanlah lembaga.
Ratu Adil adalah keadaan
dimana ada keseimbangan
antara roh dan badan.

Wahyu Cakra-ningrat tidak ada.
Wahyu Cakra-ningrat, Wahyu Pendeta Raja,
adalah impian deksura.

Syahdan
di dalam alam hanyalah ada
Satu Wahyu.
Ialah Sabda.
Dan Sabda adalah citra budi Tuhan.
Di dalam masyarakat manusia,
Sabda memiliki sembilan bayangan.
Itulah yang disebut sembilan wahyu.
Wahyu ahli agama.
Wahyu ahli alam.
Wahyu ahli kesenian.
Dan lalu:
Wahyu ahli obat-obatan.
Wahyu ahli pendidikan.
Wahyu ahli pertanian dan peternakan.
Selanjutnya:
Wahyu Raja.
Wahyu menteri dan panglima.
Dan akhirnya: Wahyu hakim.

Di dalam masyarakat manusia
kesembilan wahyu itu
tidak bertempat di gunung
atau hutan keramat,
tidak di dalam pusaka,
tidak pula di dalam kitab-kitab rahasia;
melainkan
berada di dalam kalbu rakyat.
Dan jalan ke dalam kalbu rakyat
adalah melewati naluri rakyat.

Naluri rakyat ini
bukanlah adat istiadat.
Karena adat istiadat adalah badan.
Fana dan sementara.
Naluri rakyat ini
Adalah roh yang hidup
yang senantiasa menjelma
di dalam pertumbuhan-pertumbuhan.

Oleh karena itu
bila ingin bertapa
di dalam kalbu rakyat
harus memiliki laku:
Mengolah kepekaan akan pertumbuhan.
Pertumbuhan dihayati
akan mengungkapkan daya hidup.
Daya hidup diungkapkan
menjadi cinta kasih.

Tanpa mengolah cinta kasih
tidak mungkin akan sampai
kepada kalbu rakyat.

Mengolah cinta kasih
haruslah meninggalkan
pamrih tentang diri kita,
berarti:
menjadi ning.

Begitulah:
di dalam masyarakat manusia
kalbu rakyat
adalah kiblat utama
di dalam membina keseimbangan
antara roh dan bahan.


TIM, Jakarta, 12 Juli 1975
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Rakyat Adalah Sumber Ilmu (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Rakyat Adalah Sumber Ilmu
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top