Puisi: Surat dari Yogya (Karya Joko Pinurbo)

Puisi "Surat dari Yogya" karya Joko Pinurbo adalah sebuah refleksi tentang kehilangan, perubahan, dan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.
Surat dari Yogya

Syamsul, kekasih kita, tiba-tiba raib entah ke mana.
Pada malam terakhir ia terlihat masih tertawa
bersama Saut, temannya minum bir dan bercanda.
Bahkan ia sempat mengantar sepasang turis 
melihat-lihat korban gempa.
Setelah itu ia tinggalkan begitu saja becaknya
di depan rumahnya yang porak poranda.

Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa.
Banyak yang terasa baru, segala yang lama
mungkin akan tinggal cerita,
dan kita tak punya waktu untuk berduka.
Banyak yang terasa musnah, atau barangkali
kita saja yang gagap untuk berubah,
seakan hidup miskin adalah berkah.
Entahlah. Aku hanya lihat samar-samar
sarung Syamsul berkibar-kibar di depan rumah.

Suatu malam becak Syamsul datang ke rumahku:
"Apakah mas Syamsul ada di sini?"
Kubetulkan celanaku, kurapikan sajak-sajakku:
"Syamsul masih ada. Ia tidak ke mana-mana.
Syamsul sudah menjadi nama sebuah kafe
yang baru saja dibuka. Maukah kau kuajak ke sana?"

2006

Analisis Puisi:

Puisi "Surat dari Yogya" karya Joko Pinurbo adalah sebuah refleksi tentang kehilangan, perubahan, dan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.

Kejutan dan Kehilangan: Puisi dimulai dengan kejutan mendadak tentang kepergian Syamsul, kekasih yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Penyair mengekspresikan rasa heran dan ketidakpercayaan terhadap peristiwa ini, yang diwakili oleh gambaran Syamsul yang masih tertawa pada malam terakhirnya.

Perubahan Lanskap Kota: Penyair menggambarkan perubahan besar-besaran dalam lanskap kota, dengan kotanya yang akan berubah menjadi plaza raksasa. Hal ini mencerminkan dinamika perkembangan kota yang terus berubah dan mungkin merubah segalanya, bahkan kenangan yang lama.

Refleksi tentang Kehidupan: Puisi ini menawarkan refleksi tentang perubahan dan kehilangan dalam kehidupan sehari-hari, serta ketidakpastian yang menyertainya. Ada kesadaran tentang ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan segalanya, termasuk takdir dan arah hidup.

Metafora Becak dan Kafe: Becak yang ditinggalkan oleh Syamsul di depan rumahnya menjadi metafora tentang kepergian dan ketidakpastian. Namun, pada akhirnya, penyair menawarkan harapan dengan menciptakan sebuah kafe yang baru dengan nama Syamsul, menunjukkan bahwa meskipun kehilangan bisa terasa besar, kehidupan akan terus berlanjut dan berubah.

Pertanyaan tentang Identitas: Melalui dialog dengan becak, ada pertanyaan tentang identitas dan peran seseorang dalam menghadapi perubahan. Meskipun Syamsul telah pergi, namanya tetap ada dalam bentuk kafe yang baru, menunjukkan bahwa kehadirannya tetap berdampak pada lingkungan sekitarnya.

Puisi "Surat dari Yogya" karya Joko Pinurbo menggambarkan perubahan, kehilangan, dan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan gambaran yang kuat dan narasi yang menggugah. Melalui refleksi tentang kepergian Syamsul dan perubahan kota, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang arti kehidupan dan bagaimana kita merespons perubahan yang tak terduga.

Puisi: Surat dari Yogya
Puisi: Surat dari Yogya
Karya: Joko Pinurbo
© Sepenuhnya. All rights reserved.