Gerimis Kotamu

aku lihat ketawamu merambat
pada wajah lusuh penjual sayur dan kuli pasar
menubruk merdu tawar menawar
dan makian gadis belia
yang pinggulnya dicubit lelaki kasar

kita makin jauh
dan kau masih suka aneh

gerimis kotamu begitu biru
kau tahu deretan pohon asam itu
sering bikin penyair mabuk cinta
saat gemerincing dokar meregang sekarat
menyeru namanya

perempuan perempuan pasar sejauh malam
tak pernah jenuh menjunjung rinduku padamu
:bau amis ikan, gurih nasi jinggo, tadahan tangan
pengemis buta, dan belahan payudara penjual sayur
makin menjadi racikan hangat dalam gelas kopiku

kau manis jika lagi merengut
perempuan perempuan di tikungan jalan
suatu waktu akan menjual tubuhnya
lantaran perut tergigit lapar
dan wajah minta dipoles kosmetika
harga-harga terus membubung ke langit
dan raja tua yang tak tahu malu itu
masih terus berkuasa
janji-janji konyol semakin memenuhi ruang udara

gerimis kotamu mendadak kelabu
si terkutuk sibuk menyusun siasat-siasat licik
yang akan menghancurkan dirinya sendiri

gerimis kotamu makin kelabu, manisku.

1998
Puisi: Gerimis Kotamu
Puisi: Gerimis Kotamu
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Pengkhianatan
Loading...

Post A Comment:

0 comments: