Aksara yang Memanjat Ayat

(1)
Berbaringlah di suatu batu selebar bukit
di sudut gua, sebelah pohon tak bernama
tanahnya gandum, mataharinya dingin
lalu gantung bau sepatumu di sungai, dan
kau boleh membuka mata setelah lebam

Berangkatlah Rabu legi, di arah angin ke tujuh
Di telapak jari Ibumu, ikatkan benang hitam
Sebelum kau cuci dengan kembang mayat.
Pelan-pelan, ciumlah ujung kakinya, pipinya,
Juga tangan kanannya. Tenggaklah air suci
dari rapal mantra kaki Ibumu, jika tersisa
tuangkanlah ke dalam botol, sebagai bekal

(2)
Petunjuk selanjutnya:
Dalam perjalanan, kau tak boleh menatap ke depan
Miringkanlah lehermu 23 cm ke kanan atau 14 cm ke kiri
daun-daun akan merayumu untuk berhenti, setiap derap langkah
kakimu dibebani pecahan piring dapur dari langit. Kuatkan hatimu

(3)
Setelah kakimu tuntas menjadi duri beling
Bersiap-siaplah menuju alamat pembawa pesan
Tubuhmu menjadi ringan seperti abu untuk terbang
Suarumu seruling merdu melebihi album Bob Dylan
Dan tepat seperempat perjalanan, kau akan menemui
sapi. Sapi coklat yang akan menunjukkan tempat yang
kau tuju, untuk mengurangi beban kakimu. Tunggangilah

(4)
Sapi penunjuk jalan di mana kau akan menemukan aksara
Ingat! Dalam perjalanan hanya air basuh ibumu sebagai bekal
Lebih baik kau mati dari pada meminta-minta makan pada orang,
makanlah seadanya, Tai sapi atau buah rambutan di pinggir hutan

(5)
Kau akan menghadapi tujuh musim di arah mata angin
Mendung merah, hujan kelapa, kabut hitam,
dan pelangi tanpa warna
tabahlah!

(6)
Ada sisa musim yang aku dan kau, tak tau
Di musim itu, kau akan menemui tulang-belulang
Dan binatang yang menakutkan, ular bertubuh gepal
Berkaki lima, ekor dan kepalanya berjumlah seribu

 
2017-2018
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Aksara yang Memanjat Ayat
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top