Puisi: Tahi Lalat (Karya Joko Pinurbo)

Puisi "Tahi Lalat" karya Joko Pinurbo mengajak pembaca untuk merenungkan tentang arti cinta, perubahan, dan kehilangan dalam kehidupan.
Tahi Lalat

Pada usia lima tahun ia menemukan
tahi lalat di alis ibunya,
terlindung bulu-bulu hitam lembut,
seperti cinta yang betah berjaga
di tempat yang tak diketahui mata.

Kadang tahi lalat itu memancarkan cahaya
selagi ibu lelap tidurnya.
Dengan girang ia mengecupnya:
"Selamat malam, kunang-kunangku."

Ketika ia beranjak remaja
dan beban hidup bertambah berat saja,
tahi lalat itu hijrah ke tengkuk ibunya,
tertutup rambut yang mulai layu,
seperti doa yang merapal diri
di tempat yang hanya diketahui hati.

Disingkapnya rambut si ibu,
diciumnya tahi lalat itu, "Maaf,
sering lupa kuucapkan amin untukmu."

Akhirnya ia benar-benar sudah dewasa,
sudah siap meninggalkan rumah ibunya,
dan ia tak tahu tahi lalat itu pindah ke mana.

"Jika kau menemukannya,
masihkah kau akan mengecupnya,
akankah kau menciumnya?" si ibu bertanya.

Ah, tahi lalat itu telah hinggap
dan melekat di puting susu ibunya.

2011

Sumber: Baju Bulan (2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Tahi Lalat" karya Joko Pinurbo adalah karya yang penuh dengan makna dan simbolisme.

Simbolisme Tahi Lalat: Tahi lalat dalam puisi ini digambarkan sebagai simbol cinta, perlindungan, dan perubahan. Pada awalnya, tahi lalat tersebut ditemukan di alis ibu, melambangkan kehadiran yang hangat dan menghibur. Namun, seiring waktu berlalu, tahi lalat tersebut berpindah ke tengkuk ibu, menandakan perubahan dan perjalanan kehidupan.

Perjalanan Hidup dan Perubahan: Puisi ini menggambarkan perjalanan hidup seorang anak yang tumbuh dewasa dan hubungannya dengan ibunya yang semakin berubah seiring waktu. Perubahan tempat tahi lalat dari alis hingga ke tengkuk ibu mencerminkan perubahan dinamika hubungan mereka seiring berjalannya waktu.

Hubungan Emosional antara Anak dan Ibu: Hubungan antara anak dan ibu dalam puisi ini dipenuhi dengan kehangatan, cinta, dan kesetiaan. Anak tersebut menyayangi tahi lalat ibunya dengan sepenuh hati, bahkan ketika ia tumbuh dewasa dan harus meninggalkan rumahnya.

Kesedihan dan Kehilangan: Pada akhir puisi, ketika ibu bertanya apakah anak akan mencium tahi lalat itu jika menemukannya, ada rasa kesedihan dan kehilangan yang tersirat. Tahi lalat tersebut melambangkan kenangan dan ikatan emosional yang terjalin antara ibu dan anak, yang mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula.

Kedalaman Makna dan Emosi: Melalui gambaran tentang tahi lalat dan hubungan antara anak dan ibu, puisi ini menghadirkan kedalaman emosi dan makna yang menggugah. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan tentang nilai keluarga, cinta, dan kehilangan dalam kehidupan.

Puisi "Tahi Lalat" karya Joko Pinurbo adalah sebuah karya yang memikat dengan penggunaan simbolisme yang kuat dan pengungkapan emosi yang mendalam. Dengan menggambarkan hubungan antara anak dan ibu melalui gambaran tentang tahi lalat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang arti cinta, perubahan, dan kehilangan dalam kehidupan.

"Puisi: Tahi Lalat (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tahi Lalat
Karya: Joko Pinurbo
© Sepenuhnya. All rights reserved.