Puisi: Sajak Tungku Karya: Wayan Jengki Sunarta
Sajak Tungku

berparuh-paruh waktu tungku itu tidak kau nyalakan
kayu bakar yang bertahun-tahun kau kumpulkan
dari hutan jiwamu telah habis mengabu

hutan-hutan tandus menjerit, jiwamu menjerit
memanggil-manggil mata air, kubangan kata-kata
yang melulu air mata
aku tahu kau kini seonggok tanah tua
yang ditinggalkan para peladang
tanganku gemetar membuka lembaran-lembaran buku
sejarah yang sedang rindu menulis namamu

seperti arwah nenek moyang
aku melihatmu terperangkap
dalam sejarah berjuta-juta tahun
aku pun terjerat dalam lubang
sejarah yang kau ciptakan

tungku itu rindu kau nyalakan
bakar saja seikat puisi, dirimu yang sisa
agar jiwa tak sia memfosil
kayu bakar telah menjadi arang
kita perlu kehangatan, kekasihku
hidup adalah kehangatan
yang tak semua orang mampu merasakannya

saatnya, aku rindu mendengar lenguh angin perawan
ketika rerimbun hutan hijau terusik
namun gema kematian mengambang dalam tungku
yang tak kau nyalakan itu
karena lapar karena dahaga
tangan-tangan menjulur dari dalam tungku
mencekik akar-akar nafasmu
menghisap, menjilat bukit-bukit mungilmu
yang bertahun-tahun tandus
kehilangan air mata cintanya

1998
Puisi: Sajak Tungku
Puisi: Sajak Tungku
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Penyair
Loading...

Post A Comment:

0 comments: