Puisi: Sajak dalam Sembilan Bagian (Karya Sapardi Djoko Damono)

Sajak dalam Sembilan Bagian

(1)

Yang getir tak pernah tertunda:
lanskap dalam darah
gemuruh senantiasa;
lalu ledakan, begitu saja,
ketika pada hari baik bulan baik
ia ditetapkan sebagai musafir.

Anak laki-laki tak berhak menangis,
kata ibunya ketika ia pulang
kalah main gundu. Pagi ini
di depan cermin
dibetulkannya letak dasinya,
dieratkannya agar tidak disindir
sebagai pengemis.
Segeralah berangkat, cermin itu
tak lagi mengenalmu. Getir tak tertunda,
lanskap: di padang pasir
seorang anak laki-laki menangis
ditinggalkan ibunya. Tak ada mata air,
hanya setetes air mata, setetes saja.
Selebihnya: darah yang tetap gemuruh
sehabis ledakan.

(2)

Segeralah berangkat, Kitab tua itu
telah menjelma cermin retak
dengan pantulan cahaya warna-warni
di sebuah gudang tua. Getir tak tertunda.

Ia tetap membetulkan dasi
di depan cermin – ia tak lagi mengenalmu,
percayalah. Ia menarik napas panjang
dan menghembuskannya, tak didengarnya
suara, gemanya mental di cakrawala
ketika anak laki-laki itu menangis
di gurun, dengan setetes air mata –
setetes saja: tidak diperlukan air di sini,
tidak ada pohonan di sini,
tak ada sepi – kecuali di sela-sela
darah yang menjelma lanskap itu.

(3)

Kaudengar yang setetes itu? Ia masih
membetulkan ikatan dasinya
di depan cermin. Akan dikatakannya padamu
segala yang akhir-akhir ini
mampat pada pertanyaan. Matahari
pagi membentur sudut-sudut
dan tepi-tepi cermin dengan desah
tertahan. Berangkatlah saja,
jangan menunggu yang lumpuh itu.

Di pinggir lanskap itu disaksikannya
begitu banyak orang mengucapkan selamat
tanpa ia dengar suaranya.
Di pinggir lanskap itu: tangan-tangan dilambaikan,
topi-topi dilepas layaknya ada jenazah lewat
diiringi nyanyian, dilantunkan dari Kitab
yang selama ini masih disimpannya
dalam kenangan. Masih disimpannya:
ia tak berhak melepaskannya.

(4)

Ia suka menggambar,
ingin merekam laki-laki yang satu itu
tetapi gagal selalu:
di kaca retak yang sering berembun,
di pintu rumah, di buku tulis, di api, di asap,
di tanah yang basah sehabis gerimis,
di udara, di langit yang selalu berombak –
semua sia-sia.

Ia suka membuat patung
ingin membuat patung laki-laki yang satu itu
meskipun akan sia-sia saja –
tapi ia suka merasa bahagia
karena pernah punya keinginan
yang tidak pada tempatnya,
karena setidaknya punya impian
untuk menyandingkan yang di Sorga
dengan yang menyatu dengan Tanah.

Ia suka membayangkan dirinya
dilahirkan di sebuah dipan tua
yang putih, di kamar yang bersih
ketika bintang-bintang muncul
di timur dan segerombol kurcaci
menari-nari dan bernyanyi-nyanyi
mengitari rumahnya malam itu.

(5)

Ia telah ditetapkan sebagai musafir
dan di tahun Nol harus memulai
perjalanan itu, begitu keluar dari gua
ketika dadanya serasa pecah
oleh desakan kata demi kata
letupan demi letupan yang bergetar
di dua belah benaknya.

Ia sudah ditetapkan sebagai musafir
dan harus berkhotbah
ditemani satu dua tiga sahabatnya
yang dengan cermat mengulang-ulang
yang dengan tepat mencatat
segala yang disampaikannya.

Sekali lagi dikencangkannya
dasinya, ditatapnya sekeping cermin itu.
Lamat-lamat ia dengar
malaikat menyanyi – Bergegaslah, Musafir,
bergegaslah ke kota itu. Sungguh, ia tidak bisa
membayangkan dirinya seorang pedagang
menuntun onta, tidak bisa membayangkan
dirinya dukun yang menghidupkan kembali
orang mati. Ia tetap berada di depan cermin
sambil terus sibuk membetulkan
letak dasinya.

(6)

Ia menarik lalu menghembuskan napas
lega : bentuk-bentuk asing bergerak ke sana
ke mari dalam lagu yang memampatkan pagi
dan hari pun bergegas seperti ada
yang suaranya melenting di cakrawala,
Berangkatlah segera. Ketika bangun subuh tadi
ia merasa kosong, dan ketika azan bagai buih
ia yakin ada yang mengajaknya bercakap
tentang jiwa yang melenting-lenting
di atas air selokan ketika teman-temannya
melemparkan pecahan demi pecahan genting
di permukaannya. Hari sudah sore, ia harus pulang.

“Pulanglah, tak usah membawa
jiwa apa pun.” Untuk apa pula? Ada alun-alun
di pinggir kampung, mereka berjanji menemuinya
di sana untuk main bola, dan ia suka
meletakkan jiwanya di rumputan yang luas,
tak ingin membawanya pulang kembali.

Alun-alun itu terbentang membelah rumahnya
dan kota yang harus dicapainya.
Pada tahun Nol.

(7)

Kau capek, tentu, tapi berangkatlah. Ia hanya tahu
inilah jalan itu, yang tidak boleh berujud apa pun
kecuali lurus. Ia meluruskan dasinya,
makin sengit benturan-benturan cahaya
di cermin; dicobanya menemukan jiwa,
yang dulu melenting-lenting di air selokan,
di sela-sela kepingan-kepingan cermin
yang tampaknya tak lagi mengenalnya,
(yang tampaknya tak ingat lagi bayangan
pasukan gajah, onta, dan kuda yang mengepung
kota tua itu.) Berangkatlah. Ia membayangkan
sebuah kota rempah-rempah, bukan gurun.

(8)

Ia masih saja membetulkan letak dasinya
sambil mengingat sepucuk anak panah
lepas dari busurnya, yang di tengah jalan
masih membayangkan tangan
yang menarik talinya, sesudahnya: kosong –
dan di akhir perjalanan bergetar
di sasaran yang Satu itu, lalu diam. Sempurna.

Cermin tak pernah mengisahkan apa pun
tentang peristiwa itu kepadanya, tidak juga
tentang angin yang terbelah
dan menyiulkan suara, seperti
zikir. Seperti memanggil dirimu sendiri.

(9)

Ia membetulkan ikatan dasinya. Segeralah.
Subuh tadi ia bangun, merasa
sebuah rusuknya tak ada. Ia cemas kalau-kalau
ada yang mengetuk pintu
dan berkata, “Aku tak mengenalmu.”

Semalam dikunyahnya nama itu
lalu dimuntahkannya di siut dingin
yang lewat bersama gerimis, ia kunyah
lagi nama itu hingga nina bobok jam dinding
mengajaknya menafsirkan dongeng purba
tentang rusuk yang hilang
tentang bayangannya yang suka mengetuk
pintu hanya untuk bilang, “Kau tak mencariku.”

Gelembung sabun itu sangat pelahan naik,
ia di dalamnya, sebagai tokoh rekaan.

Di atas: langit yang suka mencurigai
menatapnya, awan – si pembawa berita,
seekor burung berkendara gelombang udara;
di bawah: rumah itu juga.

Ya, rumah itu juga. Dipincingkannya matanya:
rumah itu juga! Darah itu juga.

Gelembung sabun itu sangat pelahan naik
dan pecah: ia merasa masih berada di dalamnya
sambil mengeratkan ikatan dasi.

Berangkatlah saja. Sejak kapan ia mengenal
cermin yang di depannya itu? Sejak kapan pula
cermin itu tak lagi mengenalnya?
Pada hari baik bulan baik
ia ditetapkan sebagai musafir.

Anak laki-laki itu kalah main gundu.

Puisi Sajak dalam Sembilan Bagian
Puisi: Sajak dalam Sembilan Bagian
Karya: Sapardi Djoko Damono
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar