Matahari Pejam

Serasa aku tak berada di kampung sendiri
Matahari telah lama pejam. Lidahku
kelu menghafal nama-nama sungai, kota,
dan jalan

Di sini begitu telanjang. Mataku luka!
Laut yang memuntahkan beribu gelombang
Seakan membawaku ke tengah lautan
Begitu jauh. Amboi! Mana jalan pulangku?

Kaukah yang menyimpan kasurku? Rumah yang
menidurkan ketentramanku mengapung
Bagai selancar dihidupkan gelombang:
Timbul dan tenggelam

Anak-anak. Tak usahlah membaca zaman
Hidup di sini begitu kejam
Terlunta-lunta di antara pasir
Dan kafe-kafe yang dihidupkan
oleh botol-botol alkohol
Kuta, Juni 1998
Puisi: Matahari Pejam
Puisi: Matahari Pejam
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Kumpulan Ungkapan Bahasa Indonesia
Loading...

Post A Comment:

0 comments: