Sumber: Horison (Desember, 1971)
Catatan Admin:
Puisi Mercon Malam Takbiran ditulis pada tanggal 29 November 1970, kemudian dimuat di majalah Horison, edisi Desember 1971. Dari segi bentuk, puisi ini digolongkan sebagai soneta. Puisi ini merupakan sindiran terhadap orang-orang yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Namun, pada saat Idul Fitri mereka malah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hakikat puasa; membakar mercon di malam takbiran yang sangat membahayakan masyarakat.
Analisis Puisi:
Puisi "Mercon Malam Takbiran" karya Bahrum Rangkuti menciptakan gambaran yang intens dan penuh semangat terkait dengan momen akhir Ramadhan, khususnya malam takbiran.
Kemeriahan Momen Takbiran: Puisi menggambarkan momen meriah dan penuh semangat yang terjadi pada malam takbiran. Penggunaan kata-kata seperti "mercon," "meriam bambu," dan "bunga api" menciptakan gambaran kemeriahan dan kegembiraan yang terpancar dari perayaan ini.
Panas dan Keintensan: Deskripsi "Panas tak tertahan sejak siang" menciptakan suasana panas yang mewakili keintensan emosi dan semangat yang mendalam. Ini mencirikan kehangatan perasaan dan kegembiraan yang melanda setiap sudut kota.
Visualisasi Kehebohan: Bahrum Rangkuti memberikan gambaran visual kehebohan dengan menggambarkan mercon, meriam bambu, dan bunga api yang "menggelegar dari gedung dan jembatan tinggi." Ini memberikan kesan visual tentang keindahan dan kebesaran perayaan.
Kritik Terhadap Keseriusan Beragama: Puisi menyiratkan kritik terhadap pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadan. Dengan menggambarkan "nafsu dikekang rajin mengaji, doa, dan sembahyang malam hari," penyair menyoroti keagamaan yang bersifat sementara dan hanya terjadi selama momen-momen tertentu.
Perbandingan dengan Kehidupan Sehari-hari: Dengan menyebutkan "setan memburu," puisi ini merujuk pada kehidupan sehari-hari di tengah kesibukan yang tak terhenti. Perbandingan ini dapat menggambarkan bahwa kehidupan sehari-hari dan momen agama terjadi secara simultan.
Pertanyaan Filosofis: Penyair mengajukan pertanyaan filosofis terkait dengan perjuangan dan arti hidup dengan menciptakan pertanyaan, "Apakah semua ini bukan pelambang?" Ini menantang pembaca untuk merenung tentang makna kehidupan dan upaya perjuangan yang diartikan melalui momen-momen tertentu.
Bahasa dan Ekspresi Kuat: Puisi ini ditulis dengan bahasa yang kuat dan ekspresif. Bahasa yang digunakan memperkuat gambaran dan emosi yang ingin disampaikan oleh penyair.
Puisi "Mercon Malam Takbiran" menciptakan gambaran yang hidup dan penuh semangat tentang momen akhir Ramadhan dan malam takbiran. Bahrum Rangkuti berhasil menggambarkan kehebohan perayaan ini sambil menyiratkan pesan kritis terkait dengan pelaksanaan ibadah dan kehidupan sehari-hari.
